Bukan Majapahit Yang Merenovasi Arimbi Tapi Airlangga, Relief Garudeya Buktinya, Bedah Candi Arimbi Part 8
JOMBANGASLI.COM — Selama ini, Candi Arimbi disebut peninggalan Majapahit abad ke-14. Tapi ada satu relief di sana yang tidak cocok dengan narasi itu: Garudeya. Relief itu menggambarkan Garuda—makhluk bersayap—sedang berbakti kepada seorang tokoh wanita. Dalam tradisi Jawa Kuno, itu adalah kisah Garuda membebaskan ibunya, Dewi Vinata, dari perbudakan. Dan relief itu bukan bukti Majapahit. Itu bukti Airlangga.
Mengapa Garudeya Menunjuk ke Airlangga?
Airlangga dikenal sebagai titisan Wisnu. Gelarnya dalam prasasti-prasasti adalah Çri Mahārāja Rake Halu Çri Lokagrāma Dharmmawaŋça Airlangga Anantawikramottunggadewa—dan dalam tradisi Jawa, raja yang bergelar demikian diyakini sebagai awatara Wisnu yang turun ke bumi untuk menegakkan dharma.
Garuda adalah kendaraan Wisnu. Dalam ikonografi Jawa Kuno, Garuda bukan sekadar makhluk mitologi. Ia adalah lambang kedekatan raja dengan Wisnu—simbol bahwa raja yang memerintah adalah penjelmaan dewa yang menjaga keseimbangan.
Jika Airlangga adalah titisan Wisnu, maka relief Garudeya di Candi Arimbi adalah cap pengakuan: bahwa candi ini berada di bawah naungan Airlangga, dan bahwa ia merenovasi situs ini sebagai bagian dari laku dharma-nya.
Untuk Apa Airlangga Merenovasi Arimbi?
Airlangga tidak merenovasi Candi Arimbi untuk kepentingan politik. Ia merenovasi untuk mengenang Dyah Joning—istrinya yang gugur dalam mahapralaya 1016 M.
Dyah Joning adalah putri Dharmawangsa Teguh. Ia menikah dengan Airlangga di Wwatan. Tapi saat pesta pernikahan, pasukan Wurawari menyerbu. Dharmawangsa dan seluruh keluarganya gugur. Dyah Joning juga gugur. Hanya Airlangga yang selamat, melarikan diri ke hutan, dan kelak mendirikan Kahuripan.
Setelah naik tahta, Airlangga merenovasi Girindra Prasada—nama asli Candi Arimbi—dan mencetak relief Dyah Joning di sana. Ia juga menetapkan bekas kota raja Medang sebagai Kota Jombang—nama yang lahir dari bunga joning yang bersimbah darah.
Relief Garudeya sebagai Penanda Renovasi
Relief Garudeya adalah penanda bahwa renovasi itu dilakukan oleh Airlangga. Bukan karena ada prasasti yang menyebut namanya, tapi karena Garuda adalah lambang Wisnu, dan Airlangga adalah titisan Wisnu. Dalam bahasa visual Jawa Kuno, memahat Garuda di candi yang direnovasi oleh raja bergelar Wisnu adalah pernyataan identitas: "Candi ini berada di bawah naungan Sang Garuda, kendaraan Wisnu, yang menjelma dalam diri Airlangga."
📍 Baca Juga
Tapi Airlangga Bukan Pembangun Awal
Airlangga bukan pembangun awal Candi Arimbi. Candi ini sudah ada sejak era Medang—fondasi bata merahnya membuktikan itu. Airlangga hanya merenovasi—menambah struktur andesit, mencetak relief baru, dan menjadikan situs ini sebagai monumen cinta untuk istrinya.
Relief Dyah Joning, relief penitisan bidadari, relief patirtan, relief Garudeya—semua itu adalah lapisan Airlangga, bukan lapisan Medang awal. Tapi fondasi bata merah di bawahnya adalah lapisan Medang—bukti bahwa situs ini sudah suci jauh sebelum Airlangga lahir.
Kesimpulan: Airlangga, Bukan Majapahit
Candi Arimbi bukan peninggalan Majapahit. Ia adalah monumen Medang yang direnovasi oleh Airlangga—raja Kahuripan yang bergelar titisan Wisnu. Relief Garudeya adalah buktinya: Garuda, kendaraan Wisnu, dipahat di sana sebagai cap pengakuan bahwa candi ini berada di bawah naungan raja yang menjelma Wisnu.
Dan renovasi itu bukan tanpa alasan. Airlangga merenovasi Arimbi untuk mengenang Dyah Joning—istrinya yang gugur dalam mahapralaya. Ia mencetak relief Dyah Joning, menetapkan bekas kota raja Medang sebagai Kota Jombang, dan menjadikan Candi Arimbi sebagai monumen cinta yang terpahat di batu.
Jadi jika ada yang masih bilang Arimbi peninggalan Majapahit, tunjukkan relief Garudeya. Tunjukkan fondasi bata merah. Tunjukkan relief Dyah Joning. Karena di batu itu, bukan Majapahit yang berbicara. Airlangga yang berbicara.
Penulis: Ananta Prabhavasta
📍 Baca Juga
- Candi Arimbi Bukan Milik Majapahit Tapi Medang Kamulan, Fondasi Bata Merah dan Relief Berkata Lain
- Dyah Joning Ternyata Titisan Bidadari, Buktinya Ada di Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi) Part 5
- Krisis Wisata Jombang: Anjasmoro Sudah Pengap, Pohon Dijarah, Otoritas Hutan Ompong, Media Memilih Diam!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar