Mpu Wahan: Saksi Terakhir Kejayaan Medang di Watugaluh Jombang, Menjaga Medang Dengan Tetesan Darah Mahapralaya.

Ilustrasi Mpu Wahan, pejabat Medang era Dharmawangsa Teguh. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Namanya mungkin hanya dikenang sebagai nama gang kecil. Tidak ada patungnya di taman kota. Tapi dari tangannya, sebuah prasasti lahir—dan dari prasasti itulah kita tahu bahwa pusat Kerajaan Medang masih di Watugaluh, Jombang, bahkan di ambang kehancuran.

Ia adalah Mpu Wahan. Pejabat era Dharmawangsa Teguh, raja terakhir Medang Kamulan. Namanya muncul dalam Prasasti Wwahan—batu andesit berangka 907 Saka (985 M) yang ditemukan di Dusun Bandaralim, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk.

Prasasti yang Menegaskan Jombang

Prasasti Wwahan menyimpan satu frasa yang sangat penting bagi sejarah Jombang:

"datwan i mdan ri bumi mataram i watugaluh"

Artinya: "Kedaton di Medang di bumi Mataram di Watugaluh."

Frasa ini menegaskan bahwa pada tahun 985 Masehi—di masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh—pusat kerajaan masih berada di Watugaluh, yang kini menjadi Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang.

Ini bukan klaim kosong. Prasasti Wwahan adalah salah satu dari sedikit prasasti yang dikeluarkan oleh Makutawangsawardhana—ayah Dharmawangsa—dan menjadi bukti bahwa Jombang adalah pusat pemerintahan Medang Kamulan hingga akhir abad ke-10.

Mpu Wahan: Pejabat yang Mencatat Sejarah

Dalam Prasasti Wwahan, Mpu Wahan bertugas menangani penetapan sima untuk warga di Wwahan. Ia adalah pejabat yang bekerja di bawah Dharmawangsa Teguh, raja yang berusaha memperluas kekuasaan Medang ke Bali dan Sumatera.

Peran Mpu Wahan mungkin tampak administratif. Tapi justru dari administrasi itulah sejarah bertahan. Tanpa prasasti yang ia tangani, kita tidak akan tahu bahwa Jombang masih menjadi pusat Mataram hingga tahun 985 M—hanya 31 tahun sebelum Pralaya Medang menghancurkan segalanya.

Mpu Wahan adalah saksi terakhir sebelum kegelapan. Ia mencatat Jombang sebagai pusat Mataram, lalu menghilang dari sejarah—bersama raja yang ia layani, bersama istana yang ia catat, bersama seluruh peradaban yang hancur dalam satu malam.

31 Tahun Sebelum Kehancuran

Prasasti Wwahan dikeluarkan tahun 985 M. Tiga puluh satu tahun kemudian—1016 M—Medang Kamulan runtuh dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pralaya Medang.

Serangan itu datang dari Wurawari dari Lwaram (kini Ngloram, Cepu, Blora), yang bersekutu dengan Sriwijaya. Alasan Wurawari memberontak: lamarannya terhadap putri Dharmawangsa ditolak. Dharmawangsa lebih memilih Airlangga—keponakannya sendiri—sebagai menantu.

Serangan terjadi saat pesta pernikahan Airlangga dan putri Dharmawangsa berlangsung. Istana dihancurkan. Dharmawangsa tewas. Seluruh keluarga kerajaan gugur. Hanya Airlangga yang berhasil lolos, ditemani Narottama, melarikan diri ke hutan Wanagiri.

Saksi yang Tidak Selamat

Mpu Wahan mencatat kemegahan Medang di Watugaluh pada tahun 985 M. Tapi ia kemungkinan besar tidak selamat dari Pralaya 1016.

Karena jika ia masih hidup, jika ia masih menjabat, mungkin akan ada prasasti lain—prasasti yang mencatat pusat Medang masih di Watugaluh. Tapi tidak ada. Yang tersisa hanya Prasasti Wwahan, yang kini disimpan di Museum Trowulan.

Warisan yang Terlupakan

Hari ini, Prasasti Wwahan tersimpan di museum. Frasa "watugaluh" masih bisa dibaca. Tapi Mpu Wahan—namanya—hanya dikenang sebagai nama gang kecil.

Padahal, dari tangannya kita tahu bahwa Jombang bukan sekadar "kota santri". Jombang adalah pusat Mataram Kuno yang terakhir. Jombang adalah kedaton Medang yang terakhir. Jombang adalah rumah terakhir sebelum segalanya hancur.

Mpu Wahan menjaga Medang dengan tetesan darah Mahapralaya. Ia mencatat kejayaan di ambang kehancuran. Dan dari catatannya, kita tahu: Jombang pernah menjadi pusat peradaban. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia