Membedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi), Part 2: Cara Memperoleh Kemakmuran Ala Leluhur Medang Kamulan

Relief ritual bumi di Candi Arimbi, Dusun Pulo, Desa Ngrimbi, Bareng. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Fondasi bata merah di bawah struktur andesit Candi Arimbi bukan detail kecil. Bata merah masif adalah ciri era Medang. Dan di atas fondasi tua itulah, pada panil relief bejana (kumbha), leluhur memahat ajaran tentang bagaimana manusia memperoleh kemakmuran—bukan melalui kekuasaan, tetapi melalui hubungan yang benar dengan bumi.

Anatomi Relief Bejana: Suami-Istri dalam Ritual Bumi

Relief ini menyusun tiga komponen yang saling mengikat. Pertama, wadah utama berupa tempayan cembung berdinding tebal yang terpahat kokoh di tengah panil. Kedua, di atas bejana muncul dua tonjolan kepala manusia—sepasang suami-istri yang sedang melakukan ritual bumi. Ketiga, bingkai vegetasi: seluruh objek dilingkupi dan dinaungi rapat oleh sulur dedaunan lebat yang melengkung dari samping hingga memayungi bagian atas.

Kehadiran sepasang suami-istri itu penting. Relief ini bukan sekadar simbol bejana dan beringin. Ia adalah adegan ritual yang lengkap: manusia, wadah suci, air, dan alam yang merayakan kehidupan.

Bejana sebagai Rahim Bumi

Leluhur meyakini bahwa janin menerima nutrisi otomatis dari ibu tanpa perlu berusaha. Pemotongan tali pusat menandai terputusnya alur rezeki fisik itu. Untuk menjembatani keterputusan, bejana tanah liat difungsikan sebagai rahim Ibu Bumi. Air yang diisikan ke dalamnya melambangkan air ketuban dan nutrisi kosmis yang menggantikan peran ibu kandung.

Dari kerangka inilah lahir Upacara Saṃskāra Garbha Pṛthivī—upacara penyucian rahim bumi. Leluhur melakukan ritual mandi atau re-imersi di dalam bejana, memusatkan pikiran untuk menyambungkan kembali plasenta (ari-ari) secara simbolis kepada Ibu Bumi. Dengan penyambungan spiritual itu, berkah kelimpahan dan rezeki diyakini terus mengalir langsung dari alam kepada manusia.

Inilah jawaban leluhur: manusia makmur bukan dengan menaklukkan alam, melainkan dengan menyambung kembali diri kepada bumi yang merawatnya.

Beringin: Jantung Ibu Bumi

Bingkai sulur dedaunan yang memayungi bejana adalah manifestasi pohon beringin. Bayi yang baru lahir menemukan rasa aman saat didekap ibunya karena mengenali detak jantung yang memompa darah kehidupan. Sebagaimana jantung manusia memompa darah, beringin adalah jantung Ibu Bumi. Akarnya yang masif menghisap, mengikat air hujan, dan memompanya kembali ke permukaan melalui mata air. Air itulah yang menjadi "darah" penyubur tanah Anjasmoro.

Itulah kenapa beringin sangat disakralkan. Ia bukan hanya pohon; ia adalah media komunikasi dengan Ibu Bumi. Sesaji diletakkan di bawah atau di dekat beringin, bukan untuk menyembah pohon, melainkan untuk menyampaikan doa, permohonan, dan rasa syukur kepada bumi yang merawat kehidupan. Dalam kosmologi leluhur, beringin adalah saluran—tempat manusia berbicara kepada bumi, dan bumi menjawab melalui air yang mengalir dari akarnya.

Ketika Jantung Itu Dijarah: Bukti dari Gunung Kuncung

Ajaran ini bukan mitologi tanpa konsekuensi. Di Situs Gunung Kuncung, beringin yang dulu menjaga kawasan telah dijarah. Dari tujuh beringin besar, kini tersisa tiga. Sejak itu, warga merasakan akibatnya: gagal panen, kualitas udara memburuk, serta debit dan kualitas air jauh berkurang.

Ini bukan kebetulan. Beringin penahan air dan penjaga ekosistem. Ketika ditebang, mata air kehilangan penopangnya. Ketika mata air melemah, pertanian gagal. Apa yang dipahat leluhur di relief Candi Arimbi bukan sekadar tafsir simbolik—ia adalah hukum ekologis yang kini terbukti di lapangan.

Leluhur Medang Kamulan sudah memberi resep kemakmuran: sambungkan diri pada bumi, jaga jantungnya, jangan tebang beringin. Hari ini, resep itu diabaikan. Dan kemakmuran yang dulu mengalir dari mata air Anjasmoro kini mengering bersama pohon-pohon yang ditebang.

Penulis: Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia