Mahendradatta, Ratu yang Dipuja Sebagai Dewi di Bali, Lahir di Jombang
JOMBANGASLI.COM — Di Bali, namanya diabadikan menjadi jalan protokol dan universitas. Di pura, ia dipuja sebagai Dewi Durga. Namun sedikit yang tahu, sosok yang dimuliakan itu lahir dan tumbuh di tanah Jombang.
Ia adalah Mahendradatta, atau dikenal di Bali sebagai Sri Gunapriya Dharmapatni. Lahir pada 961 Masehi di istana Watugaluh, pusat pemerintahan Wangsa Isyana di Jawa Timur—wilayah yang kini dikenal sebagai Megaluh, Jombang.
Putri Medang yang Menyeberang ke Bali
Mahendradatta adalah putri Sri Makutawangsawardhana, raja ketiga Medang periode Jawa Timur. Ia saudara kandung Dharmawangsa Teguh, raja terakhir Medang Kamulan. Sebagai putri Wangsa Isyana—dinasti yang didirikan Mpu Sindok—darahnya adalah darah penguasa yang membangun peradaban Jawa Timur.
Pernikahannya dengan Raja Udayana Warmadewa dari Bali bukan sekadar pernikahan politik biasa. Para sejarawan menilai ini adalah segel perjanjian yang mengikat Bali ke dalam orbit Kerajaan Medang. Mahendradatta dikirim ke Bali sebagai permaisuri, namun posisinya jauh melampaui sekadar pendamping.
Ratu yang Namanya Disebut Lebih Dulu
Bukti paling kuat akan kedudukan luar biasanya terlihat dari prasasti-prasasti Bali. Dalam Prasasti Serahi (993 M), Prasasti Buahan (994 M), dan Prasasti Bebetin, nama Gunapriya Dharmapatni selalu disebut lebih dahulu daripada nama suaminya, Raja Udayana.
Dalam tradisi kerajaan, urutan penyebutan mencerminkan hierarki kekuasaan. Sejarawan menyimpulkan kedudukan Mahendradatta lebih dominan dibanding Udayana, karena ia keturunan langsung Dharmawangsa dari Jawa Timur.
Perannya dalam pemerintahan sangat nyata. Salah satu warisannya yang bertahan lama adalah mengubah bahasa resmi prasasti Bali dari Bahasa Bali Kuno menjadi Bahasa Jawa Kuno (Kawi). Ini bukan sekadar pergantian bahasa—ini adalah strategi budaya untuk mengintegrasikan Bali ke dalam lingkup peradaban Jawa Timur.
Dari Ratu Menjadi Dewi
Mahendradatta memerintah bersama Udayana dari 989 hingga 1001 Masehi. Setelah 1001 M, namanya tidak lagi muncul dalam prasasti yang dikeluarkan suaminya. Ia wafat sekitar tahun 1011 M.
Setelah kematiannya, Mahendradatta didewakan. Arca Durga Mahisasuramardini—Dewi Durga yang membunuh iblis berwujud kerbau—diyakini banyak ahli sebagai perwujudan Mahendradatta. Arca setinggi 2,25 meter ini kini disakralkan di Pura Bukit Dharma, Kutri, Gianyar, Bali.
Jejak Abadi di Tanah Bali
Penghormatan terhadap Mahendradatta tidak berhenti di pura. Namanya diabadikan menjadi Jalan Mahendradatta, jalan protokol utama di Denpasar Barat. Universitas tertua di Bali, yang didirikan pada 17 Januari 1963 dengan pengesahan Presiden Soekarno, juga menyandang namanya: Universitas Mahendradatta.
Ibu dari Raja Besar
Dari rahim Mahendradatta lahir Airlangga, raja yang kelak menyatukan kembali Medang dan mendirikan Kahuripan. Ketika Pralaya Medang terjadi pada 1016 M—serangan Wurawari saat pesta pernikahan Airlangga—Airlangga berhasil melarikan diri dan hidup sebagai pertapa di hutan sebelum membangun kekuatannya kembali.
Mahendradatta juga melahirkan raja-raja Bali: Marakata dan Anak Wungsu, yang berturut-turut memerintah Bali setelah Udayana.
Legenda Rangda
Di Bali, Mahendradatta juga dikaitkan dengan legenda Rangda, sosok penyihir dalam mitologi Bali. Cerita rakyat menyebutkan ia dikutuk dan diasingkan karena dituduh mempraktikkan ilmu hitam, lalu membalas dendam dengan memanggil roh-roh jahat.
Sejarawan menilai citra negatif ini mungkin motivasi politik pengadilan Bali untuk mendiskreditkan ratu asing Jawa yang terlalu berkuasa. Yang jelas, Mahendradatta adalah penganut setia kultus Durga, yang dibawanya dari Jawa Timur ke Bali.
Warisan yang Tak Terhapus
Dari Jombang, Mahendradatta membawa peradaban, kekuasaan, dan spiritualitas yang mengubah Bali. Ia bukan sekadar permaisuri—ia adalah arsitek integrasi budaya Jawa-Bali. Namanya bukan sekadar sejarah. Ia adalah dewi yang lahir dari rahim Jombang. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar