Dyah Joning Ternyata Titisan Bidadari, Buktinya Ada di Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi) Part 5
JOMBANGASLI.COM — Legenda Dyah Joning selama ini dikenal dari cerita lisan dan naskah belakangan: putri Dharmawangsa Teguh yang namanya menjadi asal-usul Jombang. Tapi ternyata, kisah itu bukan hanya mitos. Relief Candi Arimbi di Bareng memahat rangkaiannya—dari permohonan raja, penitisan bidadari, hingga lahirnya sang putri. Dan yang lebih mengejutkan: relief ini diduga dicetak ulang oleh Airlangga setelah naik tahta, untuk mengenang istri yang gugur dalam tragedi mahapralaya.
Relief 1: Prabhamandala, Bingkai Kebenaran Kisah
Rangkaian ini dibuka oleh lingkaran bersinar berpancar—Prabhamandala. Dalam tradisi seni Jawa Kuno, ia adalah stana sakral, lingkaran cahaya yang menaungi kebenaran sebuah kisah. Di dalamnya terdapat Padma-Mandala—lingkaran teratai suci, takhta bagi Siwa dan Parwati. Kisah yang akan dipahat setelah ini bukan cerita sembarang. Ia berada di bawah naungan kebenaran ilahi.
Relief 2: Raja Melihat Bidadari
Di relief berikutnya, terpahat dua figur di dua alam. Yang di atas melayang—bidadari dari kahyangan. Yang di bawah mengadah, memandang ke atas. Di sinilah kisah dimulai: Raja Dharmawangsa Teguh melihat keagungan bidadari di alam kahyangan, dan timbul keinginan dalam hatinya. Ia ingin memiliki anak yang cantik dan mulia seperti bidadari itu. Maka ia dan permaisuri memohon kepada Siwa dan Parwati agar dikaruniai keturunan.
Relief 3: Kurban Persembahan Kambing
Permohonan itu tidak dibiarkan kosong. Di relief ketiga, terpahat bangsawan berpakaian adat di bawah payung agung, bersama binatang kurban. Payung dalam seni relief Jawa Kuno adalah simbol status—hanya bangsawan dan raja yang dipayungi. Kurban kambing itu dipersembahkan sebagai sarana penyucian rahim dan permohonan anugerah.
Relief 4: Penyucian Rahim Permaisuri
Sebelum jiwa suci diturunkan, wadahnya harus disiapkan. Di relief keempat, terpahat tokoh wanita berdiri khusyuk dalam ketenangan batin. Permaisuri berada dalam keadaan suci—harus bersih secara spiritual untuk menjadi rahim yang menampung jiwa dari alam atas.
Relief 5: Prosesi Penitisan Bidadari
Inilah puncaknya. Dua figur di dua alam: yang di atas muncul dari gugusan awan kosmis, yang di bawah merentangkan tangan ke atas untuk menerima. Ini bukan adegan mandi. Ini penitisan—bidadari dari kahyangan menurunkan energi dan jiwanya ke bumi, disambut dengan penuh syukur, untuk masuk ke dalam kandungan permaisuri.
Relief 6: Kepastian Kehamilan
Setelah penitisan, terpahat dua tokoh bangsawan berdiri saling berhadapan dan berinteraksi mesra. Kebahagiaan Raja Dharmawangsa Teguh dan permaisuri setelah kehamilan dipastikan. Anugerah titisan bidadari telah resmi bersemayam di dalam rahim.
📍 Baca Juga
- Asal Usul Jombang: Legenda Dyah Joning, Putri Mataram Timur
- Bedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi), Part 4: Bukan Cuma Abrahah, Medang Kamulan Juga Punya Pasukan Gajah
- Bedah Relief Arimbi, Part 3: Surya Majapahit Ternyata Tiruan? Relief Candi Arimbi Ungkap Asal-Usul Motif yang Diklaim Milik Majapahit
Relief 7: Pesta Syukuran Keraton
Kelahiran yang dinanti disambut dengan syukur. Di relief ketujuh, terpahat tokoh duduk memainkan instrumen musik didampingi pengawal. Pesta ucapan syukur digelar di istana Medang Kamulan, dengan alunan musik dan doa keselamatan.
Relief 8: Dyah Joning di Taman Bunga
Dan lahirlah sang putri. Di relief kedelapan, raja dan permaisuri mendampingi putrinya di antara rumpun tanaman bunga. Sang putri tumbuh anggun dan bermain di taman bunga keraton. Karena kecintaan orang tuanya pada bunga berwarna hijau-kuning—bunga joning—sang putri diberi nama Dyah Joning, si ijo-kuning.
Airlangga: Dari Duka ke Nama Jombang
Kisah ini tidak berhenti di taman bunga. Pada 1016 M, saat pesta pernikahan Dyah Joning dengan Airlangga di Wwatan, pasukan Wurawari dari Lwaram menyerbu. Dharmawangsa Teguh gugur bersama seluruh keluarganya. Dyah Joning juga gugur dalam mahapralaya. Hanya Airlangga yang selamat, melarikan diri ke hutan, dan kelak mendirikan Kahuripan.
Bunga-bunga joning yang menghiasi pesta berserakan di tengah kehancuran. Kuningnya bercampur merah darah. Jo—ijo lan kuning—kini berubah menjadi bang—abang. Dari duka itu lahir nama Jobang, yang kelak menjadi Jombang.
Setelah naik tahta di Kahuripan, Airlangga disebut merenovasi Girindra Prasada dan mencetak relief Dyah Joning untuk mengenang istri yang gugur. Jika benar, maka relief yang kita lihat hari ini bukan sekadar pahatan era Medang. Ia adalah monumen cinta seorang raja—yang memahat kenangan istrinya di batu, agar nama Dyah Joning tidak hilang ditelan mahapralaya.
Penulis: Ananta Prabhavasta
📍 Baca Juga
- Krisis Wisata Jombang: Anjasmoro Sudah Pengap, Pohon Dijarah, Otoritas Hutan Ompong, Media Memilih Diam!
- Groundbreaking Jombang Industrial Park: Investasi Raksasa di Kabuh, Jangan Sampai Warga Cuma Jadi Penonton
- Jangan Berdebat Soal Sanskerta: Ini Bahasa Persatuan Antar-Benua, Bukan Monopoli India yang Bahkan Sudah Ditinggalkan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar