Prasasti Kusambyan, Kudu: Maharsi Rahyang Iwak, Guru Airlangga dan Otoritas Spiritual Kahuripan
JOMBANG — Di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Jombang, sebuah batu andesit menyimpan nama dari masa awal Kerajaan Kahuripan. Prasasti Kusambyan mencatat sosok bernama Maharsi Rahyang Iwak—tokoh yang pemujaannya menjadi bagian dari ketetapan kerajaan Airlangga.
Penduduk Kusambyan diwajibkan memuja Maharsi Rahyang Iwak setiap purnama bulan Asuji. Bunga, buah, wijen, minyak, dupa, dan wewangian dipersembahkan dalam upacara yang melibatkan para ahli Weda.
Maharsi yang Bicara dengan Ikan
Nama Rahyang Iwak menyimpan petunjuk. Rahyang adalah sebutan kehormatan bagi sosok yang telah ditempatkan dalam kedudukan sakral. Sementara iwak berarti ikan.
Dalam tradisi yang hidup di sekitar Kusambyan, Maharsi Rahyang Iwak dikenang sebagai maharsi berkaromah luar biasa. Konon ia dapat berbicara dengan ikan-ikan di Sungai Brantas. Ikan-ikan datang ketika dipanggil. Bahkan dalam kisah lain, karomahnya dikaitkan dengan kemampuan menghidupkan kembali ikan yang telah mati.
Airlangga dalam Masa Pelarian
Tahun 1016 M menjadi titik balik terbesar dalam kehidupan Airlangga. Saat berada di Wwatan dalam rangka perkawinan dengan putri Dharmawangsa Teguh, kerajaan diserang Wurawari. Dharmawangsa gugur, pusat kerajaan hancur. Airlangga yang masih sangat muda harus meninggalkan kehidupan keraton.
Prasasti Pucangan menyebut bahwa dalam pelarian itu ia bersama Narottama, guru Sri Dharmodayana Warmadewa—ayah Airlangga—di Bali. Airlangga tidak tumbuh tanpa jaringan spiritual. Ia lahir dari lingkungan kerajaan Bali yang punya hubungan erat dengan para guru dan pendeta.
Airlangga kemudian menghilang dari panggung sejarah selama beberapa tahun. Kawasan utara Brantas di Jombang menyimpan sejumlah jejak: Sendang Made, Katemas, Sumber Gurit, dan Kusambyan. Di Kusambyan inilah nama Maharsi Rahyang Iwak muncul.
Guru di Tanah Perlindungan
Bayangkan Airlangga ketika datang ke wilayah ini. Bukan sebagai raja. Bukan sebagai penguasa. Tetapi sebagai pemuda yang baru saja kehilangan keluarga kerajaan, istana, dan seluruh dunia politik yang membentuk hidupnya.
Di hadapannya berdiri seorang maharsi yang dihormati masyarakat. Maharsi Rahyang Iwak. Ia punya pengaruh atas masyarakat sekitar sungai, tempat yang dihormati, murid, pengikut, dan jaringan masyarakat yang percaya kepadanya.
Di sinilah ia menjadi lebih dari tokoh sakral. Ia menjadi guru Airlangga. Sang maharsi memberi perlindungan, tempat bersembunyi, dan bimbingan ketika Airlangga kehilangan arah.
Airlangga yang secara politik telah "mati" perlahan bangkit kembali. Dari pelarian menjadi pemimpin. Dari pangeran tanpa kerajaan menjadi pendiri Kahuripan.
Airlangga Tidak Melupakan Gurunya
Ketika Airlangga berhasil membangun kekuasaannya kembali, ia tidak melupakan Kusambyan. Wilayah itu ditetapkan sebagai sima. Dan yang paling penting: kewajiban pemujaan kepada Maharsi Rahyang Iwak tetap dipertahankan.
Setiap purnama Asuji, masyarakat tetap mempersembahkan bunga, buah, wijen, minyak, dupa, dan wewangian. Seolah-olah kerajaan baru Airlangga memberi tempat resmi bagi tradisi spiritual yang telah melindungi dirinya ketika kerajaan lama runtuh.
Ini bukan sekadar pemberian tanah. Ini penghormatan.
Iwak yang Menyeberangi Zaman
Menariknya, nama Hyang Iwak kembali muncul di masa Majapahit. Pada masa Raja Jayanegara, dikenal sosok bernama Hyang Iwak. Jayanegara menggunakan lambang minadhwajalanchana, lambang berbentuk dua ikan.
Dari Kusambyan pada masa Airlangga, hingga Majapahit berabad-abad kemudian, simbol ikan tetap muncul dalam ruang religius dan kerajaan Jawa.
Guru di Balik Kahuripan
Sejarah biasanya mengingat nama raja. Airlangga dikenang sebagai penguasa yang bangkit setelah Mahapralaya dan mendirikan Kahuripan. Tetapi perjalanan seorang raja selalu dimulai jauh sebelum ia duduk di singgasana.
Di antara mereka, mungkin terdapat seorang maharsi yang namanya tersimpan di batu tua di Grogol: Maharsi Rahyang Iwak.
Saat sebuah kerajaan mati, seorang guru menjaga kehidupan. Dan dari kehidupan itulah, Kahuripan lahir.
Penulis: Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar