Memerintah Tanpa Senjata: Pu Sindok, Raja Medang Kamulan di Jombang Menjadi Jaman Paling Adil dan Damai
JOMBANG — Nama Pu Sindok mungkin tidak selegendaris Airlangga atau Dharmawangsa. Namun di atas tanah Jombang, raja Medang Kamulan ini meninggalkan jejak yang jarang dimiliki penguasa lain: pemerintahan tanpa senjata terhadap rakyatnya. Sebuah era yang oleh banyak kalangan disebut sebagai jaman paling adil dan damai.
Pu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada 929 Masehi. Pusat kekuasaannya berada di Tamwlang—yang oleh sejarawan diidentifikasi sebagai Tembelang, Jombang. Perpindahan ini bukan penaklukan. Wilayah Jawa Timur sudah menjadi bagian kekuasaan Mataram, sehingga prosesnya berjalan tanpa pertumpahan darah.
Yang membuat Pu Sindok berbeda bukan cara ia naik takhta, melainkan cara ia memerintah. Dari sekitar 23 prasasti yang ia keluarkan, mayoritas berisi penetapan sima—tanah bebas pajak untuk kepentingan rakyat dan bangunan suci. Pajak yang seharusnya masuk kerajaan dialihkan untuk pemeliharaan tempat ibadah dan kebutuhan komunitas lokal.
Membeli, Bukan Merampas
Bukti paling tajam datang dari Prasasti Masahar, ditemukan di Situs Gemekan, Mojokerto, Februari 2022. Prasasti bertanggal 852 Saka (930 M) itu mencatat bahwa tanah untuk bangunan suci Prasada Kabhaktyan Pangurumbigyan dibeli oleh Rakai Hanyangan bersama putrinya, Dyah Parhyangan, seharga 3 kati 5 suwarna emas.
Kepala BPCB Jatim saat itu, Zakaria Kasimin, menegaskan: "Raja Mpu Sindok tidak semena-mena membangun di lahan ini, tetapi lahan masyarakat dia beli." Inilah wajah pemerintahan yang jarang ditemui. Di saat banyak raja membangun candi dengan tenaga rakyat dan tanah rampasan, Pu Sindok memilih membeli. Ia memberi kompensasi. Ia tidak mengambil hak rakyatnya.
Pu Sindok memerintah rakyatnya tanpa senjata. Ia tidak menindas dengan kekuatan militer, tidak merampas tanah, dan tidak menambah beban pajak. Sebaliknya, ia membeli tanah dengan harga wajar, membebaskan pajak lewat sima, dan membangun bendungan untuk irigasi rakyat.
Jejak di Tanah Jombang
Jombang menyimpan jejak kebijakan berpihak rakyat ini. Prasasti Poh Rinting, ditemukan di Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Jombang, bertanggal 28 Oktober 929 M, mencatat penetapan Desa Poh Rinting sebagai sima untuk kabikuan (pertapaan). Prasasti Tengaran, bertanggal 935 M, mencatat penetapan Gewek sebagai sima karena rakyat desa dianggap berjasa membantu pencarian putri raja.
Kisah Prasasti Tengaran menggambarkan karakter Pu Sindok. Saat mencari putrinya, Sri Isyana Tunggawijaya, ia kesulitan menyeberangi Sungai Brantas. Warga Desa Geweg menolongnya dengan membuat perahu. Sebagai terima kasih, desa itu ditetapkan sebagai sima—bebas pajak. Hadiah untuk rakyat, bukan untuk diri sendiri.
Adil, Bijaksana, dan Toleran
Pu Sindok dikenal adil dan bijaksana, selalu berusaha memakmurkan rakyatnya. Ia penganut Hindu taat, tetapi menjaga toleransi. Buktinya, ia memberikan penghargaan Desa Wanjang sebagai sima kepada penganut Buddha, Sri Sambhara Suryawarana, penulis kitab Sang Hyang Kamahayanikan.
Di bidang infrastruktur, Prasasti Turryan (929 M) mencatat perintah membangun bendungan untuk mengairi sawah. Prasasti Wulig (935 M) mencatat perintah serupa oleh permaisuri Pu Sindok. Ia tidak hanya menetapkan pajak, tetapi memastikan rakyat punya air untuk menggarap tanahnya.
Satu Catatan Perang
Ada satu catatan perang: Prasasti Anjukladang (937 M) menyebut pasukan Melayu atau Sriwijaya menyerang hingga Nganjuk, namun berhasil dipukul mundur. Perang ini bersifat defensif—melindungi rakyat, bukan menaklukkan. Dalam konteks memerintah tanpa senjata terhadap rakyatnya, catatan ini tidak mengurangi apa pun.
Pu Sindok mengangkat senjata hanya untuk membela, bukan untuk menindas. Ia tetap raja yang membawa kedamaian bagi rakyatnya, bukan raja yang menaklukkan bangsa lain.
Warisan yang Berbicara
Dari Jombang, Pu Sindok membangun Medang Kamulan sebagai kelanjutan Mataram Kuno. Ia memerintah hingga 947 M, meninggalkan warisan berupa prasasti yang berbicara tentang keadilan. Di tengah sejarah kekuasaan yang sering diwarnai penindasan, pemerintahan Pu Sindok berdiri sebagai pengecualian.
Bukan dengan senjata. Tetapi dengan keadilan. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar