Krisis Wisata Jombang: Jalur Rusak Jadi Biang Utama, Padahal Bener 🤣, Cek Fakta Lapangan Berikut Lebih Mengejutkan
JOMBANGASLI.COM — Semua sibuk bicara promosi dan event, tapi tidak ada yang berani mengatakan hal paling telanjang: jalur wisata Jombang rusak, dan itu biang utamanya. Bukan cuma di Wonosalam. Titik paling parah justru di jalur yang harus dilewati untuk sampai ke sana: Mojoagung, Bareng, dan Wonosalam. Tapi tiga titik ini punya masalah yang berbeda.
Wonosalam: Longsor, Drum Bekas, dan Janji "Menghitung Anggaran"
Februari 2026. Tebing sepanjang 15 meter di ruas Wonosalam–Jabung, Desa Carangwulung, longsor. Dalam sebulan, tiga kali longsor terjadi di Wonosalam. Respons pemerintah? PUPR Jombang masih "menginventarisasi" dan "menghitung kebutuhan anggaran". Sementara itu, di lokasi longsor hanya dipasang drum bekas dan lampu pengaman. Drum bekas. Untuk jalur wisata yang longsor tiga kali dalam sebulan.
Proyek yang disebut "strategis" pun skalanya kecil. Ruas Mojolegi–Panglungan hanya digarap dengan fokus pelebaran bahu jalan dan penguatan tebing, anggaran Rp1,9 miliar. Bukan renovasi masif. Sementara akses menuju Dusun Segunung, Carangwulung, lebarnya hanya 3 meter. Tiga meter. Itu lebar gang, bukan jalur wisata.
Bareng: Panas, Kering, dan Tebu yang Gundul Saat Panen
Kalau Wonosalam soal longsor, Bareng soal lanskap yang berubah. Wilayah ini dikenal sebagai sentra tebu lahan kering. Dan tebu adalah tanaman yang saat panen habis ditebang total. Tidak ada tutupan pohon besar yang tersisa.
Data tutupan lahan menunjukkan dalam sepuluh tahun (2014–2024), hutan berkurang 48,2 hektare, kebun campuran turun 89,2 hektare, dan semak belukar naik sekitar 159 hektare. Alih fungsi lahan ini berkorelasi sangat kuat dengan peningkatan erosi. Di Bareng, yang tersisa bukan cuma lahan gundul. Udara terasa gerah karena pohon besar sudah tidak ada, dan pemandangan di kiri-kanan jalan tidak lagi enak dilihat—hanya tanah kering dan batang tebu yang habis ditebang.
📍 Baca Juga
Mojoagung: Gerbang yang Berlubang
Ruas Mojoagung–Mojoduwur yang menjadi jalur poros menuju Mojowarno, Bareng, dan Wonosalam kondisinya rusak parah. Lubang jalan muncul di berbagai titik, bahkan ada yang lebarnya mencapai 50 sentimeter. Warga mengeluh karena jalan ini sudah sering diperbaiki, tapi selalu rusak lagi karena hanya ditambal sulam, sementara kendaraan besar dari pabrik terus melintas. Jalur alternatif dari Desa Kedunglumpang menuju Wonosalam juga rusak berat, aspal mengelupas dan hampir setahun tidak diperbaiki.
Rp96 Miliar, Tapi Tambal Sulam
Pemkab Jombang menyiapkan Rp96 miliar untuk perbaikan jalan pada 2026. Ruas Bareng–Pasar Wonosalam masuk daftar prioritas pelebaran. Tapi berapa porsi yang benar-benar dialokasikan untuk memperbaiki jalur Mojoagung–Bareng–Wonosalam secara menyeluruh? Penanganan jalan di Jombang masih bergerak dengan logika mempertahankan kemantapan, bukan renovasi masif. Target kenaikan kemantapan hanya 1,2 persen per tahun.
Bandingkan dengan Mojokerto era MKP: satu ruas jalan wisata Padusan saja dicor beton 4,6 kilometer dengan lebar 7 meter, anggaran Rp14,1 miliar. Mojokerto membangun beton hingga pelosok dan pematang sawah. Jombang menambal lubang dengan Coldmix dan memasang drum bekas di tebing yang longsor.
Yang Dibutuhkan: Renovasi Masif dan Jalur Tembus
Ini bukan soal kurang anggaran. Ini soal cara pandang. Jalur wisata diperlakukan sebagai proyek pinggiran. Padahal yang dibutuhkan adalah renovasi masif: pelebaran badan jalan, penguatan tebing permanen, penerangan jalan, dan yang paling penting—membuka jalur alternatif tembus ke Mojokerto, Kediri, atau kabupaten lain.
Selama jalur wisata masih dianggap sebatas akses ke perkebunan, bukan konektivitas regional, maka Wonosalam akan terus kehilangan daya tariknya. Bukan karena kurang promosi. Tapi karena fondasinya—jalan, suhu, pemandangan—sudah tidak layak disebut jalur wisata.
Orang bilang Wonosalam sepi. Tapi coba dulu lewat Mojoagung dan Bareng—kalau tidak gerah dan pemandangan di jalan masih enak dilihat, baru bicara soal destinasi.
Reporter: Om Bin
Sumber: Observasi Lapangan & Data PUPR Jombang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar