Premanisme Terhadap Santri di Jombang Mengkhawatirkan
JOMBANG – Julukan Kota Santri seolah memudar seiring maraknya aksi premanisme jalanan yang mengancam keselamatan masyarakat, terutama santri dan pelajar. Rentetan peristiwa kekerasan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa Jombang sedang darurat premanisme.
Terbaru, aksi penghadangan dan pengeroyokan terjadi di depan Pabrik Camino, Desa Kedungjati, Kecamatan Kabuh, pada Minggu dini hari (16/8/2026). Rombongan pemuda usai menghadiri kegiatan keagamaan dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal yang membawa senjata tajam. Akibat kejadian ini, seorang korban bernama Muhammad Riffat Ayisy (18 tahun) asal Lamongan mengalami pengeroyokan dan motornya dibakar hingga hangus.
Teror Jalanan yang Terstruktur
Aksi ini bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan teror jalanan yang merenggut rasa aman warga Jombang. Para pelaku dengan berani membawa senjata tajam dan mengintimidasi rombongan yang melintas. Adegan ini menjadi potret kelam premanisme yang kini meresahkan warga, khususnya kalangan pesantren.
"Penghadangan ini terkesan direncanakan. Di setiap titik, para penyerang sudah menunggu dengan membawa senjata tumpul, samurai, bom molotov, hingga senjata angin. Ini bukan sekadar bentrok spontan, tapi aksi premanisme terstruktur," ujar salah satu pengurus Pagar Nusa.
📌 Fakta Mencemaskan
- Senjata yang digunakan: Samurai, senjata angin, molotov, kayu, batu
- Korban: Puluhan santri mengalami luka-luka
- Korban jiwa: Beberapa santri meninggal dunia akibat serangan
- Luka tembak: Ditemukan pada sejumlah korban
Polisi Terkesan Membiarkan, Premanisme Menguat
Yang lebih memprihatinkan, tindakan petugas kepolisian di lapangan terkesan membiarkan dan tidak mampu mengatasi situasi chaos. Meskipun rombongan santri dikawal, serangan tetap terjadi di beberapa titik. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan aparat dalam melindungi warga negara dari aksi premanisme.
"Kami sudah lihat sendiri, polisi yang mengawal juga berhenti ketika dihadang. Ini bukan soal tidak mampu, tapi terkesan ada pembiaran," ujar salah satu saksi mata.
Fakta Mencengangkan: Korban Jiwa Dilaporkan sebagai Laka
Salah satu fakta yang paling mencengangkan adalah korban meninggal dilaporkan polisi sebagai kecelakaan lalu lintas (laka), namun berdasarkan keterangan warga dan orang tua korban, faktanya adalah penyerangan. Ini menunjukkan adanya upaya menghilangkan jejak kekerasan yang justru memperkuat indikasi premanisme yang dibiarkan.
📌 Kekhawatiran Meluas
Kasus ini menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Jika santri saja bisa diserang di jalan raya dengan senjata tajam dan aparat terkesan membiarkan, lalu siapa yang aman? Premanisme mengancam tidak hanya pesantren, tapi juga keamanan dan ketertiban umum di Jombang.
Guru Besar Pagar Nusa: Kami Akan Kawal Kasus Ini
Dalam pertemuan di PP Al Bhisri, Denanyar, Selasa (18/8/2026), suasana haru menyelimuti ketika KH Muhammad Idris, Ketua Paguyuban Pencak Silat Jombang sekaligus Guru Pagar Nusa, menangis mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib anak-anak didiknya yang menjadi korban premanisme.
Gus Suprapto, Guru Pagar Nusa, juga menyatakan akan mengawal kasus ini sampai ada tindakan nyata dari kepolisian. "Kami tidak akan diam melihat anak-anak kami menjadi korban premanisme," tegasnya.
Langkah Hukum: Jika Muktamar Tiba, Kasus Naik ke Polda
Pihak LBH Pagar Nusa menegaskan bahwa mereka masih memberi ruang kepada kepolisian. Namun, peringatan tegas disampaikan:
📌 Peringatan
"Jika sampai dengan acara Muktamar NU nanti polisi tidak menyingkap fakta sebenarnya dan tidak melakukan penindakan, maka kasus ini akan dilaporkan ke Polda Jawa Timur. Ini sudah darurat premanisme!"
Dengan bukti-bukti yang sudah terkumpul, seperti video, foto, keterangan saksi, dan kesaksian korban, Pagar Nusa optimis kasus ini dapat terungkap. Mereka berharap keadilan ditegakkan dan pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Sumber: Tim Jombangasli.com
Editor: Om Bin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar