Modal Makan Gratis di Muktamar, PAN Klaim Partai Anak Nahdliyin, Ansor dan Banser Geram!
JOMBANG — Di tengah hiruk-pikuk Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Partai Amanat Nasional (PAN) melakukan manuver politik yang memanaskan suasana. Dengan mendirikan posko Teras de'PAN dan membagikan puluhan ribu paket makanan gratis, PAN mulai gencar mengkampanyekan diri sebagai "Partai Anak Nahdliyin".
Momentum muktamar yang dihadiri puluhan ribu warga Nahdliyin dimanfaatkan PAN dengan mendirikan posko pelayanan tepat di depan makam KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU. Di posko tersebut, PAN menyediakan makanan, minuman, pijat, hingga layanan kesehatan gratis. Total paket makanan yang dibagikan selama muktamar mencapai sekitar 50.000 paket.
Wakil Ketua DPW PAN Jawa Timur, Ema Umiyyatul Chusnah (Ning Ema), menegaskan aksi sosial ini sekaligus mempertegas posisi PAN yang kini diidentikkan sebagai Partai Anak Nahdliyin. Sementara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di hadapan ribuan kader di Malang secara terang-terangan memperkenalkan PAN sebagai "Partai Anak Nahdliyin".
Ansor dan Banser Geram: Jangan Cuma Rayuan Gombal!
Manuver PAN ini langsung memicu reaksi keras dari GP Ansor dan Banser Jawa Timur. Ketua PW GP Ansor Jatim, Musaffa Safril, menyatakan klaim PAN sebagai "Partai Anak Nahdliyin" harus dibuktikan melalui kebijakan nyata, bukan sekadar pendekatan politik dan simbol kedekatan.
"Kalau benar ingin merangkul Nahdliyin, jangan hanya merangkul ketika membutuhkan suara. Rangkul juga kader-kadernya ketika mereka sedang bekerja dan mengabdi kepada masyarakat. Jangan sampai di panggung disebut saudara, tetapi di lapangan justru diperlakukan seperti musuh," tegas Musaffa.
Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jatim, Zainuddin, bahkan menyebut klaim PAN sebagai ahistoris dan mengabaikan sejarah perjuangan pendiri PAN yang notabene berasal dari keluarga besar Muhammadiyah.
"Nahdliyin bukan pasar suara. Jangan begitu mudah mengklaim diri sebagai Partai Anak Nahdliyin kalau pada akhirnya Nahdliyin hanya ditempatkan sebagai instrumen politik," ujar Zainuddin.
Sorotan Nasib Pendamping Desa dan Kader NU
Kemarahan Ansor dan Banser semakin menjadi karena di sisi lain, banyak kader muda NU yang bekerja sebagai tenaga pendamping desa justru mengalami pemindahan tugas secara sepihak tanpa penjelasan jelas.
Persoalan ini menjadi lebih krusial karena Kementerian Desa dan PDT saat ini dipimpin oleh Yandri Susanto, yang merupakan kader PAN.
"Kalau PAN mengaku sebagai Partai Anak Nahdliyin, justru sekarang saatnya membuktikan. Jangan hanya mendekati Nahdliyin ketika membutuhkan dukungan politik, tetapi ketika kader-kadernya menghadapi persoalan kebijakan, mereka justru merasa tidak mendapatkan keberpihakan," tegas Zainuddin.
Musaffa menambahkan, "Kalau ingin menjadi bagian dari keluarga besar Nahdliyin, buktikan dengan kebijakan, bukan hanya slogan. Jangan jadikan Nahdliyin komoditas politik!"
GP Ansor dan Banser Jatim pun berkomitmen menjaga marwah NU dari segala bentuk eksploitasi simbol keagamaan tanpa kompromi. (*)
Editor: Om Bin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar