Unik dan Sakral! Petani di Dusun Banjarsari Bareng Jombang Gelar Ritual Memandikan Kucing Condromowo Pakai Air Dawet dan Kembang untuk Minta Hujan di Tengah Lahan Kering Kerontang
JOMBANGASLI.COM — Ada pemandangan unik, sakral, dan penuh makna budaya di tengah lahan pertanian yang kering kerontang di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Viral di media sosial.
Di saat kemarau panjang melanda dan sawah-sawah mulai retak, warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang menggelar tradisi warisan leluhur yang sudah jarang terlihat, yaitu ritual memandikan kucing untuk meminta hujan.
Kucing Belang Telon / Condromowo — Simbol Keseimbangan Alam
Bukan kucing sembarangan yang dimandikan. Kucing yang digunakan dalam ritual ini adalah kucing khusus yang memiliki tiga warna bulu atau yang dalam istilah Jawa disebut kucing belang telon atau Condromowo.
Dalam kebudayaan agraris Jawa kuno, kucing Condromowo disakralkan dan dianggap sebagai simbol keseimbangan alam. Kucing ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk memanggil hujan.
Prosesi ritual dilakukan dengan penuh khidmat. Kucing Condromowo tersebut dimandikan dengan air dawet dan air kembang oleh seorang tokoh adat yang bertopeng Genderuwo. Air kembang yang berisi mawar merah, melati, dan kenanga dicampur dengan air dawet yang manis.
Prosesi pemandian diiringi dengan alunan gamelan tradisional yang syahdu, bunyi kentongan, dan asap kemenyan yang mengepul, menambah suasana sakral di tengah sawah.
Filosofi Air Dawet — Udari Barang Sing Ruwet
Tokoh masyarakat setempat, Bapak Samiaji Mijek, menjelaskan makna mendalam di balik tradisi unik ini.
Menurutnya, tradisi warisan leluhur ini memang sengaja digelar saat kemarau panjang melanda dan petani sudah sangat resah menunggu hujan.
"Tradisi ini warisan leluhur. Air dawet memuat filosofi udari barang sing ruwet, atau mengurai kegelisahan petani. Dawet itu kan ruwet (terurai) tapi manis. Harapannya keruwetan hati petani karena sawah kering ini bisa terurai dan diganti dengan rasa manis yaitu datangnya hujan." — Samiaji Mijek
Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam kebudayaan agraris Jawa kuno, ritual ini adalah perpaduan antara adat serta doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukan menyembah kucing, tapi kucing hanya sebagai simbol dan perantara ikhtiar budaya agar doa lebih dikabulkan.
Ikhtiar Budaya Agar Irigasi Kembali Melimpah
Melalui ikhtiar budaya ini, para petani berharap hujan segera turun dari langit. Dengan turunnya hujan, pasokan irigasi yang kini kering bisa kembali melimpah, sumur-sumur warga kembali berisi, dan musim tanam padi yang tertunda bisa segera dimulai.
Warga yang menyaksikan ritual ini terlihat sangat antusias. Ada yang duduk bersila di pematang sawah, ada yang merekam dengan HP, dan ada pula yang ikut berdoa bersama. Bahkan ada yang membawa sesajen berupa pisang, jajan pasar, dan tumpeng kecil sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada alam.
Tradisi memandikan kucing untuk minta hujan ini sebenarnya hampir punah, namun warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng masih setia melestarikannya sebagai kekayaan budaya Jombang yang adiluhung. Ini bukti bahwa masyarakat agraris Jawa masih sangat selaras dengan alam.
Semoga dengan digelarnya ritual sakral ini, hujan segera turun di wilayah Bareng dan seluruh Kabupaten Jombang, sehingga petani bisa kembali tersenyum dan sawah kembali menghijau. (*)
Penulis: Om Boy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar