Kuncen Pandegong: Leluhur Menyatu Dengan Alam, Penjarahan Situs adalah Perusakan Alam. Terima Kasih Polsek Bareng Mengawal Penelusuran.
JOMBANGASLI.COM — Malam itu, Kamis (1/10/2026), langit Mojowarno gelap tanpa bulan. Di bawah pepohonan besar Dusun Kwasen, Desa Menganto, sebuah bangunan kuno dari abad ke-10 berdiri dalam senyap. Candi Pandegong—atau yang oleh warga disebut Punden Pandegong. Di depannya, empat orang berdiri berjajar: Jayadi (Kuncen Pandegong), Aipda A.D. Sulisti Andik (Polsek Bareng), Ecko Tandava (Budayawan), dan Ki Ananta Prabhavasta (Spiritualis). Mereka datang untuk menelusuri jejak Medang Kamulan.
Penelusuran malam itu tidak biasa. Aipda Andik—yang akrab disapa Pak Andik—datang dengan sukarela. Ia tidak hanya mengantar, tetapi menunggu dan mengawal proses penelusuran hingga selesai. "Ini bentuk kepedulian kami terhadap sejarah Jombang," ujarnya singkat.
Leluhur dan Alam adalah Satu
Saat ditanya tentang kondisi situs, Pak Jayadi—juru kunci yang telah merawat Pandegong sejak 2017—menyampaikan sesuatu yang dalam:
"Leluhur menyatu dengan alam. Jadi leluhur dan alam adalah satu. Penjarahan situs adalah perusakan alam."
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Pak Jayadi telah puluhan tahun menelusuri jejak Medang Kamulan di Jombang. Ia telah menemukan dan melaporkan lebih dari 20 punden—hampir semuanya mengandung candi, baik Siwa maupun Buddha. Namun, tak satupun tersentuh ekskavasi.
Yang lebih memilukan: hampir semua punden itu mengalami penjarahan—bahkan penghancuran untuk keperluan tanam. Bata-bata kuno dibongkar, arca-arca hilang, dan situs-situs berubah menjadi lahan pertanian. "Ini bukan hanya menghilangkan sejarah. Ini merusak alam," tegas Pak Jayadi.
"Kenapa Trowulan bisa, Jombang tidak? Padahal lebih tua." — Pertanyaan Pak Jayadi yang menggugah, di tengah penelusuran malam.
Kenapa Trowulan Bisa, Jombang Tidak?
Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Medang Kamulan—yang berpusat di Tamwlang dan Watugaluh, Jombang—adalah cikal bakal peradaban Jawa Timur. Mpu Sindok memindahkan pusat Mataram Kuno ke Jombang pada 929 Masehi, jauh sebelum Majapahit berdiri di Trowulan.
Tapi hari ini, Trowulan punya museum megah, kawasan cagar budaya nasional, dan anggaran miliaran rupiah. Sementara Pandegong—yang lebih tua—hanya dijaga oleh seorang kuncen dengan penuh perjuangan.
Harapan pada Pemkab Jombang
Pak Jayadi dan Ecko Tandava menyampaikan harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Jombang. Mereka mendesak agar Pemkab lebih giat melakukan ekskavasi—tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif menggali situs-situs yang sudah ditemukan.
Lebih dari itu, mereka berharap Candi Pandegong dipugar dan difungsikan kembali sebagai rumah ibadah.
"Jangan hanya jadi punden yang diziarahi. Kalau dipugar dan difungsikan, energi spiritual leluhur akan kembali membasahi Nusantara Jombang," ujar Ecko Tandava.
Jika Pandegong dipugar menjadi candi utuh, ia bisa menjadi ikon Jombang—setara dengan Trowulan bagi Mojokerto. Sebuah penanda bahwa Jombang bukan sekadar "kota santri", tetapi juga pusat peradaban Medang Kamulan.
Terima Kasih Polsek Bareng
Di akhir penelusuran, Pak Jayadi menyampaikan terima kasih kepada Polsek Bareng—khususnya Aipda Andik—yang telah mengawal penelusuran malam itu.
"Terima kasih Polsek Bareng. Terima kasih Pak Andik. Semoga ini menjadi awal kepedulian kita semua terhadap warisan leluhur," ujarnya.
Penutup
Penelusuran malam itu bukan sekadar kunjungan. Ini adalah panggilan—bahwa Jombang punya warisan yang lebih tua dari Trowulan, tapi dibiarkan terlupakan. Astungkara Suksma untuk Pak Jayadi, Pak Andik, Ecko Tandava, dan semua yang masih peduli.
Leluhur menyatu dengan alam. Menjaga situs adalah menjaga alam. Dan menjaga alam adalah menjaga kehidupan. (*)
Penulis: Om Bin
📍 Baca Juga
- Kamulan Garbha Ishana (Candi Pandegong): Wujud Bakti Sri Isyana Tunggawijaya pada Ibunya, Rakryan Parameswari Dyah Kbi
- King Makutawangsawardhana: Genius Cultivator Jombang, Militer Kuat, Jawa-Bali Tunduk, Sriwijaya Tak Berani Menyentuh
- Pu Shri Sambhara Surya Warama Penulis Kitab Sang Hyang Kamahayanikan, Warisan Medang Kamulan Jombang yang Jadi Rujukan Dunia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar