Amertha Pavitra Medang (Sumber Pengantin): Patirtan Keputren Sri Isyana yang Dikelola Ki Walyan untuk Kesehatan dan Kecantikan Sang Ratu

Ilustrasi Patirtan Amertha Pavitra Medang di Sumber Pengantin, Jogoroto. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Di Dusun Bendungrejo, Desa Jogoroto, Kecamatan Jogoroto, Jombang, tersembunyi sebuah patirtan kuno. Warga menyebutnya Sumber Pengantin. Di bawah permukaannya, struktur bata merah terpendam—belum tergali sepenuhnya. Tapi dari jejak arkeologis dan pembacaan spiritual, patirtan ini punya nama sebenarnya: Amertha Pavitra Medang.

Patirtan Keputren Sri Isyana

Amertha Pavitra Medang bukan patirtan umum. Ia adalah patirtan keputren—tempat penyucian untuk lingkungan putri raja. Dan yang menggunakannya adalah Sri Isyana Tunggawijaya, putri Mpu Sindok dan Sri Parameswari Dyah Kbi.

Sri Isyana lahir di istana Medang Kamulan, yang berpusat di Watugaluh—wilayah yang kini menjadi bagian Jombang. Ia tumbuh sebagai putri yang sangking cantiknya—kecantikan yang bahkan menggetarkan alam gaib. Untuk menjaga kesehatan dan kecantikannya, ia memerlukan patirtan khusus—tempat penyucian yang dijaga, dirawat, dan dikelola secara ritual.

Di sinilah Amertha Pavitra Medang berperan. Ia bukan sekadar kolam. Ia adalah sarana perawatan tubuh dan jiwa bagi sang ratu.

Ki Walyan: Tabib yang Mengelola Patirtan

Patirtan itu tidak dikelola sembarangan. Ia dirawat oleh Ki Walyan—tabib era Medang yang memadukan kekuatan gaib dan pengetahuan herbal.

Walyan adalah profesi yang tercatat dalam Prasasti Sugihmanek (915 M) dan prasasti-prasasti era Mpu Sindok lainnya. Mereka bukan sekadar dukun atau tabib—mereka adalah peneliti bahan, peracik ramuan, dan penjaga pengetahuan obat-obatan yang diakui oleh kerajaan.

Ki Walyan bertugas:

• Menjaga kesehatan air—memastikan patirtan layak untuk penyucian
• Meracik ramuan—dari bahan seperti gelam, kayu putih, lotus, sulasih, tanjung, wadara, dan wungkudu
• Menjaga keseimbangan—membaca tanda alam, memperingatkan jika air berbahaya
• Menjadi perantara spiritual—mengetahui kapan harus memberi sesaji, kapan harus berdoa, kapan harus melarang

Dengan kata lain: Ki Walyan adalah penjaga patirtan keputren Sri Isyana. Ia yang tahu kapan air itu menyucikan, dan kapan air itu menelan.

Rahasia Kesehatan dan Kecantikan Sang Ratu

Sri Isyana bukan ratu biasa. Ia adalah putri mahkota yang kelak menjadi ratu penguasa pertama Jawa Timur. Kesehatannya bukan urusan pribadi—ia adalah urusan kerajaan.

Ki Walyan tidak hanya merawat tubuh Sri Isyana. Ia juga menjaga kecantikannya—karena kecantikan sang ratu adalah simbol kejayaan Medang. Kulit yang bersih, rambut yang berkilau, mata yang bening—semuanya adalah hasil perawatan di Amertha Pavitra Medang.

Ramuan yang diracik Ki Walyan bukan ramuan biasa. Ia adalah formula—hasil pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Ia mencampur bahan-bahan yang disebut dalam prasasti dengan doa dan mantra—karena di era Medang, pengobatan bersifat holistik: fisik, herbal, dan spiritual.

Keputren di Tengah: Untuk Perlindungan

Medang bukan keraton tunggal. Medang adalah kawasan besar yang mencakup seluruh Jombang—dengan pembagian zona yang lebih luas dari kompleks keraton Majapahit.

Keputren berada di tengah—di perbatasan Mojowarno dan Jogoroto. Mengapa? Untuk perlindungan. Putri raja adalah aset paling berharga. Ia harus berada di tempat yang terlindungi dari serangan luar—dan dekat dengan pusat pemerintahan di Diwek–Megaluh.

Jika pusat pemerintahan di utara dan militer di selatan, maka keputren di tengah berada di belakang pusat pemerintahan—terlindungi oleh pusat dan militer sekaligus.

Warisan yang Terlupakan

Hari ini, Amertha Pavitra Medang masih ada—tapi namanya telah berubah. Warga menyebutnya Sumber Pengantin, dari kisah sepasang pengantin yang tenggelam di pusaran air. Struktur bata merahnya terpendam. Patirtannya tidak lagi dijaga oleh Ki Walyan.

Dulu, patirtan ini disucikan—dikelola oleh tabib, dijaga oleh ritual, digunakan untuk kesehatan dan kecantikan sang ratu. Sekarang, ia dibuat sembarangan. Orang datang tanpa tata cara. Dan patirtan yang kehilangan penjaganya kehilangan keseimbangannya.

Kesimpulan

Amertha Pavitra Medang adalah nama sebenarnya. Ki Walyan adalah penjaganya. Sri Isyana Tunggawijaya adalah yang dijaga. Dan Jombang—tanah Watugaluh—adalah rumah bagi semuanya.

Bukan tempatnya yang berubah. Tapi cara kita memperlakukannya. (*)

Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia