Krisis Wisata Jombang: Traffic Kembang Kempis, Asosiasi Miskin Ide, Event Pemkab Minim Kunjungan Luar Daerah
JOMBANGASLI.COM — Ada satu momen ketika lalu lintas wisata Jombang benar-benar bergerak: Jombang Bersholawat bersama Gus Iqdam. Malam itu kota ini jadi tujuan. Tapi hanya malam itu. Keesokan harinya, Jombang kembali jadi tempat yang dilewati, bukan dituju.
Traffic yang Tidak Pernah Naik Kelas
Data 2024 mencatat 2.511.944 kunjungan wisatawan domestik. Angka besar di atas kertas. Tapi berapa yang datang dari luar daerah, menginap, dan membelanjakan uang di Jombang? Tidak ada jawaban.
Jombang Fest 2026 digelar hampir sebulan. Pembukaannya diklaim "dipadati ribuan warga". Tapi tidak ada angka resmi berapa pengunjung luar Jombang, berapa yang menginap, atau berapa perputaran uangnya. Klaim "ribuan warga" cukup untuk laporan seremonial, tapi tidak untuk mengukur apakah event ini magnet regional—atau pesta kampung.
Bandingkan Jember Fashion Carnaval 2025: 557.509 wisnus, 106 UMKM, 2.643 pekerja seni, perputaran Rp60,21 miliar. JFC bukan karnaval; ia industri terukur.
Asosiasi yang Sibuk Mengkritik, Minim Karya
ASPARJO cukup vokal. Mereka meminta pengesahan Ripparkab ditunda, menyampaikan tujuh catatan kritis, ikut pelatihan digital marketing, dan meluncurkan Jeep Wonosalam Adventure Januari 2026.
Tapi di mana produk yang menggerakkan kunjungan luar daerah? Jeep Wonosalam tarifnya Rp100 ribu per orang, menyasar individu dan keluarga kecil. Bukan magnet regional. ASPARJO bergerak di wacana dan program kecil. Kritik jalan, inovasi mandek.
📍 Baca Juga
Wonosalam dan Durian yang Pergi Sebelum Festival
Wonosalam terlalu sukses sebagai "kampung durian". Di luar musim durian, wisatawan tak punya alasan datang. Ketika musim tiba, KenDuren 2026 justru ditiadakan. Alasannya resmi: panen gagal.
Tapi di kebun, buah tetap ada—sudah berjanji pada pembeli luar kota sebelum panitia menyiapkan panggung. Penelitian akademik mengungkap pedagang pengumpul menguasai 77,84 persen pangsa pasar durian, petani hanya 2,90 persen. Buah mengalir ke Gresik dan Sidoarjo. Yang gagal bukan panennya, tapi sistem yang seharusnya menahan buah di Jombang.
Selama bertahun-tahun durian dijual segar, tanpa hilirisasi. Biji dan kulit jadi limbah. Baru 2026 ada inisiatif kecil mahasiswa KKN mengolah biji durian jadi tepung. Mikro, bukan industri.
Event Tanpa Industri
Jombang Fest 2026 bertema "Jombang Berbudaya, Bersama Berkarya, Jombang Berdaya". Bupati berharap festival ini "tidak berhenti sebagai agenda seremonial". Harapan mulia, tapi harapan tanpa sistem adalah retorika.
JFC berjalan lebih dari dua dekade, masuk Karisma Event Nusantara enam tahun berturut-turut, dikelola dengan kurasi ketat. Jombang Fest dikelola kepanitiaan musiman yang bubar setelah acara. Tidak ada yayasan, tidak ada kurator tetap, tidak ada indikator dampak ekonomi.
Selama event hanya dirancang ramai di panggung, bukan mendatangkan orang luar dan menahan mereka lebih lama, traffic akan tetap kembang kempis. Jombang butuh industri event sepanjang tahun, bukan kepanitiaan sebulan. Dan yang lebih mendasar: hilirisasi yang menahan hasil bumi di kampung sendiri.
Ironinya, anggaran event terus digelontorkan tanpa evaluasi dampak. Setiap tahun panggung dibangun, setiap tahun pula tidak ada laporan berapa wisatawan luar daerah yang benar-benar datang, menginap, dan berbelanja. Selama ukuran keberhasilan masih "ribuan warga hadir", bukan "berapa yang datang dari luar dan berapa yang kembali", event hanya akan menjadi rutinitas anggaran—bukan instrumen pariwisata.
Malam ketika Gus Iqdam berdiri di Alun-Alun, Jombang sejenak jadi pusat. Pagi berikutnya, sunyi lagi. Selama tidak ada yang berubah, pagi-pagi berikutnya akan selalu terasa sama.
Reporter: Om Bin
Sumber: Observasi Lapangan & Data Disporapar Jombang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar