Sidang AHWA: Semua Kyai Pasrah pada Kyai Djazuli Sebab Tawadhu'. Hanya Gus Miftah yang Berani Menawarkan Diri Menjadi Rais Aam! Dimana Ajaran Adab Etika Tradisi NU???

KH Nurul Huda Djazuli (kiri) dan Gus Miftah (kanan) dalam sidang AHWA. (Foto: Istimewa)

JOMBANG – Di balik proses penetapan Rais Aam PBNU, tersimpan cerita dramatis di sidang tertutup Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang berlangsung di Tambakberas, Senin (31/8/2026).

Sembilan kyai yang tergabung sebagai anggota AHWA berkumpul untuk memilih Rais Aam PBNU. Mereka adalah KH. Nurul Huda Djazuli, TGK. KH. Nuruzzahri Yahya, AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA, KH. Miftachul Akhyar, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Anwar Iskandar, KH. Anwar Manshur, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, dan Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

Semua Kyai Pasrah pada Kyai Djazuli

Di antara sembilan nama tersebut, KH. Nurul Huda Djazuli dikenal sebagai sosok paling sepuh dan paling dihormati. Para kyai lain pun sepakat menyerahkan keputusan kepadanya. Namun, dengan penuh tawadhu', Kyai Djazuli tidak serta-merta memutuskan. Ia justru mengembalikan pilihan kepada para kyai yang hadir.

"Monggo, saya serahkan kembali kepada panjenengan semua. Siapa yang bersedia menjadi Rais Aam NU?" ujar Kyai Djazuli dengan sikap yang penuh kewibawaan.

Suasana langsung hening. Para kyai yang hadir saling menatap, namun tak satu pun berani bersuara. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena adab dan tawadhu' yang begitu kuat tertanam dalam diri mereka. Berbicara di hadapan Kyai Djazuli, apalagi menawarkan diri, dianggap sebagai langkah yang sangat berat. Mereka memilih diam dan menunggu keputusan dari sesepuh.

Hanya Gus Miftah yang Berani Menawarkan Diri

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Gus Miftah muncul sebagai satu-satunya yang berani melangkah. Dengan sikap hormat namun penuh keyakinan, ia menyodorkan diri.

"Menawi mekaten, kawulo mawon, Yai, ingkang dados Rais Aam," ucapnya.

Kyai-kyai lain tetap diam. Bukan karena menolak, tetapi karena mereka masih memegang teguh adab di hadapan Kyai Djazuli. Mereka takut jika berbicara tanpa izin dari Kyai Djazuli dianggap sebagai suul adab atau pelanggaran etika. Hening yang berkepanjangan itulah yang akhirnya menjadi penentu.

📌 Momen Penentu

"Kyai Djazuli tidak langsung memutuskan. Ia memberi ruang bagi para kyai lain. Tapi karena tawadhu', tak ada yang berani. Hanya Gus Miftah yang menyatakan kesiapan. Akhirnya Kyai Djazuli memutuskan Gus Miftah menjadi Rais Aam." — Salah satu sumber yang hadir dalam sidang

Keputusan Kyai Djazuli

Melihat tidak ada satu pun kyai lain yang menyatakan kesiapan selain Gus Miftah, Kyai Djazuli akhirnya mengambil keputusan. Dengan kewibawaan dan keadilannya, ia menetapkan Gus Miftah sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031.

Momen ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan warga NU. Di mana letak ajaran adab, etika, dan tradisi NU dalam proses ini? Apakah sikap tawadhu' para kyai justru menjadi penghalang bagi mereka untuk menyatakan pendapat di forum tertinggi? Atau justru keberanian Gus Miftah yang melanggar adab karena berbicara tanpa izin Kyai Djazuli?

📌 Fakta Sidang AHWA

  • 9 anggota AHWA hadir dalam sidang tertutup
  • Kyai Djazuli serahkan keputusan ke forum
  • Kyai lain pasrah karena tawadhu' dan adab
  • Gus Miftah satu-satunya yang menawarkan diri
  • Kyai Djazuli putuskan Gus Miftah sebagai Rais Aam

Yang jelas, peristiwa ini menjadi catatan penting dalam sejarah NU. Di satu sisi, kepasrahan para kyai menunjukkan betapa kuatnya tradisi penghormatan kepada sesepuh. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang apakah adab dan etika justru menghambat dinamika musyawarah yang seharusnya berjalan sehat.

Editor: Om Bin

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia