Fakta: Semua Peninggalan Medang Kamulan di Klaim Milik Majapahit di Penyimpanan Benda Purbakala Jombang!
JOMBANGASLI.COM — Di Gedung B kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang, Jalan Bupati R Soedirman, ada sebuah ruangan berukuran 6x7 meter. Di dalamnya tersimpan sekitar 60 benda purbakala—arca, keramik, bata kuno—yang menjadi saksi bisu peradaban tua Jombang.
Tempat itu bernama Galeri Cagar Budaya. Diresmikan pada 27 Januari 2022 oleh Bupati Mundjidah Wahab, galeri ini dibuka untuk umum secara gratis, Senin-Jumat pukul 07.00–15.00 WIB.
Tapi ada ironi besar di balik ruangan kecil itu.
Koleksi Medang di Museum "Majapahit"
Saat galeri ini diresmikan, judul berita Detikcom berbunyi: "Jombang Kini Punya Museum Peninggalan Kerajaan Majapahit." Murianews juga menulis hal serupa. Narasi yang dibangun sejak awal adalah: ini museum Majapahit.
Padahal, koleksi intinya justru berasal dari situs Medang—kerajaan yang lebih tua dari Majapahit.
Dari Situs Pandegong (Mojowarno), galeri ini menyimpan:
• Arca Mahakala—penjaga pintu candi Siwa
• Arca Nandiswara—penjaga pintu candi Siwa
• Fragmen arca kepala Brahma berwajah empat—bukti pemujaan Siwa-Brahma
Pandegong adalah candi abad ke-10 Masehi—era Medang Kamulan, bukan Majapahit.
Dari Situs Sumberbeji (Ngoro), tersimpan jaladwara—pancuran air berbentuk binatang. Sumberbeji adalah petirtaan era Airlangga—bukan Majapahit.
Pak Jayadi, juru kunci Candi Pandegong, menegaskan: "Pandegong itu Medang, bukan Majapahit. Bata merahnya lebih besar dari bata Majapahit. Arcanya juga khas abad ke-10."
"Pinjaman dari Trowulan"
Yang lebih telak: Disdikbud Jombang mengakui bahwa sebagian keramik kuno di galeri itu adalah "pinjaman dari PIM (Pusat Informasi Majapahit) Trowulan".
Artinya, sebagian koleksi yang dipamerkan bukan milik Jombang. Ia dipinjam dari Mojokerto—untuk memperkuat narasi "Majapahit" yang sebenarnya bukan milik Jombang.
Kenapa Ini Terjadi?
Jawabannya sederhana: Majapahit lebih dikenal, lebih "menjual", dan lebih mudah dijadikan branding.
Medang Kamulan—meskipun lebih tua, lebih berakar, dan lebih penting bagi sejarah Jawa Timur—belum punya narasi besar yang diakui secara luas. Akibatnya, galeri yang seharusnya menjadi rumah bagi Medang Kamulan justru meminjam nama Majapahit untuk menarik perhatian.
Ironinya: Jombang mengklaim Majapahit sebagai identitas, padahal peninggalan yang ia miliki justru dari Medang—kerajaan yang lebih tua dan jauh lebih berakar di Jombang.
Kata Kuncen Pandegong
Pak Jayadi, juru kunci Candi Pandegong yang telah merawat situs itu sejak 2017, menegaskan hal serupa. Menurutnya, sebagian besar peninggalan di Jombang adalah peninggalan Medang Kamulan—termasuk Candi Pandegong yang ia rawat.
Pak Jayadi juga menyebut bahwa lebih dari 20 punden yang ia temukan dan laporkan di Jombang—hampir semuanya mengandung candi, baik Siwa maupun Buddha—dan semuanya berasal dari era Medang, bukan Majapahit.
"Kenapa Trowulan bisa, Jombang tidak? Padahal lebih tua," ujarnya prihatin.
Yang Harus Dilakukan
1. Pisahkan narasi. Medang Kamulan adalah Medang Kamulan. Majapahit adalah Majapahit. Dua era berbeda, dua warisan berbeda. Jangan campur.
2. Bangun Museum Medang Kamulan. Bukan galeri kecil di kantor dinas, tapi museum yang layak—dengan koleksi terpusat, narasi besar, dan lokasi strategis.
3. Kembalikan benda pinjaman. Keramik dari Trowulan sebaiknya dipulangkan. Fokus pada koleksi asli Jombang—yang justru lebih tua dan lebih berharga.
4. Ubah narasi resmi. Galeri Cagar Budaya Jombang harus diubah namanya menjadi Museum Medang Kamulan—sesuai isi koleksinya yang sebenarnya.
Kesimpulan
Fakta: peninggalan Medang Kamulan di Jombang diklaim milik Majapahit di penyimpanan benda purbakala Jombang.
Ini bukan sekadar salah label. Ini adalah pengaburan identitas—dan Jombang adalah pihak yang paling dirugikan.
Jombang punya peninggalan Medang. Jombang punya sejarah yang lebih tua dari Majapahit. Saatnya Jombang berani mengakuinya. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar