Anggaran Cagar Budaya Jombang Rp684 Juta, Mojokerto Rp146 Miliar, Kediri Rp4,6 Miliar: Situs Medang Kalah Bergengsi?
JOMBANG — Jombang adalah rumah bagi peninggalan penting dari era Kerajaan Medang. Candi Pandegong, Situs Mbah Blawu, hingga Petirtaan Sumberbeji adalah bukti bahwa tanah ini pernah menjadi pusat peradaban pada abad ke-10 Masehi. Namun, jika bicara soal anggaran pelestarian, Jombang harus puas berada jauh di bawah daerah tetangganya.
Anggaran yang Timpang
Disdikbud Jombang mengelola program pelestarian cagar budaya dengan pagu anggaran Rp684.751.800. Anggaran itu digunakan untuk ekskavasi lima situs sekaligus: Pande Gong, Mbah Blawu, Grobogan, Yoni Gambar, dan Candi Pundong.
Bandingkan dengan dua tetangga Jombang:
Mojokerto baru saja memulai pembangunan gedung baru Museum Majapahit di Trowulan dengan pagu Rp146,9 miliar dari APBN melalui Kementerian Kebudayaan RI.
Kediri sedang merehabilitasi Museum Sri Aji Joyoboyo dengan pagu sekitar Rp4,619 miliar, meliputi amphitheater, fasad, akses masuk, parkir, hingga penataan kabel fiber optik.
Selisihnya mencolok. Anggaran cagar budaya Jombang kalah 214 kali dari Mojokerto dan hampir 7 kali dari Kediri.
Situs Medang yang Menunggu Tangan
Jombang tidak kekurangan situs bersejarah. Candi Pandegong di Mojowarno adalah bangunan Hindu-Siwa abad ke-10 dari masa Mpu Sindok. Ekskavasi sejak 2021 menemukan arca Mahakala, Nandiswara, batu yoni, dan fragmen keramik dari Dinasti Tang dan Song.
Situs Mbah Blawu di Jogoroto menyimpan struktur candi yang oleh arkeolog BPCB Jatim diperkirakan lebih tua dari Majapahit. Bata merahnya setebal 11 sentimeter, sementara bata Majapahit di Trowulan paling tebal hanya 7 sentimeter.
Petirtaan Sumberbeji di Ngoro telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional pada 2022. Pengakuan tertinggi. Tapi pengakuan tanpa anggaran memadai hanya menjadi gelar tanpa tindakan.
Ekskavasi yang Terus Berjalan
Meski anggaran terbatas, Disdikbud Jombang tidak diam. Sepanjang 2022, ekskavasi dilakukan di lima situs sekaligus. Candi Pandegong sudah masuk tahap keempat pada 2023. Situs Mbah Blawu diekskavasi dua tahap pada 2022.
Tapi ekskavasi lanjutan butuh dana. Dana itu harus dibagi untuk lima situs sekaligus, ditambah pembinaan juru pelihara, penetapan cagar budaya, dan pengelolaan museum.
Mengapa Kalah Bergengsi?
Pertama, status kawasan. Trowulan adalah kawasan cagar budaya nasional dengan anggaran khusus dari pusat. Jombang tidak punya status itu.
Kedua, beban biaya. Jombang punya 19 benda budaya tidak bergerak dan 159 benda budaya bergerak yang tersebar di 15 kecamatan. Anggaran Rp684 juta harus dibagi untuk semuanya.
Ketiga, prioritas pembangunan. Cagar budaya sering berada di urutan bawah dibanding pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan.
Yang Tersisa
Jombang punya Galeri Mini sebagai tempat penyimpanan temuan arkeologis. Juru pelihara situs mendapat honor Rp750 ribu dan pembinaan rutin. Tim dari BPCB Jatim masih rutin turun ke lapangan.
Tapi tanpa lonjakan anggaran, situs-situs Medang di Jombang akan terus menunggu. Sementara Mojokerto punya Museum Majapahit yang menjulang, dan Kediri punya museum yang sedang direhab, Jombang masih berjuang dengan Rp684 juta untuk menjaga jejak peradaban yang jauh lebih tua dari keduanya. (*)
Editor: Om Bin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar