Sendang Made, Patirtan Amertashanti: Tempat Melukat Dyah Suhita Ratu Majapahit
JOMBANG — Di lereng perbukitan kapur utara Sungai Brantas, Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, tersembunyi kompleks mata air kuno yang menjadi saksi pergantian zaman. Sendang Made bukan situs dari satu masa saja. Ia lapisan demi lapisan sejarah, dari Mataram Kuno, Majapahit, hingga masa Islam dan kolonial. Satu lapisan yang paling menonjol: masa Majapahit akhir, ketika Patirtan Amertashanti dibangun dan diresmikan pada tahun 1363 Saka (1441 Masehi), di bawah otoritas Dyah Suhita, Ratu Majapahit yang memerintah pada 1429–1447 M.
Lapisan Sejarah yang Menumpuk
Fase Mataram Kuno (Abad ke-10). Tradisi tutur menghubungkan Sendang Made dengan pelarian Prabu Airlangga dari serangan Wurawari. Konon ia menyamar sebagai "Mbah Joyo" dan bertapa di kawasan ini.
Fase Majapahit Akhir (Abad ke-15). Inilah lapisan paling kuat. Di kompleks Sendang Made ditemukan inskripsi beraksara Kediri Kwadrat bertahun 1363 Saka (1441 M). Tahun ini merujuk langsung pada masa pemerintahan Dyah Suhita bergelar Bhra Prabhu Stri. Di masa inilah patirtan ini dibangun dan diberi nama Amertashanti.
Fase Islam dan Kolonial. Setelah Majapahit runtuh, kawasan ini terus digunakan warga. Tradisi ziarah dan kungkum tetap berlangsung, meski maknanya bergeser.
Pembangunan Amertashanti pada 1441 M
Pada tahun 1363 Saka, di bawah naungan Dyah Suhita, kawasan Sendang Made dibangun ulang sebagai patirtan kerajaan. Struktur bata merah tebal dibangun mengelilingi tujuh mata air alami. Inskripsi tahun 1441 M dipahat sebagai penanda peresmian.
Pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah pernyataan politik dan spiritual. Setelah Perang Paregreg—perang saudara yang memecah Majapahit Barat dan Timur—Dyah Suhita membutuhkan simbol pemulihan. Amertashanti menjadi monumen rekonsiliasi: tempat air suci mengalir untuk menyucikan luka perang dan mengembalikan kedamaian negeri.
Mengapa Dyah Suhita Melukat di Amertashanti?
Pertama, pemulihan pasca-Perang Paregreg. Dyah Suhita naik takhta di tengah luka perang saudara antara Majapahit Barat dan Timur. Pemerintahannya fokus pada rekonsiliasi politik dan pembersihan spiritual atas dosa-dosa pertumpahan darah.
Kedua, pergeseran paradigma spiritual. Masa Majapahit akhir beralih dari candi-candi megah menuju pemujaan alam dan ritual air suci di lereng perbukitan.
Ketiga, panglukatan sebagai penyucian jiwa dan negara. Tujuh mata air dipandang manifestasi amerta. Bagi Dyah Suhita, melukat di Amertashanti berfungsi ganda: pembersihan rohani pribadi sekaligus ritual penyucian negara.
Tujuh Mata Air Keramat
Kompleks ini terdiri dari tujuh sumber: Sendang Drajat (penyucian derajat), Sendang Pengilon (bercermin diri), serta Sendang Payung, Kamulyan, Condong, Pomben, dan Sinden. Ketujuhnya membentuk mandala—lingkaran suci tempat manusia berkomunikasi dengan Yang Ilahi melalui air.
Amertashanti: Air Kehidupan yang Membawa Kedamaian
Amerta berarti air kehidupan. Shanti berarti damai. Amertashanti adalah "Air Kehidupan yang Membawa Kedamaian"—nama yang lahir dari luka perang dan harapan akan kembalinya kejayaan Majapahit.
Di bawah naungan Dyah Suhita, Amertashanti menjadi patirtan tertinggi di utara Brantas. Air dari tujuh sendangnya mengalir tak pernah kering, membawa pesan damai yang diukir dalam batu dan diwariskan dalam memori warga Made. (*)
Penulis : Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar