Bedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi), Part 4: Bukan Cuma Abrahah, Medang Kamulan Juga Punya Pasukan Gajah
JOMBANGASLI.COM — Kisah pasukan gajah paling terkenal dalam sejarah adalah pasukan Abrahah yang menyerang Ka'bah pada abad ke-6 Masehi. Tapi jauh setelah itu, di tanah Jawa, ada kisah lain yang jarang dibicarakan: Medang Kamulan juga punya gajah. Dan buktinya bukan di kitab suci, melainkan terpahat di dinding Candi Arimbi, Bareng, Jombang.
Relief Gajah di Bawah Pendopo
Di antara panil-panil relief Candi Arimbi, terdapat satu adegan yang berbeda dari yang lain. Seekor gajah berdiri di bawah naungan bangunan—pendopo beratap bertingkat dengan tiang-tiang penyangga. Di bagian atas relief, sulur-suluran lebat membingkai adegan, menandakan bahwa peristiwa ini terjadi di alam terbuka.
Gajah itu bukan gajah liar yang berkeliaran di hutan. Ia berada di dalam ruang manusia. Di bawah atap. Di dekat pendopo. Ini mengubah statusnya: bukan fauna yang jauh, melainkan gajah yang hadir dalam kehidupan sehari-hari—sebagai kendaraan, simbol kekuasaan, atau bagian dari upacara.
Bareng: Habitat yang Tepat untuk Gajah
Mengapa gajah dipahat di Candi Arimbi, bukan di candi lain? Jawabannya ada pada lanskap.
Bareng berada di lereng bawah Anjasmoro, dengan kontur landai dan ruang terbuka yang luas. Secara ekologis, ini adalah habitat ideal untuk gajah. Gajah membutuhkan medan yang tidak terlalu curam, sumber air, dan vegetasi rapat—semua tersedia di Bareng.
Bandingkan dengan Wonosalam, yang berada di ketinggian 500–800 mdpl dengan lereng curam dan tebing. Di sana, gajah akan kesulitan bergerak bebas, apalagi dalam kawanan. Jadi ketika relief gajah dipahat di Candi Arimbi, yang berada di Bareng, itu bukan kebetulan. Relief ini merekam lanskap nyata: gajah memang hidup di kawasan itu.
Pendopo sebagai Penanda Permukiman
Kehadiran pendopo di atas gajah juga penting. Pendopo bukan bangunan liar. Ia adalah struktur permanen yang menandakan adanya permukiman, komunitas, atau pusat kegiatan. Jika gajah dipahat di bawah pendopo, itu berarti gajah dan manusia berbagi ruang yang sama.
Ini konsisten dengan sejarah Nusantara: gajah bukan hanya binatang hutan, tetapi juga bagian dari kehidupan istana dan masyarakat. Di Sumatra, gajah dilatih untuk mengangkut barang dan digunakan dalam upacara. Di Jawa, gajah muncul dalam relief candi sebagai kendaraan raja atau simbol kemakmuran.
📍 Baca Juga
- Bedah Relief Arimbi, Part 3: Surya Majapahit Ternyata Tiruan? Relief Candi Arimbi Ungkap Asal-Usul Motif yang Diklaim Milik Majapahit
- Membedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi), Part 2: Cara Memperoleh Kemakmuran Ala Leluhur Medang Kamulan
- Membedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi) Part 1: Relief Binatang Penjaga Hutan, Wonodyakso
Pasukan Gajah Medang Kamulan
Apakah gajah di Candi Arimbi bagian dari pasukan? Tidak ada bukti tertulis yang menyebut Medang Kamulan memiliki pasukan gajah seperti Abrahah. Tetapi relief ini membuka kemungkinan bahwa gajah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Medang—entah sebagai kendaraan, simbol upacara, atau bagian dari kekuatan militer.
Yang jelas, relief ini membantah anggapan bahwa gajah hanya ada di Sumatra atau India. Jawa juga punya sejarah gajah, dan jejaknya masih bisa dilihat di Candi Arimbi.
Mengapa Relief Ini Penting
Relief gajah di Candi Arimbi bukan sekadar hiasan. Ia adalah dokumen ekologis dan historis:
Ekologis: menunjukkan bahwa Bareng dulu adalah habitat gajah, dengan lanskap landai yang cocok untuk hewan besar.
Historis: membuktikan bahwa gajah hadir dalam kehidupan masyarakat Medang, bukan hanya di hutan.
Arsitektural: pendopo di relief adalah bukti bahwa bangunan tradisional Jawa Kuno sudah ada sejak era Medang.
Kisah Abrahah terjadi pada abad ke-6. Kisah Medang Kamulan datang ratusan tahun kemudian. Tapi keduanya berbagi satu hal: gajah bukan sekadar binatang. Ia adalah bagian dari sejarah peradaban.
Penulis: Ananta Prabhavasta
📍 Baca Juga
- Krisis Wisata Jombang: Anjasmoro Sudah Pengap, Pohon Dijarah, Otoritas Hutan Ompong, Media Memilih Diam!
- GMNI Kepung DPRD: Desak Menteri Kehutanan Mundur, Pertanyakan Nyali Wakil Rakyat Jombang soal Karhutla!
- Jangan Berdebat Soal Sanskerta: Ini Bahasa Persatuan Antar-Benua, Bukan Monopoli India yang Bahkan Sudah Ditinggalkan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar