Gundukan Misterius Wonosalam: Makam Pangeran Benowo atau Bekas Tempat Ritual Calon Arang?
JOMBANGASLI.COM — Di lereng selatan Gunung Anjasmoro, tersembunyi di balik rimbunnya kebun durian dan kopi Wonosalam, ada satu titik yang oleh warga sekitar diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang pangeran. Papan namanya jelas: Makam Pangeran Benowo. Tapi semakin dalam ditelusuri, semakin banyak detail di situs ini yang tidak cocok dengan label yang tertulis di gerbangnya.
Menurut penelusuran Ki Wonodyakso, seorang ahli spiritual dan sejarah lokal yang menjaga tradisi di lereng Gunung Kuncung, serta Eyang Ananta Prabhavasta, spiritualis dan penelusur makam leluhur yang mendalami numerologi Majapahit, situs Wonomerto menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih tua dari sekadar makam Islam abad ke-16.
Klaim yang Diwariskan
Menurut cerita yang beredar di kalangan juru kunci, Pangeran Benowo — putra Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Kesultanan Pajang — meninggalkan tahtanya sekitar tahun 1590 M dan memilih menyebarkan Islam ke wilayah selatan, hingga akhirnya menetap dan wafat di Desa Wonomerto. Tiga peninggalan disebut menjadi bukti pendukung: kitab tulisan tangan, sebilah pedang, dan sebuah beduk kecil.
Namun bahkan di antara sumber-sumber yang mendukung narasi ini, konsistensi kronologisnya goyah. Sejarawan Jombang Nasrullah menyatakan tidak bisa memastikan apakah Benowo benar wafat dan dimakamkan di Wonomerto, atau justru melanjutkan perjalanan dakwahnya ke daerah lain. Kejanggalan bertambah ketika sosok yang sama juga diklaim dimakamkan di Kelurahan Benowo, Surabaya — kali ini dengan identitas ganda sebagai Syekh Abdul Halim, alias Mbah Tosari.
Yang Tidak Cocok dengan Sebuah Makam
Terlepas dari kontroversi identitas, ada detail fisik di situs Wonomerto yang lebih sulit dijelaskan lewat narasi keagamaan biasa, seperti yang dicatat oleh Ki Wonodyakso dalam penelusuran spiritualnya di kawasan Wonosalam.
Pertama, elevasinya. Kompleks makam berada di puncak sebuah gundukan, diakses lewat tangga batu yang cukup panjang. Ini tidak sesuai dengan pola situs purbakala di Jombang yang umumnya ditemukan tertimbun di dataran rendah akibat sedimentasi. Kesaksian warga setempat justru menyebut bahwa dahulu di lokasi itu terdapat struktur menyerupai candi yang sengaja diuruk.
Kedua, nisan-nisannya. Di luar bangunan utama, puluhan makam tersebar — sebagian berupa batu andesit polos tanpa pahatan. Ini di luar kebiasaan nisan makam Islam Jawa yang lazim berukir kaligrafi. Batu andesit polos justru lebih umum ditemukan sebagai material bangunan candi yang didaur ulang — pola yang sama dengan Situs Calon Arang di Gurah, Kediri, sekitar 30 kilometer dari Wonosalam.
Ketiga, populasinya. Kompleks pemakaman umum resmi desa berada di lokasi berbeda dari gundukan ini. Puluhan makam yang mengelilingi situs Benowo bukan produk alami sebuah pekuburan desa — melainkan sesuatu yang dibangun secara khusus di lokasi terpisah.
Jejak Bhairawa Tantra dari Abad Kesebelas
Untuk memahami kemungkinan asal-usul situs ini, perlu ditarik jauh ke belakang — jauh sebelum era Islam masuk ke Jawa.
Berdasarkan Prasasti Pucangan (1037 M), Jombang adalah jantung wilayah kekuasaan Airlangga, raja pendiri Kerajaan Kahuripan setelah selamat dari Pralaya Medang (1016 M). Di era yang sama, berkembang pesat aliran Bhairawa Tantra, sebuah sekte rahasia dari sinkretisme antara Buddha Mahayana dan Hindu Siwa yang bertujuan mencapai moksa (pembebasan) dengan cara yang paling singkat.
Calon Arang adalah tokoh sentral dari aliran ini. Para sejarawan sepakat bahwa cerita Calon Arang muncul seiring dengan berkembangnya aliran tantra pada masa itu, khususnya Bhairawa Tantra yang dipercaya sebagai cara yang lebih cepat untuk mencapai moksa. Dalam berbagai sumber, Calon Arang digambarkan sebagai seorang penganut sekte tantra bhairawa dari Girah (sekarang Gurah, Kediri).
Dua Lapis yang Tertimbun
Menyatukan seluruh potongan ini — keberadaan aliran Bhairawa Tantra di masa Airlangga, kedekatan lokasi Situs Calon Arang di Gurah dengan Wonosalam, serta kejanggalan fisik di situs Wonomerto — Ki Wonodyakso dan Eyang Ananta Prabhavasta menyusun satu rekonstruksi yang paling mengakomodasi semua fakta di lapangan.
Situs di Wonomerto kemungkinan besar adalah salah satu tempat yang berasosiasi dengan praktik ritual Bhairawa Tantra pada abad ke-11, ketika Jombang adalah jantung wilayah kekuasaan Kahuripan. Pasca-kekalahan Calon Arang, situs tersebut ditimbun total sebagai bentuk penyegelan atas trauma wabah yang pernah terjadi.
Berabad-abad kemudian, sekitar akhir abad ke-16, ketika Islamisasi mulai merambah kawasan pedalaman Wonosalam yang saat itu masih didominasi kepercayaan Hindu-kejawen, gundukan yang sudah lama terlantar dan dianggap wingit itu "dinetralisir" dan diberi identitas baru sebagai makam seorang tokoh Islam — entah benar Pangeran Benowo atau bukan. Puluhan makam pendamping ditambahkan di sekelilingnya — sebagian memakai kembali material batu andesit dari struktur asli yang sudah terkubur.
Yang tersisa hari ini adalah gundukan dengan tangga batu, gerbang merah bertuliskan nama seorang pangeran, dan aura angker yang diwariskan turun-temurun — dua lapis sejarah yang sama-sama pernah dikubur, saling menutupi satu sama lain selama hampir seribu tahun.
Penulis : Eyang Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar