Paham Hiburan Malam Sulit Diberantas, Medang Kamulan Tetapkan Pajak Besar Casino dan Bisnis Prostitusi, Hanya Dinikmati Orang Kaya!
JOMBANGASLI.COM — Setiap jaman punya persoalan yang sulit dihapus. Di era Medang Kamulan—kerajaan yang berpusat di Jombang pada abad ke-10—ada aktivitas malam yang tidak bisa dihilangkan. Orang tetap datang. Uang tetap berputar. Dan kerajaan punya pilihan: melarang, atau mengatur.
Mpu Sindok memilih yang kedua.
Bukti dari Prasasti Masahar
Prasasti Masahar (930 M)—batu andesit yang ditemukan di Situs Gemekan, Mojokerto—mencatat sesuatu yang jarang ditemui dalam sejarah kerajaan Nusantara. Di sana tertulis nama-nama pejabat yang bertugas memungut setoran dari sektor malam dan permainan.
Salah satunya adalah Juru Jalir—pejabat yang mengurus setoran dari aktivitas malam. Ada juga Tuha Judi—pejabat yang mengurus setoran dari permainan.
Mereka bukan pejabat biasa. Mereka adalah bagian dari struktur birokrasi kerajaan. Artinya: aktivitas itu diakui, diatur, dan dipajaki—bukan disembunyikan, bukan dilarang.
Mengapa Tidak Dilarang?
Karena tidak bisa dihapus.
Di era Medang, pelabuhan-pelabuhan di Sungai Brantas ramai. Pedagang datang dari berbagai daerah. Mereka butuh tempat istirahat, hiburan, dan pelepasan setelah berbulan-bulan di laut. Melarang hanya akan membuat aktivitas itu berpindah ke bawah tanah—dan kerajaan kehilangan kendali.
Mpu Sindok tahu itu. Ia tidak menutup mata. Ia justru membuka meja. Setoran ditarik, tetapi aktivitasnya diawasi. Pajak dikenakan, tetapi aturannya jelas.
Hanya Dinikmati Orang Kaya.
Pajak besar berarti harga besar. Untuk bisa masuk, orang harus membayar. Untuk bisa bermain, orang harus mengeluarkan uang. Rakyat biasa tidak punya akses. Yang menikmati adalah orang kaya: pedagang besar, pejabat, bangsawan.
Hanya Dinikmati Orang Kaya
Tapi ada satu hal yang perlu dicatat: pajak besar berarti harga besar.
Untuk bisa masuk ke tempat-tempat itu, orang harus membayar. Untuk bisa bermain, orang harus mengeluarkan uang. Untuk bisa menikmati hiburan malam, orang harus punya kekayaan.
Rakyat biasa—petani, pedagang kecil, pekerja—tidak punya akses. Mereka hanya bisa mendengar gemanya dari balik dinding. Yang menikmati adalah orang kaya: pedagang besar, pejabat, bangsawan.
Dan di sinilah letak ironinya: kerajaan memajaki, tetapi yang menikmati adalah segelintir orang. Pajak masuk ke kas kerajaan, tetapi keuntungan terbesar tetap di tangan mereka yang punya modal.
Bukan Pembenaran
Narasi ini bukan pembenaran. Ini catatan sejarah.
Medang Kamulan tidak sempurna. Ia menghadapi persoalan yang sama dengan jaman sekarang: aktivitas yang sulit dihapus, tetapi juga sulit dibiarkan. Mpu Sindok memilih jalan tengah—mengatur, bukan melarang. Memajaki, bukan menutup mata.
Tapi hasilnya tidak selalu adil. Pajak besar berarti hanya orang kaya yang bisa masuk. Rakyat kecil tetap di luar pagar—bukan karena dilarang, tetapi karena tidak mampu.
Pelajaran dari Prasasti
Prasasti Masahar bukan hanya mencatat pajak. Ia mencatat realitas sosial era Medang: ada aktivitas yang tidak bisa dihapus, ada orang kaya yang menikmatinya, dan ada kerajaan yang memungut setoran.
Ini bukan cerita tentang kebijakan yang berhasil sepenuhnya. Ini cerita tentang kompromi—antara idealisme dan realitas, antara larangan dan pengaturan.
Medang memilih mengatur. Tapi ia tidak bisa memastikan siapa yang menikmati. Dan itu, mungkin, persoalan yang tidak pernah selesai—dari jaman Mpu Sindok hingga hari ini.
Kesimpulan
Medang Kamulan tidak sempurna. Tapi ia jujur. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar