King Makutawangsawardhana: Genius Cultivator Jombang, Militer Kuat, Jawa-Bali Tunduk, Sriwijaya Tak Berani Menyentuh

Ilustrasi Raja Makutawangsawardhana, penguasa Medang yang memerintah dalam senyap. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Namanya nyaris tidak muncul dalam prasasti. Tidak ada catatan penaklukan, tidak ada tugu kemenangan, tidak ada prasasti yang dipahatkan atas namanya sendiri. Namun justru dari ketiadaan itulah kekuatannya terpancar.

Ia adalah Makutawangsawardhana, raja Medang ke-15 di Jawa Timur, penguasa yang memerintah sebelum tahun 991 M. Putra dari Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala. Ibunya ratu besar, putrinya Mahendradatta melahirkan Airlangga, dan cucunya Dharmawangsa Teguh menjadi raja terakhir Medang. Dalam silsilah Wangsa Isyana, ia adalah simpul yang menghubungkan dua era: fondasi Mpu Sindok dan tragedi Pralaya.

Raja yang Memerintah dalam Senyap

Prasasti Pucangan—satu-satunya sumber yang menyebut namanya—mencatat Makutawangsawardhana sebagai kakek Airlangga. Tidak ada prasasti penetapan sima atas namanya, tidak ada catatan perang, tidak ada bangunan monumental yang dikaitkan dengannya. Para sejarawan mengakui: "Jalannya pemerintahan Makutawangsawardhana tidak diketahui dengan pasti."

Namun ketiadaan catatan bukan berarti ketiadaan kekuatan. Prasasti Wwahan berangka tahun 907 Saka (985 M) diduga masih peninggalan pemerintahannya, menandakan administrasi kerajaan tetap berjalan. Yang lebih penting: di masa inilah Medang mencapai stabilitas yang membuat musuh-musuhnya berpikir seribu kali sebelum bertindak.

Fondasi yang Ditinggalkan Mpu Sindok

Makutawangsawardhana mewarisi kerajaan yang sudah tertata rapi. Mpu Sindok, kakeknya, memindahkan pusat Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada 929 M, membangun ibu kota di Watugaluh—di tepi Sungai Brantas, dekat Jombang sekarang. Selama dua puluh tahun pemerintahannya (929–948 M), Mpu Sindok mengeluarkan sekitar 30 prasasti yang umumnya memuat hal-hal keagamaan, bukti bahwa keadaan kerajaan tenteram dan damai.

Namun kedamaian itu bukan tanpa ancaman. Prasasti Anjukladang (937 M) mencatat serangan pasukan Melayu atau Sriwijaya yang sampai ke Nganjuk, berhasil dipukul mundur oleh Mpu Sindok. Sebagai tanda kemenangan, Mpu Sindok membangun Tugu Jayastamba dan menganugerahkan Anjuk Ladang sebagai tanah sima—bebas pajak—kepada rakyat yang berjasa menghalau musuh.

Militer yang Membuat Sriwijaya Berpikir Seribu Kali

Ketika Makutawangsawardhana naik takhta, fondasi militer Medang sudah kokoh. Wilayah inti kerajaan meliputi dataran rendah Sungai Brantas, dari Nganjuk di barat hingga Pasuruan di timur, dari Surabaya di utara hingga Blitar di selatan. Pusat pemerintahan di Watugaluh, Jombang, terlindung oleh benteng alami: pegunungan di selatan, sungai sebagai jalur transportasi internal, dan jarak dari pesisir yang membuat serangan laut tidak efektif.

Di era inilah Sriwijaya—kerajaan maritim yang menguasai Selat Malaka—memilih diam. Bukan karena tidak ada niat, tetapi karena harga menyerang Medang terlalu mahal. Sriwijaya menyadari: berperang sendirian melawan Medang di darat Jawa Timur adalah bunuh diri.

Bukti dari Era Dharmawangsa

Bahwa Sriwijaya tidak berani menyentuh Medang di masa Makutawangsawardhana terbukti dari apa yang terjadi setelahnya. Baru pada masa Dharmawangsa Teguh—cucu Makutawangsawardhana—Medang melancarkan serangan ke Sriwijaya. Kronik Dinasti Song mencatat bahwa pada 992 M, Shan-fo-tsi (Sriwijaya) diserang kerajaan dari She-po (Jawa). Serangan ini membuat Palembang porak-poranda dan istananya dijarah.

Namun serangan itu tidak menghancurkan Sriwijaya. Dan balasan datang bertahun-tahun kemudian. Pada 1006 atau 1016 M, Sriwijaya yang dipimpin Sri Cudamani Warmadewa menyusun strategi cerdik: menjalin persekutuan dengan Raja Wurawari dari Lwaram. Mereka menyerang istana Medang saat pesta pernikahan Airlangga, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pralaya Medang. Dharmawangsa tewas, istana hancur, dan Medang runtuh.

Yang perlu dicatat: Sriwijaya tidak pernah menyerang Medang secara langsung di masa Makutawangsawardhana. Mereka menunggu hingga ada celah—dan celah itu baru terbuka di masa Dharmawangsa, ketika ambisi Medang menyerang Sriwijaya justru menciptakan kerentanan.

Genius Cultivator Jombang

Dalam bahasa kultivator, Makutawangsawardhana adalah tipe "menyembunyikan taring di balik kedamaian". Ia tidak perlu memamerkan kekuatan karena kekuatan itu sudah terpancar dari fondasi yang ditinggalkan Mpu Sindok. Militer Medang kuat, administrasi rapi, dan jaringan loyalitas dari era kakeknya masih utuh.

Di masa pemerintahannya, kerajaan-kerajaan bawahan di Jawa dan Bali tunduk—bukan karena ditaklukkan dengan kekerasan, melainkan karena menghormati Wangsa Isyana yang sudah mapan. Bali, yang kelak menjadi rumah bagi putrinya Mahendradatta, sudah menjadi bagian dari orbit kekuasaan Medang melalui pernikahan politik.

Makutawangsawardhana memerintah dalam senyap, tetapi senyapnya adalah senyap yang ditakuti. Sriwijaya, musuh bebuyutan Medang, memilih menunggu. Dan ketika akhirnya mereka menyerang, itu bukan di masanya—tetapi di masa cucunya, ketika Medang sudah kehilangan keseimbangan.

Raja tanpa prasasti ini membuktikan satu hal: kekuatan sejati tidak selalu perlu diumumkan. Kadang, cukup diam—dan seluruh Nusantara tahu. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia