Bedah Relief Arimbi, Part 3: Surya Majapahit Ternyata Tiruan? Relief Candi Arimbi Ungkap Asal-Usul Motif yang Diklaim Milik Majapahit

Relief Padma-Mandala di Candi Arimbi, Dusun Pulo, Desa Ngrimbi, Bareng. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Selama ini, relief lingkaran bersinar di Candi Arimbi disebut "Surya Majapahit". Label itu bukan hanya keliru secara ikonografis—ia membalik arah sejarah. Perbandingan anatomi menunjukkan Majapahit mengadopsi motif yang sudah ada di Arimbi, bukan sebaliknya.

Arimbi Bukan Majapahit: Fondasi Bata Merah

Penanggalan abad ke-14 yang dilekatkan pada Arimbi hanyalah penanggalan relatif—berdasarkan asosiasi arca Parwati, bukan inskripsi primer. Tidak ada satu pun prasasti di candi itu yang menyebut tahun, raja, atau dinasti. Yang justru ada adalah bukti material: di bawah susunan andesit, terdapat fondasi bata merah masif.

Bata merah masif adalah ciri era Medang-Kahuripan (abad ke-9–11). Bata Majapahit—seperti yang ditemukan di Trowulan—diproduksi lebih tipis, lebih presisi, dan dirancang untuk teknik gosok dinding. Bata di bawah Arimbi jauh lebih tebal dan lebih berat, seperti yang lazim dipakai sebagai fondasi penahan beban pada periode Medang. Keberadaan bata masif di tapak paling dasar menunjukkan dua fase konstruksi: situs ini berdiri sejak era Medang-Kahuripan, jauh sebelum struktur andesit di atasnya dipugar.

Anatomi Komparatif: Emblem vs. Bingkai

Surya Majapahit otentik adalah lambang negara. Ia berdiri sendiri, tanpa adegan naratif, sinarnya tajam dan kaku. Relief di Candi Arimbi berbeda total. Lingkaran bersinar di sana memuat figur manusia yang sedang beradegan. Ia bukan lambang otonom, melainkan Prabhamandala—halo kesucian yang menaungi adegan ritual. Perbedaan ini membedakan fungsi politik dari fungsi religius.

Kelopak Padma dan Siwa-Parwati

Di pojok-pojok luar bingkai terdapat struktur menyerupai kelopak teratai mekar—Padma-Mandala, ciri seni Kawi abad ke-10–11 untuk memuliakan situs kahyangan pegunungan.

Di dalamnya terpahat dua figur: pria duduk dan wanita menari di depannya. Pengamatan langsung penulis menunjukkan komposisi yang persis mengingatkan pada Parwati yang menghibur Siwa. Jika benar, relief ini bukan sekadar ornamen, melainkan adegan sakral yang menegaskan hubungan Siwa-Parwati di dalam takhta teratai. Dan itu konsisten dengan konteks candi: arcanya Parwati, dan candi ini dipersembahkan untuk Siwa-Parwati.

Jejak Medang-Isyana yang Diadopsi Majapahit

Lalu mengapa motif ini sering disebut "Surya Majapahit"? Di sinilah kekeliruan arus utama terjadi: ia mengabaikan kelanjutan budaya. Sebelum Majapahit berdiri, lereng Anjasmoro dan lembah Brantas sudah menjadi wilayah sakral pada masa Mpu Sindok, Anusapati, hingga Airlangga. Seni pahat era Medang-Isyana kaya akan Prabhamandala berbentuk teratai bersinar.

Majapahit tidak menciptakan motif matahari dari ruang kosong. Para senimannya mendaur ulang dan menyederhanakan Padma-Mandala kuno itu. Motif halo yang semula berfungsi sebagai bingkai adegan ritual suci, kemudian diubah menjadi geometri kaku untuk lambang kebesaran dinasti. Dengan kata lain: Surya Majapahit adalah penyederhanaan dari Padma-Mandala yang lebih tua. Bukan sebaliknya.

Kesimpulan

Fakta ikonografis, teologis, dan gaya seni pahat membuktikan bahwa relief bersinar di Candi Arimbi bukan "Surya Majapahit" dalam arti stempel politik kerajaan. Relief itu adalah Padma-Mandala gaya Medang-Isyana yang dipertahankan dan diaplikasikan pada Candi Arimbi. Di dalamnya terpahat adegan yang oleh penulis dibaca sebagai Siwa dan Parwati—penghuni sah takhta teratai.

Menyebutnya "Surya Majapahit" bukan hanya keliru. Itu membalik arah sejarah: menjadikan yang muda sebagai sumber, dan yang tua sebagai turunan.

Penulis: Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia