Kamulan Garbha Ishana (Candi Pandegong): Wujud Bakti Sri Isyana Tunggawijaya pada Ibunya, Rakryan Parameswari Dyah Kbi
JOMBANGASLI.COM — Di Dusun Kwasen, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Jombang, tersembunyi sebuah bangunan suci dari abad ke-10. Warga menyebutnya Punden Pandegong—makam Mbah Nambi dan Mbah Ijo. Tapi di bawah lapisan cerita rakyat itu, para arkeolog menemukan sesuatu yang jauh lebih tua: bangunan suci Siwa-Brahma dari era Medang Kamulan.
Situs ini adalah Kamulan Garbha Ishana—rumah bagi rahim Wangsa Isyana.
Bukti Arkeologis
Ekskavasi BPK Wilayah XI Jawa Timur sejak 2021 mengungkap struktur bata merah berukuran besar—panjang sekitar 35 cm, lebar 22 cm, tebal 5–8 cm. Ukuran bata ini lebih besar dari bata Majapahit, dan mirip dengan bata era Mpu Sindok abad ke-10. Di tengah candi ditemukan sumuran berukuran 2,34 x 2,34 meter—tempat menyimpan pripih, benda ritual untuk "menghidupkan" candi.
Temuan arca: Mahakala dan Nandiswara—penjaga pintu. Batu yoni. Fragmen arca Nandi. Fragmen arca Agastya. Dan yang paling penting: arca Brahma berwajah empat, dengan lembu/sapi sebagai kendaraannya.
Siwa-Brahma, Bukan Sekadar Siwa
Kehadiran arca Brahma berwajah empat mengubah pemahaman kita. Ini bukan candi Siwa biasa—ini bangunan suci Siwa-Brahma, pemujaan kepada dua aspek ketuhanan sekaligus.
Brahma adalah pencipta. Siwa—dalam aspek Ishana—adalah pemelihara dan pelebur. Bersama-sama, mereka melambangkan siklus kosmis.
Yoni yang ditemukan adalah simbol Śakti—kekuatan feminin, rahim tempat penciptaan terjadi. Garbha Ishana—rahim Ishana—menjadi rahim penciptaan yang mencakup Brahma di dalamnya.
Jika Mpu Sindok membangun Prasada Silunglung untuk memuliakan mertuanya, Rakryan Bawang, melalui Prasasti Cunggrang (929 M)—maka Sri Isyana Tunggawijaya, putrinya, bisa jadi membangun kamulan untuk ibunya.
Siapa yang Membangun?
Dari gaya arsitektur dan pertanggalan relatif, candi ini berasal dari abad ke-10 Masehi—era Mpu Sindok (929–947 M) hingga Sri Isyana Tunggawijaya (947–985 M). Keduanya memerintah dari Tamwlang (Tembelang) dan Watugaluh (Megaluh/Diwek), Jombang.
Dalam tradisi Wangsa Isyana, membangun kamulan—tempat pemujaan leluhur—adalah praktik lazim. Mpu Sindok sendiri membangun Prasada Silunglung untuk memuliakan mertuanya, Rakryan Bawang, melalui Prasasti Cunggrang (929 M). Maka Sri Isyana Tunggawijaya—putrinya—bisa jadi membangun kamulan untuk ibunya.
Kamulan Garbha Ishana adalah wujud bakti Sri Isyana Tunggawijaya pada Rakryan Parameswari Dyah Kbi—rahim pertama Wangsa Isyana.
Mbah Ijo: Penampakan Sri Isyana
Menurut Pak Jayadi, juru pelihara situs, Mbah Ijo bukan sosok lelaki. Ia adalah penampakan wanita cantik berpakaian serba hijau—diidentifikasi sebagai Sri Isyana Tunggawijaya.
Nama "Ijo"—hijau—selaras dengan makna kesuburan, pertumbuhan, dan rahim. Dalam konteks Garbha Ishana, penampakan wanita hijau ini bisa jadi jejak energi Sri Isyana yang masih menjaga kamulan ibunya.
Orientasi ke Penanggungan
Jika candi ini menghadap Gunung Penanggungan, maka orientasi spiritualnya jelas. Penanggungan adalah Mahameru—gunung suci tempat para dewa. Candi yang menghadap Penanggungan berarti orientasi ke atas: dari dunia manusia menuju dunia dewa.
Warisan yang Terlupakan
Hari ini, Candi Pandegong masih dikenal sebagai Punden Pandegong—makam Mbah Nambi dan Mbah Ijo. Warga datang ziarah, meminta izin sebelum hajatan, atau menghormati leluhur dusun. Tapi di bawah lapisan cerita rakyat itu, ada kamulan dari abad ke-10—saksi bisu kebesaran Wangsa Isyana.
Tidak ada prasasti yang menyebut nama aslinya. Yang tersisa hanyalah bata merah besar, sumuran, arca Mahakala, yoni, dan arca Brahma berwajah empat—bukti bahwa di Jombang, pernah berdiri rumah bagi rahim Wangsa Isyana.
Kamulan Garbha Ishana adalah nama konseptual untuk situs ini. Nama ini menyatukan semua yang kita tahu: fungsi (kamulan), arsitektur (garbha), dan keagamaan (Ishana-Brahma). Dan yang paling penting: bakti seorang putri pada ibunya, rahim pertama Wangsa Isyana. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar