Pu Shri Sambhara Surya Warama Penulis Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, Warisan Medang Kamulan Jombang yang Jadi Rujukan Dunia

Ilustrasi Pu Shri Sambhara Surya Warama, pujangga Buddha penulis Sang Hyang Kamahayanikan. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Di lereng Pegunungan Kendeng, tepatnya di Desa Made, Kecamatan Kudu, Jombang, terdapat sebuah situs yang menyimpan jejak peradaban besar. Sendang Made—sumber air yang diyakini sebagai petilasan Prabu Airlangga—menjadi saksi bisu bagaimana Medang Kamulan, kerajaan yang berpusat di Jombang, melahirkan karya spiritual yang mendunia.

Kitab yang Mendunia

Nama Pu Shri Sambhara Surya Warama mungkin jarang disebut dalam pelajaran sejarah. Namun, karyanya—Sang Hyang Kamahayanikan—tersimpan di berbagai perpustakaan dunia. Naskah kuno ini kini berada di Leiden University Library (Belanda) dengan kode Codex Orientalis 5023, British Library (Inggris), dan telah didigitalkan oleh Australian National University (ANU) dari koleksi Gedong Kirtya, Bali.

Sang Hyang Kamahayanikan adalah kitab suci Buddha Mahayana aliran Tantrayana yang disusun antara tahun 929–947 Masehi—tepat pada masa pemerintahan Mpu Sindok, raja pertama Medang Kamulan periode Jawa Timur yang berkuasa di Tamwlang dan Watugaluh, wilayah yang kini menjadi bagian Jombang.

Ditulis oleh Pujangga, atas Inisiasi Raja Hindu

Pu Shri Sambhara Surya Warama bukanlah tokoh sembarangan. Dalam teks aslinya, ia disebut sebagai "Venerable"—gelar kehormatan untuk tokoh spiritual—dan "guru mulia di Vaรฑjaแน…" (Wanjang).

Yang membuat kisah ini istimewa adalah Mpu Sindok sendiri adalah penganut Hindu Siwa yang taat. Gelarnya, Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, merujuk pada Isana—aspek Dewa Siwa. Dinastinya pun bernama Wangsa Isyana. Namun, ia justru memfasilitasi penulisan kitab Buddha ini.

Sebagai bentuk penghargaan, Mpu Sindok menganugerahkan Desa Wanjang sebagai sima swatantra (tanah perdikan/bebas pajak) kepada Pu Shambara. Ini bukan tindakan simbolis, melainkan kebijakan negara yang secara aktif mendukung perkembangan agama lain di tengah kerajaan yang beraliran Siwa.

Isi Kitab: Jalan Menuju Kebuddhaan

Sang Hyang Kamahayanikan mengajarkan bagaimana seorang yogi mencapai Kebuddhaan melalui praktik Catur Paramita, lalu Paramaguhya dan Mahaguhya. Kitab ini juga menjelaskan falsafah Advaya—mengatasi dualisme "ada" dan "tidak ada"—serta kosmologi Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu yang strukturnya tercermin pada relief Candi Borobudur.

Kitab ini terbagi dalam tiga versi (A, B, dan C) yang diidentifikasi oleh Jacob Kats pada 1910. Versi A dan B berisi ajaran Buddha, sementara versi C didominasi ajaran Siwa.

Warisan Jombang untuk Dunia

Naskah tertua Sang Hyang Kamahayanikan ditemukan di Pulau Lombok pada tahun 1900 oleh Dr. J. Brandes, kemudian diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh J. Kats pada 1910, dan ke bahasa Indonesia oleh I Gusti Bagus Sugriwa serta Tim Penerjemah Departemen Agama RI.

Karya ini telah dikaji oleh sarjana internasional seperti Lokesh Chandra (India) dan Andrea Acri (Italia/ANU). Keberadaannya di perpustakaan-perpustakaan dunia membuktikan bahwa Medang Kamulan Jombang adalah pusat peradaban yang menyemai benih toleransi dan pengetahuan yang berdampak global.

Semangat Toleransi dari Sendang Made

Sendang Made di Kudu, Jombang, menjadi pengingat bahwa jauh sebelum frasa Bhinneka Tunggal Ika lahir di Majapahit, Mpu Sindok sudah mempraktikkan semangatnya. Seorang raja Hindu-Siwa memfasilitasi penulisan kitab Buddha. Seorang pujangga Buddha menulis karya yang menjadi rujukan dunia. Dan dari Jombang, warisan itu tersimpan hingga kini.

Inilah warisan Medang Kamulan yang sesungguhnya: bukan hanya kekuasaan, tetapi kebijaksanaan yang melampaui batas agama. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

๐Ÿ“ฐ ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia