Krisis Wisata Jombang: Anjasmoro Sudah Pengap, Pohon Dijarah, Otoritas Hutan Ompong, Media Memilih Diam!
JOMBANGASLI.COM — Wonosalam tidak lagi sejuk. Anjasmoro sudah pengap. Penyebabnya bukan cuaca, tapi pohon-pohonnya hilang, dijarah, dan otoritas hutan tidak mampu menghentikannya.
27 Sengon di Sumberejo: Bukan Pencurian, Tapi Perusakan
April 2026. Perhutani KPH Jombang menemukan 27 tunggak pohon sengon di RPH Sumberejo, BKPH Jabung, Wonosalam. Kayunya masih di lokasi, belum sempat diangkut. Administratur KPH Jombang, Enny Handhayani, menyebut temuan itu "lebih mengarah pada perusakan hutan atau penebangan liar, bukan pencurian".
Motifnya? Bukan mengambil kayu. Tapi membuka lahan pertanian ilegal. Pohon ditebang agar lahan bisa ditanami. Ini penggundulan terencana.
188 Pohon di Alas Gedangan: Pelaku Kabur ke Jurang
Mei 2026. Petugas menggerebek pembalakan liar di Petak 38K dan 38D, RPH Kedunglumpang, Mojoagung. Sekitar 188 pohon jati, sono, walikukun, dan kemloko ditemukan tertebang. Kerugian ditaksir Rp102,3 juta.
Sembilan pelaku melarikan diri ke jurang sedalam 30 meter. Sembilan sepeda motor ditinggal. Petugas tidak bisa mengejar karena medan terlalu berbahaya. Pelaku mengenal jalur tikus. Mereka datang terencana, pergi tanpa jejak.
Yang lebih mengganggu: kawasan itu adalah zona penyangga aliran sungai. Ketika pohon hilang, bukan hanya Wonosalam yang kepanasan—air juga kehilangan penahannya.
Eskavator di Petak 24: Alat Berat, Tebu, dan Pungutan Rp1 Juta
Mei 2026. Sebuah ekskavator milik pengusaha bernama Dwi beroperasi di kawasan hutan Alas Gedangan, Petak 24. Aktivitasnya: membuka jalan menuju lahan tebu. Seorang sumber menyebut setiap pesanggem diminta membayar Rp1 juta per hektar.
Perhutani mengaku tidak tahu. Setelah dikonfirmasi, Enny mengatakan pemilik alat berat mengklaim aktivitas itu "permintaan masyarakat yang punya lahan tebu". Polisi memberikan teguran keras dan memaksa ekskavator keluar. Tapi bagaimana alat berat sebesar itu bisa masuk tanpa diketahui? Siapa yang membuka jalan?
📍 Baca Juga
Anjasmoro yang Semakin Pengap
Data akademik mengonfirmasi. Penelitian tahun 2025 menemukan bahwa lahan tegalan dan lahan yang dialihfungsikan memiliki laju erosi tertinggi, sementara hutan memiliki laju terendah. Erosi di Wonosalam bisa mencapai 834,49 ton/ha/tahun.
Yang lebih telanjang: luas hutan negara di Desa Wonosalam menyusut dari 852,4 hektare pada 2013 menjadi 107 hektare pada 2023. Dalam sepuluh tahun, hutan negara tinggal sekitar 12,5 persen. Sisanya berubah menjadi lahan pertanian, permukiman, dan tegalan.
Erosi meningkat. Longsor datang. Dan udara yang dulu sejuk berubah menjadi pengap.
Otoritas Hutan Ompong
Perhutani mengungkap kasus. Polisi menyelidiki. Tapi semuanya terjadi setelah pohon tumbang. Tidak ada yang mencegah sebelum 27 sengon ditebang. Tidak ada yang menghentikan ekskavator sebelum masuk. Tidak ada yang menangkap pelaku sebelum mereka kabur ke jurang.
Enny sendiri mengakui bahwa akses menuju lokasi hutan yang tertutup "biasanya diketahui oleh pihak-pihak tertentu, termasuk kemungkinan oknum anggota LMDH". Tapi itu masih sebatas dugaan. Tidak ada yang ditindak.
Media Memilih Diam
Enam tahun lalu, tujuh beringin di Situs Gunung Kuncung tinggal tiga. Hanya Majapost yang memberitakan. Media lain sibuk dengan berita positif. Isu itu tenggelam, tidak pernah selesai, tidak pernah diusut.
Pola itu berulang. Kasus-kasus terbaru diungkap Perhutani dan dilaporkan media. Tapi berapa lama isu ini akan hidup? Berapa lama sebelum tenggelam oleh rilis tentang Jombang Fest dan "ribuan warga hadir"?
Selama media memilih diam, dan otoritas hutan hanya bergerak setelah kerusakan terjadi, Anjasmoro akan terus pengap. Wonosalam akan terus kehilangan kesejukannya. Dan pariwisata Jombang akan terus kehilangan alasan untuk dikunjungi.
Tidak ada yang bisa dijual dari gunung yang gundul. Tidak ada yang bisa dinikmati dari udara yang pengap.
Reporter: Om Bin
Sumber: Observasi Lapangan & Data Perhutani KPH Jombang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar