Raja-Raja di Jawa Timur dan Bali Asalnya dari Jombang: Sri Parameswari Dyah Kbi, Rahim Pertama Para Kesatria!
JOMBANGASLI.COM — Sebuah nama jarang disebut dalam historiografi populer, namun jejaknya mengalir dalam darah raja-raja besar di Jawa Timur hingga Bali. Ia adalah Sri Parameswari Dyah Kbi, permaisuri Mpu Sindok yang menancapkan akar dinasti di tanah Jombang.
Bukti utama keberadaan Dyah Kbi sebagai "rahim pertama" Wangsa Isyana terpahat dalam Prasasti Cunggrang (929 M). Prasasti yang ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, di lereng timur laut Gunung Penanggungan (Pawitra) itu mencatat penetapan Desa Cunggrang sebagai sima (tanah perdikan) untuk pertapaan di Pawitra. Yang menarik, prasasti ini menyebut secara eksplisit bahwa sima tersebut dipersembahkan untuk pemujaan Rakryan Bawang Dyah Srawana—ayah dari Dyah Kbi.
Jejak yang lebih kuat justru berasal dari Prasasti Tengaran (935 M), yang masih berdiri in situ di Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Prasasti bertanggal 6 Paropeteng bulan Srawana tahun 857 Saka itu mencatat penetapan wilayah Gewek sebagai sima oleh Mpu Sindok bersama Rakyan Sri Parameswari Sri Wardhani Kbi—sang permaisuri.
Raja-Raja Jawa Timur: Garis Airlangga hingga Kediri
Dari rahim Dyah Kbi lahir Sri Isyana Tunggawijaya, yang kelak memerintah Medang periode Jawa Timur. Isyana menikah dengan Sri Lokapala dari Bali, dan dari pernikahan itu lahir Sri Makutawangsawardhana. Garis ini terus berlanjut hingga Mahendradatta, yang menikah dengan Udayana, raja Bedahulu di Gianyar, Bali, dari Wangsa Warmadewa.
Pernikahan Mahendradatta dan Udayana melahirkan Airlangga—raja yang kelak menyatukan kembali Medang dan mendirikan Kahuripan. Airlangga inilah yang membagi kerajaannya menjadi dua:
Jenggala (Kahuripan) — diperintah Sri Samarawijaya, berpusat di Sidoarjo.
Panjalu (Kediri/Daha) — diperintah Sri Mapanji Garasakan, berpusat di Kediri. Dari garis inilah lahir Sri Aji Jayabaya, raja Kediri yang terkenal dengan Ramalan Jangkanya.
Ksatria Kahuripan ke Bali: Arya dan Daerah Kekuasaannya
Hubungan darah ini tidak putus. Pada era Majapahit, Gajah Mada mengirim para ksatria dari trah Kahuripan untuk menaklukkan dan memerintah Bali pada 1343 M. Ekspedisi ini dipimpin oleh Arya Kenceng dan saudara-saudaranya. Babad Arya Tabanan mencatat pembagian wilayah kekuasaan para Arya di Bali:
Arya Kenceng — Tabanan (40.000 rakyat). Menjadi leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.
Arya Kuta Waringin — Gelgel (5.000 rakyat).
Arya Sentong — Pacung / Perean (10.000 rakyat).
Arya Belog (Tan Wikan) — Kaba-Kaba (5.000 rakyat).
Arya Kanuruhan — Tangkas.
Arya Delancang — Kapal.
Arya Punta — Mambal.
Arya Jerudeh — Temukti.
Arya Tumenggung — Patemon.
Arya Pamacekan — Bondalem.
Arya Beleteng — Pacung.
Keturunan Arya Kenceng kemudian menyebar dan memegang jabatan-jabatan penting di Bali. Mereka memakai gelar "I Gusti" sebagai penanda keturunan para Arya penakluk Bali. Bahkan hingga masa Bali pertengahan, trah Arya Kenceng tetap menjadi penguasa Tabanan dan sekitarnya.
Rahim Pertama Para Kesatria
Dari Jombang, melalui Prasasti Tengaran yang masih berdiri di tengah sawah Peterongan, nama Sri Parameswari Dyah Kbi menjadi titik awal sebuah garis panjang. Ia adalah rahim pertama yang melahirkan raja-raja Jawa Timur—dari Isyana hingga Airlangga, dari Jayabaya hingga ksatria-ksatria Kahuripan yang berkuasa di Bali.
Sejarah tidak selalu ditulis oleh para raja. Kadang, sejarah ditulis oleh rahim yang melahirkan mereka. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar