Plafon Sekolah Rakyat Jombang Ambrol, Siswi Jadi Korban: Proyek Rp1,1 Triliun Digarap Asal-asalan!?

Kondisi plafon dan rangka baja atap Gedung Serba Guna Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang yang ambrol. (Foto: Istimewa)

JOMBANG — Ambrolnya plafon dan rangka baja atap Gedung Serba Guna Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang memantik sorotan keras. Insiden yang terjadi pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 11.50 WIB itu menimpa seorang siswi dan membuka pertanyaan besar tentang kualitas proyek bernilai ratusan miliar rupiah yang digarap PT Waskita Karya.

Kronologi Kejadian

Saat itu, Meyta Sevia Nuraini (13), siswi kelas VII A, sedang duduk di dalam Gedung Serba Guna sebelum menunaikan salat duhur. Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Plafon di atasnya runtuh dan menimpanya.

Pantauan di lokasi menunjukkan sedikitnya tiga titik plafon rusak—di sisi utara, timur, dan bagian dalam gedung. Tidak hanya material plafon, sebagian rangka baja atap juga ikut ambrol. Area kerusakan langsung dipasangi pita pengaman hitam-kuning, sementara pekerja membersihkan material runtuhan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang, Andik Minarto, membenarkan insiden tersebut. Ia memastikan korban sudah mendapat penanganan di UKS serta klinik kesehatan yang bekerja sama dengan sekolah.

"Sudah kami laporkan ke Kementerian PU agar lokasi disterilkan, supaya anak-anak tidak bermain di situ."

DPRD Jombang: Ini Tanggung Jawab Pelaksana dan Pengawas

Ketua Komisi C DPRD Jombang, M Zahrul Jihad, menilai insiden tersebut mencerminkan lemahnya kualitas pengerjaan proyek. Ia menyayangkan pembangunan yang tidak maksimal hingga menimbulkan korban.

"Kami sangat menyayangkan pembangunan tidak maksimal sehingga ada korban. Ini menjadi tanggung jawab pihak pelaksana untuk melakukan perbaikan, karena tentu masih masa pemeliharaan."

Menurutnya, kualitas bangunan yang tidak maksimal jelas mengancam keselamatan warga sekolah. Hal itu terbukti dengan tertimpanya Meyta oleh runtuhan material plafon. "Ini tentu hal yang serius," ujarnya.

Zahrul menekankan, tanggung jawab atas insiden tersebut tidak cukup hanya dibebankan kepada pelaksana proyek. Pengawas juga harus dimintai pertanggungjawaban karena memiliki tugas memastikan setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai standar.

"Tidak hanya pelaksana, pengawas juga harus bertanggung jawab. Bagaimana mengawasi proyek tersebut sampai atap itu ambrol," tandasnya.

Bukan Force Majeure

Politisi Fraksi Demokrat itu juga menolak jika kejadian ini serta-merta dikategorikan sebagai force majeure. Menurutnya, tidak ada gempa atau bencana besar lain yang menyebabkan plafon ambrol.

"Ini bukan force majeure, karena tidak ada gempa atau bencana besar lainnya. Angin memang kencang, tapi seharusnya tidak sampai membuat plafon ambrol," jelasnya.

Dengan nilai proyek mencapai ratusan miliar rupiah dan digarap kontraktor berskala nasional, Zahrul menilai kualitas pembangunan seharusnya menjadi perhatian utama. Ia menduga terdapat indikasi pengerjaan proyek belum maksimal dan meminta persoalan ini menjadi bahan evaluasi serius, baik terhadap pelaksana maupun pengawas.

"Sehingga ini ada indikasi pembangunan terkesan tidak maksimal," pungkasnya.

Proyek Rp1,1 Triliun untuk Lima Daerah

Pembangunan Sekolah Rakyat di Jombang merupakan bagian dari paket proyek lima Sekolah Rakyat di Jawa Timur yang dikerjakan PT Waskita Karya. Nilai kontrak totalnya mencapai Rp 1,165 triliun untuk lima daerah: Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, Kabupaten Jombang, Kabupaten Sampang, dan Kabupaten Tuban.

Sebelumnya, pada Januari 2026, Komisi C DPRD Jombang sudah menyoroti minimnya transparansi proyek ini. Nilai proyek khusus untuk Jombang tidak pernah diumumkan secara terbuka, dan akses media ke lokasi sempat diperketat.

Baru Dua Bulan Diresmikan

Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang mulai beroperasi pada 30 Juli 2026, menampung 270 siswa (90 SD, 90 SMP, 90 SMA) dengan sistem berasrama. Namun, kegiatan belajar mengajar sudah dimulai meski pembangunan belum rampung sepenuhnya. Progres saat itu baru sekitar 92–95 persen, dan area yang masih dibangun dipisahkan dengan garis pembatas.

Insiden plafon ambrol ini terjadi hanya sekitar dua bulan setelah sekolah resmi digunakan. Kini, pertanyaan besarnya: apakah ini murni akibat angin kencang, atau ada masalah serius dalam pengerjaan proyek yang menelan anggaran negara hingga triliunan rupiah? (*)

Editor: Om Bin

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia