Mana Jalan Pu Sindok? Mana Universitas Medang Kamulan? Mana Museum Isyana? Bukti Jombang Lupa Leluhurnya!
JOMBANGASLI.COM — Coba cari di Jombang: Jalan Pu Sindok? Tidak ada. Universitas Medang Kamulan? Tidak ada. Museum Isyana? Tidak ada.
Yang ada: jalan bernama kiai, gedung bernama ulama, dan situs Medang yang berdiri sendiri di sawah tanpa cungkup, tanpa museum, tanpa nama.
Padahal, Jombang adalah pusat Mataram Kuno era Wangsa Isyana. Pu Sindok memindahkan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada 929 Masehi, dan berkuasa dari Tamwlang (Tembelang) dan Watugaluh (Megaluh/Diwek)—dua wilayah yang kini menjadi bagian Jombang.
Tapi Pemkab Jombang seolah tidak ingin mengingatnya.
1. Tidak Ada Jalan Pu Sindok
Pu Sindok adalah raja yang memindahkan pusat Mataram ke Jawa Timur dan berkuasa dari Tamwlang, Tembelang. Namanya tercatat dalam puluhan prasasti. Prasasti Turyan (929 M), Prasasti Anjukladang (937 M), Prasasti Paradah (943 M), Prasasti Tengaran (935 M).
Tapi tidak ada jalan, tidak ada gang, tidak ada plang nama.
2. Tidak Ada Universitas Medang Kamulan
Tidak ada universitas, sekolah tinggi, atau akademi di Jombang yang menyandang nama Medang Kamulan—kerajaan yang menjadi akar peradaban Jawa Timur.
Padahal, tanpa Medang Kamulan, tidak ada Airlangga. Tanpa Airlangga, tidak ada Kediri dan Jenggala. Tanpa Kediri dan Jenggala, tidak ada Singasari. Tanpa Singasari, tidak ada Majapahit.
3. Tidak Ada Museum Isyana
Tidak ada museum Isyana, tidak ada galeri Medang, tidak ada pusat informasi Wangsa Isyana di Jombang.
Yang ada hanya Galeri Mini di Disdikbud—tanpa nama, tanpa narasi, tanpa cerita besar. Anggaran cagar budaya Jombang hanya Rp684.751.800. Uang sekecil itu habis untuk seremonial, sosialisasi, dan pembinaan juru pelihara. Eskavasi mandek. Situs-situs Medang dibiarkan jadi "batu yatim piatu".
Selama Jombang tidak memiliki rumah bagi sejarahnya sendiri, narasi Medang Kamulan akan terus hidup di prasasti yang dibiarkan di sawah—tanpa penjaga, tanpa penjelasan, tanpa generasi yang memahami.
4. Prasasti Tengaran Berdiri di Sawah
Prasasti 935 Masehi yang dikeluarkan Pu Sindok sendiri masih berdiri di tengah sawah Peterongan. Tidak dipindah ke museum. Tidak dilindungi cungkup. Warga tak berani memindah karena takut kualat.
Prasasti ini mencatat penetapan Desa Geweg sebagai sima karena rakyatnya membantu mencari putri raja. Tapi kini, prasasti itu seperti terlupakan—berdiri sendiri di antara padi dan lumpur, tanpa penjaga, tanpa informasi.
5. Hari Jadi 1910, Bukan 935
Jombang memilih merayakan 18 Oktober 1910—tanggal pembentukan kabupaten oleh pemerintah kolonial Belanda.
Padahal Prasasti Tengaran (935 M) masih berdiri di Peterongan. Tanggal itu bisa jadi titik awal—1.000 tahun lebih tua dari 1910. Tapi tidak dilakukan.
Bagaimana Seharusnya Pemkab Jombang?
Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal bagaimana Jombang merawat leluhurnya sendiri.
Edukasi Sejarah Sejak Dini
Sejarah Medang Kamulan harus masuk kurikulum lokal—bukan sekadar disebut di buku pelajaran nasional. Anak-anak Jombang harus tahu bahwa Pu Sindok, Sri Isyana Tunggawijaya, dan Airlangga berjalan di tanah yang sama dengan mereka.
Promosi dan Branding
Pemkab Jombang bisa membangun branding "Jombang, Pusat Medang Kamulan"—bukan sekadar "Kota Santri". Dua identitas ini tidak harus bertabrakan. Keduanya bisa hidup berdampingan.
Nama Jalan dan Fasilitas Publik
Mengapa tidak ada Jalan Pu Sindok? Mengapa tidak ada Taman Isyana? Mengapa tidak ada Museum Medang? Ini langkah kecil yang berdampak besar untuk mengingatkan warga pada akar sejarahnya.
Anggaran yang Berpihak
Anggaran cagar budaya Rp684 juta tidak cukup untuk eskavasi, apalagi museum. Pemkab perlu mengalokasikan anggaran yang lebih serius untuk pelestarian dan promosi.
Kolaborasi dengan Media dan Komunitas
JombangAsli.com, komunitas sejarah lokal, dan akademisi bisa menjadi mitra Pemkab untuk membangun narasi besar. Tanpa kolaborasi, narasi Medang Kamulan akan terus tenggelam.
Kesimpulan
Mana Jalan Pu Sindok? Mana Universitas Medang Kamulan? Mana Museum Isyana?
Tidak ada. Karena Jombang lebih suka mengingat kiai daripada raja.
Jombang punya Medang Kamulan. Saatnya Pemkab Jombang tidak lagi lupa. (*)
Penulis: Om Bin
📍 Baca Juga
- Majapahit Besar Karena Mewarisi Nama Agung Mataram: Jombang Adalah Pusat Mataram Era Wangsa Isyana
- Pu Shri Sambhara Surya Warama Penulis Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, Warisan Medang Kamulan Jombang yang Jadi Rujukan Dunia
- Era Pu Sindok di Jombang: Tanah Bebas Pajak, Pejabat Bagi-Bagi Emas dan Kain ke Perangkat Desa hingga Pelawak! Pemerintah Jombang Hari Ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar