Candi Arimbi Bukan Milik Majapahit Tapi Medang Kamulan, Fondasi Bata Merah dan Relief Berkata Lain, Ini Penjelasannya!
JOMBANGASLI.COM — Selama ini, Candi Arimbi di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Jombang, disebut peninggalan Majapahit abad ke-14. Klaim itu datang dari arca Parwati yang dianggap perwujudan Tribhuwana Tunggadewi, dan relief lingkaran bersinar yang disebut "Surya Majapahit". Tapi ketika kita melihat langsung ke batu, fondasi, dan reliefnya, ceritanya berubah. Candi Arimbi bukan milik Majapahit. Candi ini milik Medang Kamulan.
Klaim Majapahit: Berdasar Arca, Bukan Prasasti
Penetapan Candi Arimbi sebagai pendharmaan Tribhuwana memang bukan tanpa dasar. Dua arca Parwati ditemukan di situs ini. Tapi perlu dicatat: tidak ada prasasti atau angka tahun di candi ini yang menyebut nama Tribhuwana, Hayam Wuruk, atau Majapahit. Penanggalan abad ke-14 adalah penanggalan relatif—berdasarkan gaya arsitektur dan asosiasi arca, bukan inskripsi primer.
Fondasi Bata Merah: Jejak Medang di Bawah Andesit
Yang justru ada di lapangan adalah bukti material yang tidak bisa diabaikan: fondasi bata merah masif di bawah susunan batu andesit. Bata merah masif adalah ciri era Medang-Kahuripan. Bata Majapahit—seperti yang ditemukan di Trowulan—diproduksi lebih tipis dan presisi.
Keberadaan bata merah di tapak paling dasar menunjukkan dua fase konstruksi. Situs ini telah berdiri sebagai kompleks suci sejak era Medang, jauh sebelum struktur andesit di atasnya dipugar.
Relief: Tidak Ada Cerita Majapahit
Jika Candi Arimbi memang dibangun pada abad ke-14 sebagai pendharmaan ratu Majapahit, reliefnya seharusnya menampilkan simbol kerajaan atau adegan epik istana. Yang ada justru sebaliknya.
Relief di kaki candi berisi ajaran Tantri—cerita binatang. Ada relief gajah di bawah pendopo, relief induk sapi dan pedet, relief makhluk hibrida penjaga hutan. Semua bercerita tentang alam Anjasmoro, bukan istana Majapahit. Bahasa visualnya bukan bahasa istana. Bahasa visualnya adalah bahasa pegunungan.
Surya Majapahit? Itu Padma-Mandala
Surya Majapahit yang otentik adalah lambang negara—berdiri sendiri, tanpa adegan naratif, sinarnya tajam dan kaku. Relief di Arimbi berbeda total: lingkaran bersinar di sana memuat figur manusia yang sedang beradegan. Ia bukan lambang otonom, melainkan Prabhamandala—halo kesucian yang menaungi adegan ritual. Di pojok-pojoknya terdapat kelopak teratai—Padma-Mandala, ciri seni Kawi abad ke-10–11.
📍 Baca Juga
- Dyah Joning Ternyata Titisan Bidadari, Buktinya Ada di Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi) Part 5
- Bedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi), Part 4: Bukan Cuma Abrahah, Medang Kamulan Juga Punya Pasukan Gajah
- Bedah Relief Arimbi, Part 3: Surya Majapahit Ternyata Tiruan? Relief Candi Arimbi Ungkap Asal-Usul Motif yang Diklaim Milik Majapahit
Relief Dharmawangsa Teguh dan Dyah Joning
Relief Candi Arimbi juga memahat kisah Raja Dharmawangsa Teguh yang memohon keturunan kepada Siwa-Parwati, hingga lahirnya Dyah Joning—putri yang namanya menjadi asal-usul Jombang. Kisah ini berakhir tragis dalam mahapralaya 1016 M, dan Airlangga disebut merenovasi Girindra Prasada serta mencetak relief Dyah Joning untuk mengenang istrinya.
Kesimpulan: Bukan Majapahit, Tapi Medang
Candi Arimbi bukan peninggalan Majapahit. Fondasi bata merah masif menunjukkan situs ini berdiri sejak era Medang-Kahuripan. Reliefnya bercerita tentang Anjasmoro, bukan istana Majapahit. Lingkaran bersinarnya adalah Padma-Mandala, bukan Surya Majapahit. Dan kisah yang dipahatnya adalah tentang Dharmawangsa Teguh, Dyah Joning, dan duka Airlangga.
Nama "Girindra Prasada" pun konsisten dengan semua ini. Giri berarti gunung, indra berarti penguasa, prasada berarti bangunan suci. Girindra Prasada adalah "bangunan suci penguasa gunung"—merujuk pada Anjasmoro. Nama ini bukan nama Majapahit. Nama ini nama Medang.
Tapi ini tidak berarti klaim Tribhuwana sepenuhnya salah. Mungkin saja Majapahit tidak membangun candi ini, melainkan hanya menyimpan abu Tribhuwana di sini saat kremasi. Sebuah penghormatan terakhir di situs yang sudah suci sejak era Medang.
Penulis: Ananta Prabhavasta
📍 Baca Juga
- Krisis Wisata Jombang: Anjasmoro Sudah Pengap, Pohon Dijarah, Otoritas Hutan Ompong, Media Memilih Diam!
- Groundbreaking Jombang Industrial Park: Investasi Raksasa di Kabuh, Jangan Sampai Warga Cuma Jadi Penonton
- Tanah Waduk Tragal Dijadikan Bancaan PNS, Warga Kedungpapar Tuntut Sertifikat Dibatalkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar