Jangan Berdebat Soal Sanskerta: Ini Bahasa Persatuan Antar-Benua, Bukan Monopoli India yang Bahkan Sudah Ditinggalkan
JOMBANGASLI.COM — Ada satu kesalahpahaman yang terus diulang: Sanskerta dianggap bahasa India. Padahal, Sanskerta adalah bahasa persatuan antar-benua, lingua franca yang menghubungkan cendekiawan dari India, Asia Tenggara, hingga Nusantara selama berabad-abad. Ia bukan milik satu bangsa. Dan yang lebih ironis, India hari ini justru sudah meninggalkannya sebagai bahasa hidup.
Bukti di Jawa: Ribuan Tahun, Bukan Sekadar Singgah
Sanskerta hadir di Nusantara jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar berdiri. Prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, dari abad ke-5 Masehi, ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti Ciaruteun di Bogor, dari abad yang sama, juga berbahasa Sanskerta. Di Jawa, prasasti-prasasti Tarumanegara mencatat nama raja dalam Sanskerta, menggali kanal, dan memberi hadiah kepada brahmana—semua dalam bahasa yang sama.
Ini bukan bukti bahwa orang Jawa "meniru India". Ini bukti bahwa Sanskerta adalah bahasa ilmu yang digunakan di seluruh Asia. Seperti Latin di Eropa abad pertengahan: digunakan di Prancis, Jerman, Inggris, Italia—tapi bukan milik satu negara.
India Sendiri Sudah Meninggalkannya
Fakta paling menohok: Sanskerta hari ini bukan bahasa yang dipakai sehari-hari di India. Menurut Sensus India 2011, penutur Sanskerta di seluruh India hanya sekitar 24.000 orang—dari total populasi lebih dari 1,4 miliar. Pemerintah India bahkan mengkategorikannya sebagai "bahasa klasik", bukan bahasa komunikasi.
Sanskerta di India modern berfungsi sebagai simbol budaya, bahasa ritual, dan alat soft power. Bukan bahasa pasar, bukan bahasa jalanan, bukan bahasa percakapan. Ia disimpan di universitas dan kuil, bukan di kehidupan sehari-hari.
Sementara di Jawa, Sanskerta justru hidup lebih lama dan lebih dalam. Ia meresap ke dalam bahasa Jawa Kuno, menjadi fondasi sastra, dan bertahan dalam tradisi lisan hingga kini.
Proyek Dharmawangsa: Memindahkan Pengetahuan ke Bahasa Lokal
Di sinilah peran Maharaja Dharmawangsa Teguh menjadi relevan. Pada akhir abad ke-10, ia memerintahkan penyaduran massal kitab-kitab Sanskerta ke bahasa Jawa Kuno. Para pujangga menggunakan frasa "mangjawaken Byasamata"—men-Jawa-kan pemikiran Byasa.
Ini bukan "menyerap ilmu dari luar". Ini memindahkan pengetahuan dari bahasa persatuan ke bahasa lokal. Sanskerta adalah bahasa global saat itu. Jawa Kuno adalah bahasa ibunda. Dharmawangsa melakukan apa yang dilakukan bangsa-bangsa besar: mengambil ilmu dari bahasa persatuan, lalu mengolahnya dengan jiwa sendiri.
📍 Baca Juga
Mengapa Ini Penting bagi Jombang
Jombang menyimpan jejak periode ini. Candi Pandegong di Mojowarno, peninggalan abad ke-10, adalah saksi bahwa peradaban besar pernah berpijak di tanah ini. Sanskerta bukan bahasa asing yang datang sebentar. Ia adalah bagian dari lapisan budaya yang membentuk Nusantara—termasuk tanah Jombang.
Jadi ketika ada yang mengatakan "Sanskerta itu bahasa India", jawabannya sederhana: tidak. Sanskerta adalah bahasa persatuan antar-benua, yang hidup di Jawa lewat prasasti dan kitab, sementara India sendiri sudah meninggalkannya sebagai bahasa sehari-hari. Yang tersisa di India adalah simbol. Yang tersisa di Jawa adalah warisan.
Penulis : Ananta Prabhavasta
Sumber: Kajian Sejarah Nusantara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar