Punden Mbah Mbeh, Tumbal Tanah Medang: Kesalahan Dharmawangsa Teguh, Tumbang Karena Memindahkan Medang dari Jombang ke Magetan
JOMBANG — Di tengah Dusun Nanggalan, Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang, berdiri sebuah batu purbakala yang oleh warga dikenal sebagai Situs Batu Mbah-Mbeh. Bentuknya persegi di bagian bawah dengan ujung setengah lingkaran dan cekungan di atas—menyerupai lingga. Warga meyakininya sebagai pelinggih Mpu Sindok, raja pendiri Wangsa Isyana yang memindahkan pusat Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Mpu Sindok yang Memasang Tumbal
Batu Mbah-Mbeh bukan sekadar penanda batas atau prasasti sima. Ia adalah tumbal tanah yang dipasang oleh Mpu Sindok sendiri. Dalam tradisi Jawa kuno, sebelum membangun pusat kekuasaan di tanah baru, seorang raja harus menancapkan pasak spiritual—tumbal—untuk mengikat medan, menyeimbangkan kekuatan halus, dan memastikan stabilitas kerajaan.
Bentuknya yang masif—masih menyambung ke dalam tanah hingga lima meter—menunjukkan ia bukan patok biasa. Ia adalah pasak simbolis, tempat sesaji dan upacara ruwat keraton.
Watugaluh adalah ibu kota Medang di Jawa Timur. Prasasti Anjukladang (937 M) mencatat dengan jelas: "Kita prasidha manraksang ranghyangta Medang / Bumi Mataram / Watugaluh." Di sinilah Mpu Sindok membangun pusat kekuasaan baru, dan di sinilah ia menancapkan segel spiritual yang menjaga stabilitas kerajaannya.
Pagar Ghaib yang Tak Pernah Jebol
Setelah tumbal itu dipasang, ada satu fakta sejarah yang jarang dibicarakan: Medang di Watugaluh tidak pernah berhasil diserang musuh.
Sriwijaya berkali-kali mencoba menyerang Medang. Pasukan Melayu bahkan sampai ke Nganjuk. Tapi mereka dipukul mundur dan dikalahkan. Kemenangan itu begitu penting hingga Mpu Sindok membangun Jayastamba—tugu kemenangan—dan menetapkan Anjukladang sebagai sima karena rakyatnya berjasa dalam perang.
Selama pusat kerajaan berada di Watugaluh, pagar ghaib itu berdiri. Kerajaan stabil. Kekuasaan mengakar. Musuh-musuh hanya bisa menggedor, tapi tidak bisa masuk.
Keputusan Dharmawangsa yang Berujung Bencana
Hingga akhir abad ke-10, Dharmawangsa Teguh memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Wwatan, Magetan.
Keputusan itu berujung bencana. Pada 1016 M, Wurawari dari Lwaram menyerbu istana. Mahapralaya terjadi. Dharmawangsa tewas. Seluruh keluarga kerajaan gugur. Hanya Airlangga yang selamat.
Mengapa? Karena Medang meninggalkan tumbal tanahnya. Pasak yang dipasang Mpu Sindok di Watugaluh tidak lagi menjadi pusat ritual. Koneksi spiritual antara pusat kekuasaan dan medan Jombang terputus. Pagar ghaib yang selama ini menjaga Medang melemah, lalu jebol.
Airlangga tidak kembali ke Jombang. Ia membangun pusat baru di Watan Mas, lereng Penanggungan. Di sana ia memulihkan kekuasaan dan melanjutkan Wangsa Isyana.
Jombang Tidak Pernah Kehilangan Penjaganya
Tapi Jombang tidak pernah benar-benar kehilangan penjaganya. Warga Watugaluh, tanpa komando keraton, secara sukarela melanjutkan fungsi tumbal itu. Mereka menggelar sedekah desa setiap tahun, dipusatkan di Batu Mbah-Mbeh. Malam Jumat Kliwon dan malam Satu Suro masih menjadi waktu sakral untuk berkumpul dan memohon perlindungan.
Tumbal itu tidak pernah benar-benar dicabut. Ia hanya berpindah penjaga—dari keraton ke rakyat. Dari upacara ruwat agung ke sedekah desa. Dari mantra Makudur ke doa sesepuh kampung.
Saksi yang Masih Berdiri
Batu Mbah-Mbeh adalah saksi bahwa Medang pernah berjaya di Watugaluh. Dan ketika Dharmawangsa memindahkan pusatnya ke Magetan, ia meninggalkan tumbal yang dipasang Mpu Sindok—tumbal yang tidak lagi dijaga oleh otoritas kerajaan, hingga pagar spiritual Medang jebol, dan Mahapralaya tak terhindarkan.
Yang tersisa hari ini adalah batu tua di tengah dusun. Tidak ada prasasti yang menjelaskan fungsinya. Tapi warga Watugaluh tahu: batu itu bukan sekadar batu. Ia adalah tumbal tanah yang pernah menjaga sebuah kerajaan besar. Dan ketika kerajaan itu pergi, tumbal itu tetap tinggal. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar