Pu Sashara, Mahapatih Medang Kamulan Jombang. Cultivator Nirvana Shatterer Mampu Pukul Mundur Sriwijaya.
JOMBANGASLI.COM — Di jantung Medang Kamulan, saat Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa Timur pada 929 Masehi, ada satu nama yang menjadi pilar utama: Pu Sashara. Ia adalah Rakryan Mapatih i Hino—jabatan tertinggi setelah raja dalam struktur pemerintahan Medang.
Ibu kota pertama Medang di timur adalah Tamwlang—yang oleh sejarawan diidentifikasi sebagai Tembelang, Jombang. Di sinilah Pu Sashara bekerja, mengatur tatanan kerajaan, menetapkan sima, dan menjaga stabilitas wilayah yang baru saja menjadi pusat peradaban.
Tangan Kanan Mpu Sindok
Pu Sashara bukan pejabat biasa. Ia adalah ipar Mpu Sindok—kerabat dekat dari pihak permaisuri, Sri Parameswari Dyah Kbi. Posisinya di lingkar inti kekuasaan sudah terbentuk sejak awal. Sebagai Rakryan Mapatih i Hino, ia memegang kendali atas administrasi kerajaan, penetapan tanah, dan koordinasi wilayah.
Dalam struktur Rakryan Mahamantri Katrini—tiga menteri utama Medang—Pu Sashara duduk di posisi teratas. Tugasnya menerima perintah raja, lalu menurunkannya ke pejabat di bawah. Ia adalah jembatan antara kehendak raja dan pelaksanaan di lapangan.
Anjuk Ladang: Medan Kehormatan
Tahun 937 Masehi menjadi titik penting. Pasukan dari Melayu—yang oleh banyak sejarawan diidentifikasi sebagai Sriwijaya—menyerang hingga mencapai wilayah Anjuk Ladang (kini Nganjuk). Ini bukan serangan kecil. Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang menguasai Selat Malaka, kekuatan yang disegani di seluruh Nusantara.
Mpu Sindok memimpin langsung pasukannya menghalau serangan itu. Dan pasukan Melayu/Sriwijaya berhasil dipukul mundur. Kemenangan ini bukan hanya soal kekuatan fisik. Medang saat itu memiliki fondasi militer yang kuat, dan Sriwijaya—sekuat apa pun di laut—tidak punya pijakan di darat Jawa Timur.
Kemenangan atas Sriwijaya bukan sekadar peristiwa militer. Ia menjadi fondasi legitimasi Medang sebagai kekuatan baru di Jawa Timur—dan Pu Sashara adalah salah satu pilar yang menopangnya.
Eksekutor Keputusan Raja
Setelah perang usai, Mpu Sindok mengeluarkan perintah: Anjuk Ladang ditetapkan sebagai sima swatantra—tanah bebas pajak—sebagai balas jasa rakyat yang membantu perang. Pajaknya dialihkan untuk memelihara bangunan suci Prasada Kabhaktyan i Sri Jayamerta.
Dan siapa yang dipercaya mengeksekusi keputusan ini?
Dalam Prasasti Anjukladang (937 M), tertulis jelas:
"...tinadah rakryan mapatih i hino pu sahasra, rake wka pu baliswara..."
Artinya: "Ditangani oleh Rakryan Mapatih i Hino Pu Sahasra dan Rake Wka Pu Baliswara."
Inilah bukti kepercayaan penuh Mpu Sindok kepada Pu Sashara. Bukan sekadar pejabat biasa—ia adalah eksekutor utama keputusan raja pasca-kemenangan.
Tanah yang Disucikan
Kepercayaan Mpu Sindok kepada Pu Sashara tidak berhenti di situ. Dalam Prasasti Waharu II (929 M), disebutkan bahwa tanah milik Rakryan Mahamantri Pu Sahasra dijadikan dharmma sima—tanah suci yang dilindungi kerajaan.
Ini bukan hal biasa. Sebuah tanah pribadi yang dijadikan dharmma sima berarti pemiliknya mendapat pengakuan spiritual dan politik dari raja. Hanya orang-orang yang sangat dipercaya yang mendapat kehormatan seperti ini.
Logika Kemenangan
Jika Pu Sashara tidak berkontribusi dalam perang melawan Sriwijaya, mengapa ia—bukan orang lain—yang dipercaya mengeksekusi keputusan pasca-perang?
Jika ia tidak terlibat dalam kemenangan itu, mengapa tanahnya dijadikan dharmma sima di tahun yang sama?
Dan jika ia bukan aktor kunci, mengapa ia menjabat Rakryan Mapatih i Hino—posisi tertinggi setelah raja—di usia awal Medang Jawa Timur?
Kronologi berbicara: kepercayaan tinggi dari raja + posisi strategis + hubungan kekerabatan—tiga hal yang sulit dijelaskan kalau ia hanya "orang administratif" yang tidak terlibat.
Warisan di Tanah Jombang
Pu Sashara adalah simbol dari kekuatan yang bekerja dalam diam. Ia tidak menuntut pengakuan. Tidak ada prasasti yang memuat namanya sebagai pahlawan perang. Tapi jejaknya ada di setiap keputusan yang membangun Medang Kamulan di tanah Jombang.
Dari Tamwlang, dari Watugaluh, dari jantung Jombang—Pu Sashara menjadi salah satu pilar yang membuat Medang berdiri kokoh. Sriwijaya, musuh bebuyutan yang menguasai lautan, tidak berani menyentuh selama Medang memiliki orang-orang seperti dia.
Kekuatan sejati tidak selalu terlihat. Tapi selalu menentukan. (*)
Penulis: Pu Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar