Sangking Cantiknya, Sri Isyana Tunggawijaya Pernah Diumpetin Raja Jin. Mbah Karya Bantu Pu Sindok Jalan di Atas Air Kali Brantas

Ilustrasi Mbah Karya membantu Pu Sindok menyeberangi Kali Brantas. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Prasasti Tengaran di Desa Tengaran, Peterongan, Jombang, hanya menyebut satu hal: Mpu Sindok menetapkan Desa Geweg sebagai sima karena rakyatnya membantu pencarian putrinya. Tapi siapa putrinya? Kenapa hilang? Prasasti itu tidak bercerita. Warga Tengaran yang menyimpan ceritanya.

Sri Isyana Tunggawijaya: Kecantikan yang Menggetarkan Alam Gaib

Sri Isyana Tunggawijaya adalah putri Mpu Sindok dan Sri Parameswari Dyah Kbi. Ia lahir di istana Medang Kamulan, yang berpusat di Tamwlang dan Watugaluh—dua wilayah yang kini menjadi bagian Jombang.

Sejak kecil, Sri Isyana sudah menunjukkan kecantikan yang luar biasa. Bukan kecantikan biasa—kecantikan yang menggetarkan. Wajahnya bersih, matanya bening, senyumnya memancarkan kehangatan. Para abdi istana berbisik: "Anak ini bukan anak biasa. Ia ditakdirkan untuk sesuatu yang besar."

Kecantikannya tidak hanya memesona manusia. Alam gaib pun terusik.

Raja Jin Terpesona: "Kalau Besar, Ia Akan Jadi Istriku"

Menurut tradisi lisan yang disampaikan Hadi Ali, juru pelihara Prasasti Tengaran, Raja Jin—penguasa alam gaib—terpesona pada Sri Isyana. Bukan kecantikannya saat kecil yang membuatnya bertindak, melainkan ramalan: bahwa kelak, jika Sri Isyana dewasa, ia akan menjadi wanita yang kecantikannya melampaui batas alam manusia.

Raja Jin berpikir: "Jika ia besar, ia akan menjadi ratu manusia. Tidak ada manusia yang layak memilikinya. Aku harus mengambilnya sekarang—sebelum ia dewasa."

Maka, suatu hari, Raja Jin menculik Sri Isyana kecil. Ia membawanya ke alam gaib, mengumpetkannya di tempat yang tidak bisa dijangkau manusia. Sri Isyana hilang dari istana tanpa jejak.

Mpu Sindok Mencari ke Gunung Pucangan

Mpu Sindok panik. Ia mencari ke mana-mana. Menurut cerita, ia menuju Gunung Pucangan—tempat yang hingga kini dianggap keramat di Jombang.

Tapi perjalanan itu tidak mudah. Ia harus menyeberangi Kali Brantas. Saat itu, air sedang tinggi. Tidak ada jembatan. Tidak ada perahu. Mpu Sindok terhalang.

Mbah Karya: Warga Geweg yang Sakti

Di sinilah Mbah Karya masuk dalam cerita. Ia warga Desa Geweg—desa yang kini menjadi bagian Desa Tengaran. Ia bukan bangsawan. Bukan pejabat. Ia hanya warga biasa—tetapi sakti.

Menurut cerita yang disampaikan Achmad Kusaeri, Kepala Desa Tengaran, Mbah Karya membantu Mpu Sindok menyeberangi Kali Brantas. Bukan dengan perahu. Bukan dengan rakit. Tapi dengan kesaktiannya—ia membawa raja berjalan di atas air.

Bayangkan adegan itu: seorang raja Medang, ditemani warga biasa, melangkah di atas permukaan Kali Brantas—menuju seberang, mencari putrinya yang hilang.

Balas Jasa: Geweg Jadi Sima

Mpu Sindok akhirnya menemukan putrinya. Sebagai balas jasa, ia menetapkan Desa Geweg sebagai sima—desa bebas pajak. Dan ia mendirikan Prasasti Tengaran (935 M) sebagai tanda penetapan itu. Prasasti itu masih berdiri hingga kini, di tengah sawah Dusun Surobayan—dilindungi payonan terbuka, dijaga oleh warga yang menganggapnya keramat.

Kenapa Cerita Ini Penting?

1. Prasasti tanpa cerita hanyalah batu. Batu bertulis tidak bisa bicara. Tapi cerita bisa membuat prasasti itu hidup.

2. Dongeng adalah warisan budaya. Raja Jin, Mbah Karya, jalan di atas air—ini adalah kearifan lokal yang menyimpan nilai: kebaikan dibalas kebaikan, raja menghargai rakyat kecil, keberanian warga biasa bisa mengubah sejarah.

3. Sri Isyana adalah tokoh nyata. Ia adalah ratu penguasa pertama Jawa Timur—putri Mpu Sindok yang namanya tercatat di Prasasti Pucangan.

Kesimpulan

Sangking cantiknya, Sri Isyana Tunggawijaya pernah diumpetin Raja Jin. Mbah Karya bantu Pu Sindok jalan di atas air Kali Brantas.

Itulah cerita yang hidup di Desa Tengaran. Prasasti Tengaran sendiri hanya menyebut "pencarian putri raja"—tanpa nama, tanpa Raja Jin, tanpa Mbah Karya. Tapi justru inilah yang membuat prasasti itu tetap dikenang: bukan karena batu bertulisnya, tetapi karena cerita yang mengelilinginya. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia