Jombang Darurat TBC! Dari 3.000 Warga yang Diskrining, 1.500 Positif!

Suasana skrining TBC massal menggunakan Mobile Rontgen di Kabupaten Jombang. (Foto: Istimewa)

JOMBANG — Kabar mengejutkan datang dari dunia kesehatan Jombang. Dari 3.000 warga yang mengikuti skrining tuberkulosis (TBC) sejak April hingga September 2026, separuhnya terkonfirmasi positif. Angka ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak bahwa ancaman TBC di Bumi Pralaya ini nyata dan mengintai di sekitar kita.

Fakta di Balik Angka

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang menggelar mobile skrining massal dengan strategi jemput bola menggunakan Mobile Rontgen. Dari sekitar 3.000 warga yang diperiksa, 1.500 orang di antaranya dinyatakan positif TBC. "Sekitar 50 persen dari tiga ribu warga, atau hampir 1.500-an terdeteksi dan saat ini dalam proses pengobatan," ungkap Kepala Dinkes Jombang dr Hexawan Tjahja Widada .

Target Deteksi Dini

Program skrining ini merupakan bagian dari upaya eliminasi TBC 2030. Menurut data Dinkes Jombang, pada 2025 tercatat 2.700 kasus TBC dari target 3.000 yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Sementara pada 2024, dari 12.418 terduga pasien, tercatat 1.921 kasus positif. Angka 1.500 kasus baru dari skrining massal ini menjadi lonjakan signifikan yang mengindikasikan masih banyaknya kasus di masyarakat yang belum terdeteksi—sebuah fenomena gunung es.

Mayoritas Usia Produktif, Ancaman Mengintai Anak

Hasil skrining mengungkapkan mayoritas kasus TBC menyerang kelompok usia di atas 40 tahun, dengan rata-rata 45 tahun. Ini berarti penyakit ini banyak mengintai usia produktif yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, penularan juga mulai mengintai kelompok rentan anak-anak. dr Hexawan menjelaskan pola penularan yang paling rawan terjadi di lingkungan domestik.

📌 Pola Penularan dalam Keluarga

"Kalau anak-anak kecil, biasanya karena orang tuanya kerja lalu anak dititipkan ke mbahnya. Jika mbahnya terdeteksi TBC, anak bisa ikut tertular. Pola penularan seperti ini yang harus kita antisipasi bersama," tegas dr Hexawan.

Mobile Rontgen, Terobosan yang Berhasil

Keberhasilan menemukan ribuan kasus ini tidak lepas dari inovasi Dinkes Jombang menggunakan Mobile Rontgen untuk pemeriksaan langsung di pemukiman warga. "Foto rontgen itu langsung dilakukan di tempat tanpa perlu warga harus keliling ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain," jelas dr Hexawan.

Kisah Sembuh Berkat Deteksi Dini

Siti Khotimah, salah satu warga peserta skrining, mengaku sempat menderita batuk menahun yang tak kunjung sembuh meski sudah berganti-ganti obat. Usai mengikuti skrining dan dinyatakan positif TBC, dirinya langsung mendapat penanganan medis gratis.

"Awalnya batuk terus-menerus, minum obat biasa tetap tidak sembuh. Alhamdulillah setelah ikut skrining dan rutin minum obat selama empat bulan serta empat kali kontrol, sekarang sudah tidak batuk sama sekali," tuturnya .

Komitmen Eliminasi 2030

Pemerintah Kabupaten Jombang telah menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 57 Tahun 2025 tentang Rencana Aksi Daerah HIV-AIDS, TBC, dan Malaria 2025–2030. Hingga awal September 2025, 302 desa dan 4 kelurahan di Jombang telah membentuk tim siaga TBC. Kolaborasi dengan Ikatan Dokter Spesialis Pulmonologi Indonesia (STPI) dan yayasan pendamping seperti YABISA terus diperkuat untuk memutus mata rantai penularan.

Imbauan untuk Warga

Dinkes Jombang mengimbau masyarakat yang mengalami batuk persisten atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC agar tidak ragu memeriksakan diri. Deteksi dini dan pengobatan tuntas adalah kunci utama memutus penularan. Jangan tunggu sampai parah, karena TBC bisa disembuhkan total jika ditangani dengan tepat dan disiplin hingga tuntas.

Jombang memang darurat TBC, tapi dengan kesadaran dan aksi bersama, epidemi ini bisa dikendalikan. (*)

Editor: Om Bin

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia