Di Balik Keangkeran Punden Medeleg: Pu Jigrang, Penata Bumi Medang Kamulan
JOMBANG — Di Dusun Medeleg, Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Jombang, berdiri sebuah punden yang oleh warga sekitar dianggap keramat. Bata merah kuno tersusun di sana, dikelilingi pepohonan rindang yang menambah kesan angker. Warga menyebutnya Punden Medeleg. Di balik keangkerannya, tersimpan kisah tentang seorang utusan raja yang menata bumi Medang Kamulan.
Tembelang: Jantung Medang Timur
Tembelang bukanlah nama biasa dalam sejarah Jawa Timur. Pada abad ke-10 Masehi, kawasan ini dikenal sebagai Tamwlang — ibu kota pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur. Mpu Sindok, raja pendiri Dinasti Isyana, memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke sini sekitar tahun 929 M. Prasasti Turyyan mencatat kedaton Tamwlang sebagai pusat kekuasaan.
Wilayah ini berada di kawasan strategis Daerah Aliran Sungai Brantas — jalur navigasi vital sekaligus lahan pertanian subur. Dari Tembelang, Mpu Sindok membangun fondasi kerajaan yang kelak menjadi cikal bakal peradaban besar di Jawa Timur.
Dari Prambanan ke Tanah Timur
Pu Jigrang bukanlah orang Jawa Timur asli. Ia lahir dan besar di Prambanan, salah satu pusat peradaban Mataram kuno di Jawa Tengah. Di sana, ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan tradisi keraton, sastra, dan tata krama bangsawan.
Ketika Mpu Sindok memutuskan memindahkan pusat kerajaan ke timur, Pu Jigrang adalah salah satu pejabat yang berangkat lebih dahulu ke Tamwlang. Tugasnya: mendesain dan menata keraton Medang sebelum pusat pemerintahan resmi dipindahkan. Ia memetakan lahan, merancang tata ruang, dan memastikan wilayah baru siap menerima istana.
Setelah pusat kerajaan resmi berpindah, ia tetap di Tamwlang. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan Prambanan, ia dididik dengan tata krama, bahasa, dan etika keraton (subasita). Pengetahuan itulah yang kemudian menjadi modalnya saat ditugaskan menata wilayah baru. Ia bukan panglima perang yang mengandalkan kekuatan, melainkan diplomat yang mengandalkan kecakapan budaya untuk merangkul masyarakat lokal.
Sang Dūta i Hino
Dalam struktur birokrasi Kerajaan Medang, ada jabatan yang disebut Dūta i Hino — utusan resmi dari otoritas Mahāmantri i Hino, menteri utama yang menerima perintah langsung dari raja. Tugas mereka bukan berperang, melainkan menata wilayah, berdiplomasi dengan penguasa lokal, dan memastikan integrasi berjalan tanpa konflik.
Prasasti Gulung-Gulung (929 M) mencatat prosedur penetapan śīma yang melibatkan pejabat utusan (dūta) dan otoritas Mahāmantri i Hino. Prasasti Turyyan (929 M) mencantumkan struktur frasa baku birokrasi Mahāmantri i Hino dan prosedur pengiriman Dūta ke daerah. Dari sinilah kita tahu bahwa jabatan Dūta i Hino memang benar-benar ada dan beroperasi di lapangan.
Pu Jigrang: Nama yang Melekat
Salah satu utusan yang dikirim ke wilayah Tembelang dikenal dengan nama Pu Jigrang. Namanya tidak tercatat dalam prasasti — karena prasasti Jawa Kuno memang lazim mencatat gelar jabatan, bukan nama pribadi. Yang tercatat adalah perannya: menata wilayah, membuka lahan, dan menyinkronkan hukum adat setempat dengan regulasi kerajaan.
Pu Jigrang bukanlah nama sembarangan. Dalam bahasa Jawa Kuno, jigrang berarti beres, tuntas, selesai. Nama ini diduga merupakan paraban — nama panggilan yang melekat sejak lahir, merujuk pada posisi atau kondisi saat persalinan. Tradisi memberi nama berdasarkan peristiwa kelahiran adalah hal yang lumrah di masa itu.
Prasasti Anjuk Ladang (937 M) mencatat wilayah Tawlang (Tembelang) sebagai kawasan inti yang berdekatan dengan ibu kota Watugaluh. Prasasti Tengaran (935 M), ditemukan di kawasan Peterongan-Tembelang, mencatat anugerah tanah perdikan atas jasa penataan wilayah. Dari sini kita tahu bahwa kawasan Tembelang memang menjadi arena penting bagi birokrasi Medang dalam menata wilayah.
Menetap di Medeleg
Setelah menyelesaikan tugas penataan wilayah, Pu Jigrang tidak kembali ke Prambanan. Ia memilih tinggal di Medeleg — wilayah yang ia tata sendiri. Di sana ia menjadi sesepuh, panutan, dan tokoh yang dihormati warga.
Dari penghormatan itulah warga kemudian menganugerahinya nama kehormatan: Ki Ageng Gedhe. Sebutan ini lazim diberikan kepada sosok yang dianggap memiliki keutamaan, ilmu, dan pengabdian. Jadi dalam memori kolektif warga, ada dua nama untuk satu sosok: Pu Jigrang — nama asli, dan Ki Ageng Gedhe — nama kehormatan.
Tugas Pokok dan Strategi Diplomasi
Sebagai perpanjangan tangan birokrasi pusat, Pu Jigrang menjalankan fungsi-fungsi administrasi berikut:
- Diplomasi Sosial Teritorial — Mengintegrasikan pemukiman lokal ke dalam sistem administrasi Medang tanpa gejolak bersenjata, memanfaatkan pendekatan kultural dan penguasaan etika sosial.
- Demarcation & Pembukaan Lahan — Memimpin pemetaan tata ruang desa, saluran irigasi, dan batas wilayah pemukiman baru (wanua).
- Harmonisasi Hukum Kerajaan — Menyinkronkan hukum adat setempat (sukaduka) dengan regulasi hukum pusat yang dikeluarkan oleh pejabat Samgat.
Anugerah Tanah Śīma
Sebagai kompensasi atas keberhasilan integrasi wilayah Medeleg secara kondusif, istana pusat menerbitkan status Śīma (tanah perdikan). Melalui status ini, sebagian hasil panen dan pajak yang sebelumnya harus disetorkan ke keraton pusat dialihkan untuk pemeliharaan fasilitas umum, bangunan suci (dharma), serta pengelolaan kawasan Medeleg secara mandiri.
Punden Medeleg menandai titik historiografi tempat penataan administrasi dan integrasi teritorial tersebut dieksekusi oleh Dūta i Hino Pu Jigrang.
Jejak yang Tertinggal
Punden Medeleg menjadi penanda historiografi tempat penataan administrasi dan integrasi teritorial itu dieksekusi. Bata merah kuno yang tersusun di sana diduga berasal dari struktur masa lalu. Warga menjadikannya tempat nyekar — tradisi ziarah yang hidup hingga kini.
Keangkeran Punden Medeleg bukanlah sekadar cerita kosong. Ia adalah lapisan memori yang menyimpan jejak seorang utusan raja dari Prambanan yang menata bumi Medang Kamulan. Nama aslinya mungkin tak tercatat di prasasti, tetapi perannya abadi dalam ingatan warga Tembelang. (*)
Penulis: Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar