Menguak Sejarah Kecamatan Bareng Jombang: Dari Gapura Selatan Kerajaan Majapahit, Basis Perlawanan Belanda, hingga Kampung Bendungan yang Jadi Bareng
JOMBANGASLI.COM — BARENG. Kecamatan Bareng yang berada di ujung selatan Kabupaten Jombang, Jawa Timur, ternyata menyimpan sejarah panjang yang sangat penting dalam perjalanan Kabupaten Jombang bahkan Kerajaan Majapahit. Tidak banyak yang tahu, Bareng bukan sekadar kecamatan yang hijau dan subur, tapi juga saksi bisu kejayaan Nusantara.
1. Gapura Selatan Majapahit Ada di Bareng
Dalam sejarah Kabupaten Jombang, wilayah yang kini menjadi Jombang merupakan gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Jika gapura barat Majapahit ada di Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, maka gapura selatan Majapahit ada di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.
Bukti otentiknya adalah masih berdirinya Candi Arimbi (Candi Ngrimbi) di Kecamatan Bareng hingga hari ini. Candi ini adalah salah satu peninggalan Majapahit yang menjadi bukti bahwa Bareng adalah wilayah penting di era 1293-1500 Masehi saat Majapahit berjaya sebagai kerajaan Hindu terbesar di Semenanjung Malaya.
Tidak heran hingga kini banyak nama desa di Jombang yang berawalan Mojo yang berarti Majapahit, seperti Mojowarno, Mojoagung, dan sebagainya.
2. Asal Usul Nama Desa Bareng: Dari Kampung Bendungan
Menurut penelusuran sejarah dari sesepuh Desa Bareng, asal-usul Desa Bareng dulunya bernama Kampung Bendungan, kemudian diubah jadi Desa Bareng.
Kisah babad alasnya dilakukan oleh tokoh sesepuh bernama Mbah Suro Negoro, Mbah Dariyek dan pengikutnya. Mereka adalah pembabat hutan pertama di lereng Gunung Anjasmoro. Untuk mengenang jasanya, mereka dimakamkan di sebelah timur Pasar Bareng, tepatnya di pekarangan keluarga Lahuri.
Seiring waktu, Dusun Bareng berkembang ke arah barat, utara dan selatan. Terbagi menjadi empat dusun baru:
- Barat: Dusun Mojounggul dan Dusun Kembang Tanjung (banyak bunga tanjung yang harum)
- Utara: Dusun Kedungpring (banyak bambu/pring dan kedung/bendungan air)
- Selatan: Dusun Kuwik
- Timur: Dusun Banjarsari (dulunya Kedungwinong), Kedunggalih, dan Tegalrejo
Nama Banjarsari sendiri diambil dari kata Banjar yang artinya lahan garapan luas dan Sari yang artinya menghasilkan hasil bumi yang banyak.
3. Basis Perlawanan Rakyat Saat Zaman Belanda
Pada zaman penjajahan Belanda, Desa Bareng pernah dijadikan basis perlawanan rakyat dan tempat perlindungan yang aman.
Kepala Desa Bareng menceritakan, setelah tentara pengungsi dari Surabaya menjadikan Bareng sebagai tempat aman, Belanda menyusun kekuatan tandingan yang berbasis di Kota Ngoro yang berjarak 4-5 Km dari Desa Bareng.
Untuk menghambat Belanda, di sepanjang jalan Bareng-Ngoro dibuat lubang-lubang dan ranjau agar Belanda sulit membawa senjata berat. Peran pemuda Bareng saat itu sebagai kurir pembawa senjata, sedangkan ibu-ibu membuat rangsum makanan apa adanya untuk tentara.
Bahkan untuk mengintai kedatangan Belanda, warga membuat panggung di atas Pohon Winong, pohon tertinggi di Desa Bareng yang berada di belakang Kantor Polisi Sektor Bareng saat itu. Pohon bersejarah itu dipotong sekitar tahun 1950-an karena dikhawatirkan roboh membahayakan warga.
Sebelum tahun 1940-an, penduduk Desa Bareng masih homogen yaitu pribumi Jawa dan minoritas Madura. Setelah Indonesia merdeka, penduduk menjadi lebih beragam setelah berdatangan etnis Cina.
4. Bareng Kini: Kecamatan Hijau di Lereng Anjasmoro
Kecamatan Bareng secara keseluruhan dikenal sebagai daerah yang hijau dengan potensi kehutanan dan pertanian yang signifikan, berbatasan dengan Kabupaten Kediri di selatan. Topografinya berupa perbukitan dan lereng Gunung Anjasmoro, sehingga mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada pertanian padi, jagung, ketela dan perkebunan.
Desa Bareng juga dikenal sebagai tempat kelahiran beberapa tokoh nasional, antara lain Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan muslim terkemuka.
Masyarakat Bareng hingga kini sangat menjaga tradisi gotong royong, sedekah bumi, ruwat desa, dan adat istiadat leluhur. Semangat persatuan antar pendatang dan penduduk asli menjadi ciri khas yang masih terjaga.
Secara keseluruhan, sejarah Bareng adalah kisah tentang ketabahan membuka lahan di lereng gunung, perlawanan terhadap penjajah, dan kemampuan menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang menjadi satu komunitas yang harmonis.
Reporter: Om Boyok
Sumber: Sejarah Jombang & Babad Desa Bareng

Tidak ada komentar:
Posting Komentar