Candi Arimbi Adalah Monumen Cinta Airlangga Pada Dyah Joning, Menandai Perubahan Nama Medang Menjadi Jombang
JOMBANGASLI.COM — Di bawah langit Anjasmoro, seorang raja berdiri di depan batu yang ia pahat sendiri. Di dalam batu itu, terukir wajah seorang wanita—bukan ratu yang berkuasa, bukan dewi yang disembah, melainkan Dyah Joning, istri yang gugur dalam kobaran mahapralaya. Raja itu bernama Airlangga. Dan batu itu adalah Candi Girindra Prasada—yang kini kita kenal sebagai Candi Arimbi.
Ini bukan kisah tentang kemenangan. Ini kisah tentang kehilangan. Tentang seorang suami yang tidak bisa menyelamatkan istrinya dari maut, lalu memilih untuk mengabadikannya di batu. Dan dari duka itulah lahir nama Jombang—nama yang menggantikan Medang, nama yang lahir dari bunga joning yang bersimbah darah.
Bunga Joning dan Nama yang Lahir dari Duka
Dyah Joning adalah putri Dharmawangsa Teguh, raja terakhir Medang periode Jawa Timur. Namanya lahir dari bunga joning—ijo lan kuning—bunga liar berwarna hijau-kuning yang tumbuh subur di sekitar kedaton Medang. Bunga itu menjadi simbol kecantikan dan kesucian sang putri.
Ia menikah dengan Airlangga di Wwatan. Tapi saat pesta pernikahan, pasukan Wurawari dari Lwaram menyerbu. Dharmawangsa dan seluruh keluarganya gugur. Dyah Joning juga gugur. Hanya Airlangga yang selamat, melarikan diri ke hutan, dan kelak mendirikan Kahuripan.
Bunga-bunga joning yang menghiasi pesta berserakan di tengah kehancuran. Kuningnya bercampur merah darah. Jo—ijo lan kuning—berubah menjadi bang—abang. Dari duka itu lahir nama Jobang, yang kelak menjadi Jombang.
Airlangga: Raja yang Memahat Kenangan
Setelah naik tahta pada 1019 M, Airlangga tidak melupakan Dyah Joning. Ia merenovasi Girindra Prasada—candi yang sudah ada sejak era Medang—dan mencetak relief yang menceritakan kisah istrinya. Relief itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah monumen cinta—cara seorang raja mengenang wanita yang tidak sempat ia lihat tumbuh tua bersamanya.
Relief di Candi Arimbi bercerita tentang Dharmawangsa Teguh yang memohon keturunan kepada Siwa-Parwati, penitisan bidadari, kelahiran Dyah Joning, hingga ia tumbuh di taman bunga keraton. Di dalam Padma-Mandala, terpahat dua figur: pria duduk dan wanita menari—pembacaan visual yang mengingatkan pada Siwa-Parwati, tapi juga pada Airlangga dan Dyah Joning.
Dan relief Garudeya—Garuda, kendaraan Wisnu—menjadi cap pengakuan bahwa renovasi itu dilakukan Airlangga, raja yang bergelar titisan Wisnu. Dalam bahasa visual Jawa Kuno, memahat Garuda di candi yang direnovasi oleh raja bergelar Wisnu adalah pernyataan identitas: "Candi ini berada di bawah naungan Sang Garuda, kendaraan Wisnu, yang menjelma dalam diri Airlangga."
Candi Arimbi: Monumen yang Terpahat di Batu
Candi Arimbi bukan peninggalan Majapahit. Fondasi bata merahnya—tebal dan masif—adalah ciri era Medang. Airlangga hanya merenovasi: menambah struktur andesit, mencetak relief baru, dan menjadikan situs ini sebagai monumen cinta untuk istrinya.
Relief Dyah Joning, relief penitisan bidadari, relief patirtan, relief Garudeya—semua itu adalah lapisan Airlangga. Tapi fondasi bata merah di bawahnya adalah lapisan Medang—bukti bahwa situs ini sudah suci jauh sebelum Airlangga lahir. Candi ini tidak dibangun dari nol. Ia dihidupkan kembali oleh seorang raja yang tidak bisa melupakan istrinya.
📍 Baca Juga
Usia Jombang: 1007 Tahun
Jika nama Jombang diberikan Airlangga setelah ia naik tahta pada 1019 M, maka usia Jombang bukan dihitung sejak Medang—bukan sejak Mpu Sindok, bukan sejak Prasasti Anjukladang. Usia Jombang dihitung sejak Airlangga bertahta.
2026 dikurangi 1019 = 1007 tahun. Itu angka yang tegas. Bukan perkiraan, bukan tafsir—tapi perhitungan dari peristiwa yang tercatat.
Kesimpulan: Cinta yang Melampaui Mahapralaya
Candi Arimbi adalah monumen cinta Airlangga pada Dyah Joning. Ia bukan peninggalan Majapahit. Ia adalah monumen Medang yang direnovasi Airlangga—raja Kahuripan yang bergelar titisan Wisnu—untuk mengenang istrinya yang gugur dalam mahapralaya.
Dan dari duka itulah lahir nama Jombang. Kamulan adalah tanah awal. Medang adalah kerajaan. Jombang adalah nama yang diberikan Airlangga untuk mengenang Dyah Joning. Tiga fase. Satu tanah. Dan Candi Arimbi adalah saksi bisu dari fase terakhir itu—monumen cinta yang menandai perubahan nama Medang menjadi Jombang.
Selama batu itu masih berdiri, selama itu pula kisah ini akan terus dibaca: bahwa cinta seorang raja tidak berakhir di mahapralaya. Ia terpahat di batu, dan hidup dalam nama.
Penulis: Ananta Prabhavasta
📍 Baca Juga
- Candi Arimbi Bukan Milik Majapahit Tapi Medang Kamulan, Fondasi Bata Merah dan Relief Berkata Lain
- Punden Tosari Lapisan yang Lebih Tua dari Medang Kamulan, Pura Patirtan Peninggalan Rsi Markandeya
- Watu Umpak Grobogan: Bukti Kompleks Pura Berhirarki dalam Mandala Pura Prabhavasta Peninggalan Rsi Markandeya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar