Strategi Licik Wurawari dan Sriwijaya Menyerang Medang Kamulan Saat Punya Gawe Pernikahan Airlangga-Dyah Joning

Ilustrasi serangan Wurawari dan Sriwijaya saat pesta pernikahan Airlangga-Dyah Joning. (Foto: Istimewa)

JOMBANG — Tahun 1016 Masehi menjadi titik paling kelam dalam sejarah Kerajaan Medang Kamulan. Di tengah kemeriahan pesta pernikahan Airlangga dengan Dyah Joning—putri Raja Dharmawangsa Teguh—sebuah serangan mendadak menghancurkan segalanya. Prasasti Pucangan mencatat peristiwa ini sebagai pralaya: kehancuran besar yang menewaskan raja dan seluruh keluarga kerajaan.

Sumber Sejarah: Prasasti Pucangan

Kisah pilu ini tercatat dalam Prasasti Pucangan (juga dikenal sebagai Calcutta Stone), prasasti yang dikeluarkan Airlangga pada tahun 963 Saka (1041 M). Prasasti ini ditemukan di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto, dan kini tersimpan di Museum Kolkata, India.

Prasasti Pucangan ditulis dalam dua bahasa: sisi depan menggunakan Bahasa Jawa Kuno, sementara sisi belakang memakai Bahasa Sanskerta. Inilah satu-satunya sumber yang memberikan catatan lengkap tentang silsilah Airlangga dan peristiwa pralaya yang mengubah peta kekuasaan di Jawa.

Siapa Dalang di Balik Serangan?

Prasasti Pucangan menyebut nama Raja Wurawari dari Lwaram sebagai pelaku penyerangan. Lwaram kini diidentifikasi berada di sekitar Ngloram, Cepu, Blora.

Namun, Wurawari bukanlah aktor tunggal. Dalam narasi sejarah yang berkembang, Wurawari disebut bersekutu dengan Kedatuan Sriwijaya di Sumatra. Kerajaan besar di selatan itu memiliki alasan kuat untuk melemahkan Medang: Dharmawangsa Teguh sebelumnya pernah menyerang Sriwijaya.

Yang paling menarik, motif Wurawari ternyata bukan sekadar politik. Sebuah sumber menyebutkan bahwa Wurawari pernah ingin menikahi putri Dharmawangsa, tetapi lamarannya ditolak. Dharmawangsa justru memilih Airlangga—putra Raja Udayana dari Bali—sebagai menantunya. Dari sinilah dendam itu lahir.

Serangan di Tengah Pesta

Prasasti Pucangan menggambarkan dengan jelas bagaimana serangan itu terjadi:

"pralaya rin yawadwipa i rikan sakakala 939 ri pralaya haji Wurawari maso mijil sanke lwaram ekarnawa rapanikan sayawadwipa..."

Terjemahan bebasnya: kehancuran di Pulau Jawa pada tahun 939 Saka, ketika Haji Wurawari keluar dari Lwaram, mengaduk Jawa seperti lautan susu...

Serangan itu terjadi saat pesta pernikahan sedang berlangsung. Keraton di Watan (kini sekitar Maospati, Magetan) tiba-tiba dibakar. Api menghanguskan istana hingga tak bersisa.

Raja Dharmawangsa Teguh tewas dalam serangan itu. Demikian pula Dyah Joning, putrinya—yang dalam legenda Jombang dikenal sebagai pengantin yang baru saja menikah dengan Airlangga.

Airlangga: Satu-satunya yang Selamat

Di tengah kekacauan malam itu, hanya satu orang yang berhasil lolos: Airlangga. Saat itu ia baru berusia 16 tahun.

Prasasti Pucangan mencatat bahwa Airlangga melarikan diri ke hutan Wanagiri (atau Vana giri) bersama abdinya yang setia, Narottama. Di sana mereka hidup sebagai pertapa, memakai pakaian kulit kayu, dan memakan apa saja yang dimakan oleh para pendeta.

Salah satu petilasan Airlangga saat dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang. Inilah benang merah yang menghubungkan tragedi Watan dengan tanah Jombang.

Sengkalan: 1016 Masehi

Prasasti Pucangan menyebut angka tahun 939 Saka, yang setara dengan 1016 Masehi. Inilah tahun pralaya Medang Kamulan—tahun ketika sebuah kerajaan besar di Jawa Timur runtuh dalam semalam, dan seorang pemuda berusia 16 tahun harus memulai perjalanan panjang dari pelarian menuju takhta.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1019 M, Airlangga dikukuhkan sebagai raja. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan—nama yang berarti "kehidupan kembali".

Warisan Tragedi

Pesta pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru menjadi awal kehancuran. Dyah Joning—yang membawa bunga joning dari tanah kelahirannya—tewas dalam kobaran api bersama ayahnya.

Dari tragedi inilah nama Jobang (kemudian menjadi Jombang) dipercaya lahir. Dari ijo dan kuning bunga yang menjadi nama Dyah Joning, dan abang darah yang membasahi pesta pernikahan.

Prasasti Pucangan telah mencatat semuanya: strategi licik Wurawari, aliansi dengan Sriwijaya, dan serangan yang mengubah sejarah Jawa selamanya. (*)

Editor: Om Bin

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia