Inilah Kenapa Jombang Paling Tua: Kisah Ajisaka dan Dewata Cengkar di Tanah Kamulan Sebelum Menjadi Medang
JOMBANGASLI.COM — Coba tanyakan pada warga Jombang: "Apa kerajaan paling tua di Jawa Timur?" Sebagian besar akan menjawab Majapahit. Sebagian lagi akan menyebut Kediri atau Singasari. Sangat sedikit yang tahu bahwa jauh sebelum semua kerajaan itu berdiri, sudah ada peradaban di tanah Jombang—dan namanya bukan Medang, melainkan Kamulan.
Tanah Kamulan: Titik Mula Peradaban Jawa Timur
Kata kamulan berasal dari akar kata mula—awal, asal-usul, titik berangkat. Dalam tradisi Jawa Kuno, kamulan bukan sekadar nama tempat. Ia adalah konsep kosmologis: tempat pemujaan leluhur, tempat asal mula segala sesuatu.
Sebelum Mpu Sindok memindahkan pusat Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada 929 Masehi, kawasan lembah Sungai Brantas—membentang dari Nganjuk, Jombang, hingga Mojokerto—sudah menjadi pemukiman agraris dan keagamaan yang mapan. Di sinilah tanah Kamulan berada. Dan di sinilah peradaban Jawa Timur dimulai.
Kisah Ajisaka dan Dewata Cengkar
Dalam tutur masyarakat Jawa, nama Kamulan selalu dikaitkan dengan kisah Ajisaka dan Prabu Dewata Cengkar. Kisah ini tercatat dalam Serat Sindula dan Babad Tanah Jawi—keduanya naskah pasca-Majapahit yang menghimpun memori kolektif berabad-abad.
Dikisahkan, Prabu Dewata Cengkar adalah raja di tanah Kamulan yang gemar memangsa daging manusia. Ia bukan sekadar tokoh sejarah berdarah-daging—ia adalah allegori. Dewata Cengkar melambangkan era prasejarah lokal: masa ketika tata hukum belum terbentuk, kekuasaan dijalankan dengan kesewenang-wenangan, dan masyarakat belum mengenal tradisi literasi.
Kemudian datanglah Ajisaka dari Bumi Majeti. Ia membawa ikatan kepala (sorban) yang membentang luas—dan dengan sorban itu, ia melemparkan Dewata Cengkar ke Laut Selatan. Peristiwa ini menandai dua hal penting:
Penaklukan ruang dan hukum: Sorban Ajisaka adalah batas kepemilikan tanah dan simbol lahirnya pranata hukum serta tata kelola wilayah.
Transformasi kultural: Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih—melambangkan pembersihan zaman kegelapan, digantikan era baru yang melek huruf melalui penciptaan Aksara Jawa (Hanacaraka).
Jombang sebagai Tanah Kamulan
Mengapa Jombang memegang peran sentral dalam konsep Kamulan?
Secara geografis, Jombang berada di jantung lembah Brantas—wilayah yang subur, diapit sungai, dan menjadi jalur transportasi utama. Sebelum Mpu Sindok datang, kawasan ini sudah menjadi pusat aktivitas agraris dan spiritual. Dalam memori tutur lokal, Jombang dianggap sebagai tanah kamulan—titik mula peradaban Jawa bagian timur.
Ketika ancaman bencana alam dan gejolak politik memaksa penguasa Jawa Tengah menggeser pusat kekuasaannya ke timur, tanah Kamulan inilah yang menyambut dan menyediakan fondasi geostrategis yang siap pakai.
Peleburan Nama: Dari Kamulan Menjadi Medang Kamulan
Peleburan istilah Medang dan Kamulan adalah hasil dari cultural layering—penebalan narasi yang berlangsung berabad-abad:
Fase Pertama (Pra-Medang): Wilayah Jombang dan sekitarnya dikenal sebagai Kamulan—entitas lokal tempat bertatanya peradaban awal, diabadikan lewat mitos Ajisaka.
Fase Kedua (Era Wangsa Isyana): Mpu Sindok mendirikan pusat pemerintahan baru di Watugaluh (Jombang) dan mempertahankan nama resmi kerajaannya: Rājya Śrī Matarām atau Medang.
Fase Ketiga (Tradisi Babad Pasca-Majapahit): Para juru cerita dan pengarang babad menggabungkan kebesaran nama institusi Medang dengan toponimi kuno Kamulan. Pencangkokan ini melahirkan sebutan tunggal Medang Kamulan—sebuah nama yang membedakan Kerajaan Medang era Jawa Timur dari Mataram Kuno era Jawa Tengah.
Kesimpulan
Menatap legenda Ajisaka melalui kacamata branding kota tidak mengurangi nilai luhurnya. Sebaliknya, hal ini mempertegas bahwa Jombang bukan sekadar Kota Santri. Jombang adalah Tanah Kamulan—tempat Ajisaka menanamkan benih literasi dan tata negara, jauh sebelum Medang berdiri.
Inilah kenapa Jombang paling tua. Bukan karena prasastinya, bukan karena candinya—tapi karena di sinilah peradaban Jawa Timur dimulai.
Kenali akarmu. Banggakan leluhurmu. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar