Jawa dan Bali Tak Pernah Saling Serang di Era Medang, Keduanya Disatukan Oleh Cinta, Lokapala: Bangsawan Bali Pendamping Ratu Sri Isyana
JOMBANGASLI.COM — Dalam sejarah Nusantara, hubungan Jawa dan Bali sering dikenang lewat peperangan. Gajah Mada menaklukkan Bali pada 1343 M. Kertanegara menyerang Bali pada 1284 M. Tapi jauh sebelum itu—di era Medang Kamulan—Jawa dan Bali tidak pernah saling serang. Keduanya disatukan oleh sesuatu yang lebih kuat dari pedang: cinta.
Lokapala: Bangsawan Bali di Takhta Medang
Namanya Sri Lokapala. Ia adalah bangsawan dari Bali yang menikah dengan Sri Isyana Tunggawijaya, putri Mpu Sindok, pendiri Medang Kamulan di Jawa Timur. Prasasti Pucangan mencatatnya sebagai "a nobleman from neighboring Bali island"—bangsawan dari pulau Bali yang bertetangga.
Sebelum menikah, Lokapala bukan raja. Ia hanya bangsawan. Tapi setelah menikah dengan Sri Isyana—yang naik takhta menggantikan ayahnya pada sekitar 947 M—Lokapala memerintah bersama istrinya sebagai raja Medang.
Inilah yang membuat era Medang berbeda: tidak ada penaklukan, tidak ada peperangan, tidak ada armada yang dikirim untuk menundukkan Bali. Yang ada adalah pernikahan politik yang sakral—penyatuan dua garis darah, Jawa dan Bali, dalam satu takhta.
Disatukan oleh Cinta, Bukan Perang
Sri Isyana Tunggawijaya adalah ratu pertama Medang yang memerintah dengan otoritas penuh. Ia memilih Sri Lokapala—bangsawan dari Bali—sebagai pendamping. Bukan karena Bali ditaklukkan, bukan karena Bali membayar upeti, tapi karena ikatan pernikahan yang mengikat dua wilayah.
Tidak ada prasasti yang mencatat serangan Medang ke Bali. Tidak ada naskah yang menyebut peperangan antara Jawa dan Bali di era ini. Yang ada adalah Prasasti Bebetin di Bali (989 Saka) yang menyebut Narotama—guru Udayana—sebagai tokoh yang menjembatani Jawa dan Bali, bukan sebagai penakluk.
Pernikahan Sri Isyana dan Lokapala adalah pintu masuk darah Bali ke dalam takhta Medang. Dari pernikahan ini lahir garis raja-raja yang kelak memerintah Jawa Timur—termasuk Airlangga, yang menyatukan kembali Medang dan mendirikan Kahuripan.
Dari Cinta Ini, Lahir Raja-Raja Besar
Pernikahan Lokapala dan Sri Isyana bukan sekadar peristiwa politik. Dari rahim Sri Isyana lahir Sri Makutawangsawardhana, yang kemudian menurunkan Mahendradatta—ibu dari Airlangga.
Mahendradatta sendiri menikah dengan Udayana Warmadewa dari Bali. Dari pernikahan itu lahir Airlangga, raja yang menyatukan kembali Medang dan mendirikan Kahuripan. Darah Jawa dan Bali mengalir dalam nadinya—hasil dari pernikahan Lokapala dan Sri Isyana yang terjadi satu abad sebelumnya.
Kontras dengan Era Majapahit
Era Medang menyatukan Jawa dan Bali dengan cinta. Era Majapahit menyatukannya dengan perang.
Pada 1284 M, Kertanegara dari Singasari menyerang Bali dan menawan rajanya. Pada 1343 M, Gajah Mada menaklukkan Bali melalui ekspedisi militer besar-besaran, menghancurkan Kerajaan Bedahulu, dan menginstal dinasti baru dari Jawa.
Tapi Medang tidak perlu melakukan itu. Lokapala sudah ada di takhta. Tidak perlu menaklukkan, karena Bali sudah menjadi bagian dari keluarga.
Warisan Lokapala
Hari ini, nama Lokapala nyaris tidak disebut dalam pelajaran sejarah. Tidak ada monumen, tidak ada jalan, tidak ada prasasti yang dipahatkan atas namanya sendiri. Yang tersisa hanyalah penyebutan dalam Prasasti Pucangan—sebagai bangsawan Bali yang menjadi raja Medang.
Padahal, dari pernikahannya dengan Sri Isyana, lahir garis raja-raja Jawa Timur. Dari darahnya, mengalir darah Bali ke dalam takhta Airlangga. Dan dari cinta mereka, tercipta penyatuan yang tidak pernah retak oleh perang.
Kesimpulan
Jawa dan Bali tak pernah saling serang di era Medang. Keduanya disatukan oleh cinta—oleh pernikahan Lokapala, bangsawan Bali, dengan Ratu Sri Isyana Tunggawijaya, putri Mpu Sindok.
Ini bukan sekadar pernikahan politik. Ini adalah pernyataan bahwa penyatuan tidak selalu butuh pedang. Kadang, yang dibutuhkan hanya keberanian untuk menikahkan dua dunia—dan membiarkan cinta bekerja.
Dari Jombang, dari Medang Kamulan, dari rahim Sri Isyana Tunggawijaya—Jawa dan Bali pernah bersatu tanpa perang. (*)
Penulis: Ki Ananta Prabhavasta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar