5 Alasan Medang di Jombang Jadi Pemerintahan Paling Ideal Sepanjang Nusantara. Ki Ananta: Spiritual Jadi Landasan.

Ki Ananta Prabhavasta, spiritualis dan penelusur sejarah Medang. (Foto: Istimewa)
Lambang Medang Kamulan: mandala peradaban Wangsa Ishana. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Dalam sejarah panjang Nusantara, banyak kerajaan besar dikenang karena kekuatan militernya atau luas wilayahnya. Tapi jarang ada yang dikenang karena kualitas pemerintahan—bagaimana raja memperlakukan rakyatnya dan bagaimana kesejahteraan dibagi.

Medang Kamulan di Jombang adalah pengecualian. Berpusat di Tamwlang dan Watugaluh, Medang di bawah Mpu Sindok (929–947 M) menciptakan sistem pemerintahan yang, dalam banyak hal, lebih maju dari zamannya.

Menurut Ki Ananta Prabhavasta, spiritualis dan penelusur sejarah Medang, kunci dari semua ini adalah spiritualitas sebagai landasan. "Medang tidak memerintah dengan senjata, tapi dengan dharma," ujarnya.

1. Tak Pernah Cari Musuh dengan Ekspansi

Medang tidak menaklukkan kerajaan lain untuk memperluas wilayah. Perang yang ada—seperti melawan Sriwijaya di Anjuk Ladang (937 M)—bersifat defensif: melindungi rakyat, bukan menaklukkan. Mpu Sindok memerintah tanpa senjata terhadap rakyatnya.

2. Tanah Bebas Pajak, Ganti Rugi untuk Fasilitas Umum

Medang mengenal sistem sima—tanah perdikan yang dibebaskan dari pajak. Pajak dialihkan untuk pemeliharaan bangunan suci dan kepentingan komunitas lokal. Jika tanah rakyat dipakai untuk kepentingan umum, raja membelinya dengan harga yang disepakati. Prasasti Masahar (930 M) mencatat tanah dibeli dengan 3 kati 5 suwarna emas—bukan dirampas.

3. Pejabat Dermawan Antikorupsi

Prasasti Masahar mencatat tradisi: pejabat kerajaan membagi-bagikan emas dan kain kepada para saksi penetapan sima. Penerimanya bukan hanya pejabat tinggi, tapi juga perangkat desa, juru tulis, hingga pelawak. Tidak ada indikasi korupsi. Yang ada adalah pembagian yang terstruktur dan transparan.

4. Perdagangan di Jalur Brantas Maju

Medang berpusat di lembah Sungai Brantas—jalur transportasi dan perdagangan utama Jawa Timur. Mpu Sindok memilih Tamwlang dan Watugaluh justru karena keduanya lebih terbuka untuk perdagangan. Dari Jombang, barang mengalir ke Hujung Galuh dan Tuban.

5. Berlandaskan Spiritual dan Toleransi Beragama Tinggi

Mpu Sindok adalah penganut Hindu Siwa yang taat. Tapi ia memfasilitasi penulisan kitab suci Buddha—Sang Hyang Kamahayanikan—oleh pujangga Pu Shri Sambhara Surya Warama. Ia bahkan menganugerahkan Desa Wanjang sebagai sima. Bukti toleransi juga terlihat dari banyaknya tempat ibadah yang dibangun: Siwa, Brahma, Buddha, bahkan sinkretis.

"Spiritual jadi landasan. Kalau raja menghormati semua jalan menuju Tuhan, rakyatnya juga akan saling menghormati." — Ki Ananta Prabhavasta

Lambang Medang Kamulan: Mandala Peradaban

Semua nilai di atas terangkum dalam sebuah lambang yang kini direkonstruksi sebagai mandala peradaban. Ia bukan sekadar logo, melainkan prasasti visual yang merangkum filosofi Wangsa Ishana.

Bingkai Feminin: Dua Lengkung Hamsa. Siluet dua leher angsa yang saling berhadapan membentuk yoni—wadah bagi seluruh elemen pusat. Hamsa hidup di Telaga Manasa dan mampu memisahkan susu dari air—kebenaran dari ketidakbenaran. Ini melambangkan kebijaksanaan tertinggi. Elemen ini juga menghormati kedaulatan feminin Wangsa Ishana, terutama Sri Isyana Tunggawijaya—ratu penguasa yang memerintah bersama Sri Lokapala.

Sumbu Siwa: Poros Vertikal. Prinsip Siwa hadir sebagai poros vertikal tegak lurus—aksis kosmik, hukum alam yang tak teroyak. Sumbu ini menembus pusat kuncup teratai, menciptakan Lingga-Yoni abstrak: kesatuan Siwa-Shakti.

Lapisan Arsitektural: Cakra/Poros Cruciform. Empat arah dari pusat mengambil inspirasi dari denah tapak dara bangunan suci Jawa Kuno—Mandala Buddha, perputaran Roda Dharma, dan Cakra Sudarsana.

Pusat Inti: Padma (Teratai). Di titik paling tengah terdapat kuncup Padma—simbol kesucian dan penciptaan. Ia melambangkan benih penciptaan Brahma dan hakikat Kebuddhaan murni.

Sintesis: Bhinneka Tunggal Ika Sebelum Bhinneka Tunggal Ika

Lambang ini menyatukan Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan Buddhisme dalam satu bentuk geometris yang tenang. Ini adalah visualisasi paling elegan dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika—jauh sebelum Mpu Tantular merumuskannya di era Majapahit.

Tragedi Akhir Medang

Sayangnya, kejayaan Medang harus berakhir tragis. Di masa Dharmawangsa Teguh (991–1016 M), kerajaan itu hancur dalam semalam akibat kelicikan Wurawari dan Sriwijaya—yang menyerang saat menggelar hajat pernikahan Airlangga dengan Dyah Joning. Pesta pernikahan berubah menjadi Mahapralaya. Dharmawangsa gugur. Hanya Airlangga yang selamat, bersembunyi di hutan Wanagiri.

Kesimpulan

Medang di Jombang adalah contoh pemerintahan yang berpihak pada rakyat—jauh sebelum konsep kesejahteraan sosial modern lahir. Tanpa ekspansi, tanah dibeli dengan ganti rugi, pajak dibebaskan, pejabat antikorupsi, perdagangan maju, dan toleransi beragama dijunjung tinggi.

Inilah warisan Jombang: pemerintahan paling ideal sepanjang jaman Nusantara. Yang harus hancur bukan karena kelemahannya sendiri, melainkan karena kelicikan di tengah perayaan. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia