Gus Yusuf: Awam Jangan Terjebak! Muktamar Bukan Politik, Tapi Adu Mekanik Keilmuan
JOMBANG – Bagi awam yang menyaksikan jalannya Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, apa yang terlihat mungkin hanya perang kubu dan rebutan kekuasaan. Tapi menurut Gus Yusuf Lirboyo, ada yang lebih dalam dari sekadar politik. Di mata para ulama, ini adalah medan adu mekanik keilmuan—sebuah pertarungan nalar dan metodologi berpikir tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh mereka yang benar-benar menguasai tradisi keilmuan NU.
"Muktamar bukan perang kubu. Ini panggung adu logika. Yang tidak paham akan tersesat," begitu kurang lebih pesan yang disampaikan oleh Gus Yusuf Lirboyo, yang juga dikenal sebagai "inteligen gaib" yang menjaga keamanan Muktamar dari dimensi lain.
Ribetnya Proses Pemilihan Ketum dan Rais Aam
Proses pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam PBNU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang akhirnya disahkan melalui voting pada Sabtu malam (29/8/2026) memang memiliki alur yang sangat rumit. Dari hasil voting yang berlangsung lebih dari lima jam, dari total 552 Daftar Pemilih Tetap (DPT), sebanyak 401 suara menyetujui perubahan mekanisme menjadi AHWA, sementara 150 suara mempertahankan sistem one man one vote, dan 1 suara tidak sah.
Prosesnya berlapis-lapis dan hanya bisa dipahami dengan logika tingkat tinggi:
- Setiap PCNU, PWNU, dan PCINU mengusulkan maksimal lima nama calon Ketua Umum.
- Lima nama teratas diserahkan kepada Rais Aam terpilih untuk mendapatkan persetujuan tertulis.
- Kemudian dibahas bersama AHWA yang beranggotakan sembilan ulama untuk menentukan satu Ketua Umum PBNU.
- Hak memutuskan berpindah dari 552 muktamirin ke sembilan kiai dan satu Rais Aam. Muktamirin hanya punya hak menominasikan, bukan memutuskan.
Adu Mekanik Keilmuan, Bukan Perang Kubu
Muktamar bukan sekadar ajang voting atau perang suara. Ini adalah laboratorium pemikiran di mana ilmu mantiq, ushul fiqh, dan metodologi berpikir ala pesantren diuji di depan publik. Setiap dalil, setiap argumentasi, setiap keputusan diuji dengan standar keilmuan yang ketat. Bagi yang tidak paham, ini terlihat berbelit. Bagi yang menguasai, ini adalah panggung kebanggaan.
Seorang muktamirin asal Lampung bernama Raka mengungkapkan kegelisahannya: "Kami bawa orang-orang cerdas di muktamar, tapi mendadak seperti orang bodoh sesampainya di Jombang." Pernyataan ini menggambarkan betapa kompleksnya dinamika yang terjadi. Di balik hiruk-pikuk perdebatan, ada alur pikir yang hanya bisa diikuti oleh ulama-ulama yang terbiasa dengan logika dan argumentasi tingkat tinggi.
Jangan Terjebak!
Maka, jangan terjebak pada narasi permukaan. Muktamar bukan perang kubu. Ini adalah adu mekanik keilmuan para ulama. Bagi yang paham, ini adalah tontonan yang mendidik. Bagi yang tidak, jangan buru-buru menilai.
Seperti yang dikatakan Raka: "Kami bawa orang-orang cerdas di muktamar, tapi mendadak seperti orang bodoh sesampainya di Jombang." Itulah realitas Muktamar: sebuah panggung di mana mekanik keilmuan diuji di depan publik. Awam yang tak paham akan tersesat. Ulama yang menguasai akan bersinar.
Editor: Om Bin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar