Warga Jombang Tak Kenal Leluhurnya! Kenapa Sejarah dan Kepurbakalaan Jombang Kalah Jauh dari Mojokerto? Berikut 5 Biang Keroknya.
JOMBANGASLI.COM — Jombang punya Medang Kamulan. Mojokerto punya Majapahit. Tapi kenapa yang satu punya museum Rp146 miliar, yang lain cuma punya anggaran Rp684 juta? Kenapa yang satu jadi rujukan dunia, yang lain prasastinya berdiri di sawah?
Ini bukan soal siapa yang lebih tua. Ini soal siapa yang berani mengakui akarnya sendiri—dan siapa yang memilih pura-pura lupa.
1. Islamisasi Situs: Ketika Candi Dikubur Makam
Banyak situs Medang dan Kahuripan di Jombang tertutup lapisan Islam.
Makam Pangeran Benowo di Wonosalam diklaim sebagai makam putra Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Tapi fakta lapangan tidak cocok. Elevasinya di puncak gundukan. Nisannya batu andesit polos tanpa kaligrafi. Puluhan makam pendamping berada di lokasi terpisah dari pemakaman desa resmi. Warga setempat menyebut dahulu di lokasi itu ada struktur menyerupai candi yang sengaja diuruk.
Makam Wali Wonosegoro di Gunung Kuncung diklaim sebagai makam Raja Brawijaya V yang moksa. Padahal JombangAsli.com menegaskan Gunung Kuncung adalah petilasan Raden Wijaya Kusuma (Ki Medangkung), sesepuh pendiri Medang Timur, saudara Sri Parameswari Dyah Kbi.
2. Pemkab Tak Punya Narasi Besar, Hari Lahir Saja Bingung
Mojokerto punya narasi besar: "Pusat Kerajaan Majapahit, Kejayaan Nusantara." Jombang? Narasi Pemkab paling jauh cuma seputar sejarah birokrasi lokal dan asal-usul nama desa.
Bukti paling telak: Hari Jadi Jombang ditetapkan 18 Oktober 1910—tanggal pembentukan kabupaten oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pemekaran dari Mojokerto. Secara legal-formal, Pemkab Jombang mengakui dirinya lahir sebagai anak administratif dari Mojokerto.
Padahal Prasasti Tengaran (935 M) masih berdiri di Peterongan. Tanggal itu bisa jadi titik awal—1.000 tahun lebih tua dari 1910. Tapi tidak dilakukan. Malas riset? Atau memang tidak berani?
Selama Jombang tidak memiliki rumah bagi sejarahnya sendiri, narasi Medang Kamulan akan terus hidup di prasasti yang dibiarkan di sawah—tanpa penjaga, tanpa penjelasan, tanpa generasi yang memahami.
3. Label Kota Santri Menganggap Sejarah Non-Islam Tabu
Jombang bangga jadi Kota Santri. Tapi label itu membuat sejarah pra-Islam—Medang, Hindu-Buddha, Wangsa Isyana—seolah tabu untuk diangkat.
Tidak ada jalan bernama Mpu Sindok di Jombang. Tidak ada museum Medang. Tidak ada monumen Isyana. Bandingkan dengan Mojokerto: jalan, gedung, bahkan universitas menyandang nama Majapahit. Jombang memilih mengingat kiai, tapi lupa raja.
Pertanyaannya: Apakah karena Medang dianggap "terlalu Hindu" untuk kota yang bangga jadi santri?
4. Majapahit-Sentris, Padahal Medang Kamulan Lebih Tua
Pemkab dan dinas lebih suka menempel ke Majapahit karena lebih "seksi". Padahal Jombang adalah pusat Medang Kamulan—lebih tua, lebih dalam, lebih berakar.
Tanpa Medang, tidak ada Airlangga. Tanpa Airlangga, tidak ada Kediri dan Jenggala. Tanpa Kediri dan Jenggala, tidak ada Singasari. Tanpa Singasari, tidak ada Majapahit. Jombang adalah nenek moyang dari kerajaan yang ia idolakan. Tapi ia malu mengakuinya.
5. Sibuk Seremonial daripada Eskavasi
Anggaran cagar budaya Jombang hanya Rp684.751.800—kalah 214 kali dari Mojokerto yang punya Rp146,9 miliar. Uang sekecil itu habis untuk seremonial, sosialisasi, dan pembinaan juru pelihara. Eskavasi mandek.
Situs Pandegong baru masuk tahap keempat. Situs Blawu baru diekskavasi. Situs Watu Kucur masih digali. Sementara rumah kelahiran Bung Karno di Ploso belum berstatus cagar budaya karena SK Bupati tak kunjung turun.
Situs-situs itu akhirnya dianggap penemuan batu tua lokal yang tidak punya bapak-ibu—yatim piatu. Lalu diserahkan begitu saja ke klaim besar Majapahit milik Mojokerto.
Kesimpulan
Jombang kalah bukan karena tidak punya sejarah. Jombang kalah karena tidak berani mengakui sejarahnya sendiri.
Mojokerto menang bukan karena lebih tua. Mojokerto menang karena berani membangun narasi besar—dan konsisten merawatnya sejak era kolonial.
Jombang punya Medang Kamulan. Tapi ia memilih jadi anak ket-ketan Mojokerto. (*)
Penulis: Om Bin
📍 Baca Juga
- Mana Jalan Pu Sindok? Mana Universitas Medang Kamulan? Mana Museum Isyana? Bukti Jombang Lupa Leluhurnya!
- Pu Shri Sambhara Surya Warama Penulis Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, Warisan Medang Kamulan Jombang yang Jadi Rujukan Dunia
- King Makutawangsawardhana: Genius Cultivator Jombang, Militer Kuat, Jawa-Bali Tunduk, Sriwijaya Tak Berani Menyentuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar