Krisis Wisata Jombang: Puluhan Wisata Pop-Up Cuma Jadi Bahan Viral Lalu Mangkrak
JOMBANGASLI.COM — Jombang punya kebiasaan aneh: membangun destinasi untuk viral, lalu meninggalkannya. Sepuluh nama dari observasi lapangan—Kalimarno, Batu Pelangi, Bukit Pecaringan, Lokajaya Watu Gudik, Bukit Pinus, Wonosalam Trade Center, Taman Kehati, Banyumili, Kampung Jawi, dan Taman Ponggok—adalah potret kecil dari pola besar. Sebagian pernah ramai di media sosial, kini tinggal bangunan lapuk dan papan pudar.
Viral sebagai Model Bisnis
Wisata pop-up lahir dari logika sama: bangun spot foto, unggah, tunggu pengunjung. Tanpa kajian kelayakan, tanpa rencana perawatan, tanpa model bisnis. Saat tren surut, tinggal struktur lapuk dan pengelola kehabisan dana.
Bukit Pecaringan contoh telanjang. Dibangun dana desa dan hibah kampus, lengkap dengan kolam, gazebo, aula. Kunjungan hanya 147 (2020), 281 (2021), 210 (2022), 230 (2023). Kini rusak karena tak ada pemeliharaan setelah hibah berhenti.
Bukan Hanya di Wonosalam
Kedung Cinet di Plandaan fenomenal sekitar 2015. Ribuan orang berfoto di ngarai "Grand Canyon Mini". Namun tujuh kematian tercatat hingga 2019, dan Perhutani menutup permanen 2020. Kini gapura bertuliskan "Ditutup", warung usang, rumput liar.
Taman Tirta Wisata Keplaksari mati suri. Waterboom dan water slide terkunci, kolam keruh, lapangan tenis ditumbuhi rumput. PAD hanya Rp7 juta per tahun, sementara 12 petugas harus digaji. Dokumen Ipro sudah ada, investor serius belum datang.
📍 Baca Juga
Pujasera Kebonrojo di Wonosalam juga lapak kosong, pedagang enggan masuk.
Taman Ponggok di Banjarsari statusnya kontroversial. Satu platform ulasan menandai "tutup permanen", panduan wisata 2024–2026 masih mencantumkan buka normal. Ketidakjelasan ini ciri khas tata kelola wisata Jombang.
Aset Dibangun Tanpa Pemilik
Hampir semua kasus berakar sama: destinasi dibangun sebagai proyek, bukan layanan. Proyek selesai saat peresmian. Layanan baru dimulai setelahnya—dan di situ pemerintah absen. Tak ada anggaran perawatan, pelatihan, standar keselamatan, atau pemasaran berkelanjutan.
Bukit Pinus pernah ditutup karena izin KPH, dibuka lagi 2019. Taman Kehati belum punya kejelasan bagi hasil DLH dan Perumda. Wonosalam Trade Center, Banyumili, Kampung Jawi, Lokajaya Watu Gudik, Batu Pelangi, dan Kalimarno melengkapi daftar.
Bukan Sekadar Masalah Promosi
Narasi "kurang promosi" sering dilempar. Padahal banyak tempat ini pernah viral. Masalahnya keberlanjutan. Pengunjung datang, toilet kotor, wahana rusak, tak kembali. Wisata pop-up hanya menghasilkan foto—bukan kunjungan ulang, pendapatan, atau lapangan kerja.
PAD pariwisata 2024 hanya Rp845 juta, turun dari Rp1,006 miliar (2023). Tersedot operasional dan event seremonial, bukan perawatan aset. Aset tak dirawat kehilangan nilai, investasi enggan masuk.
Belajar dari Kegagalan Sendiri
Jombang tak kekurangan lokasi. Wonosalam punya udara sejuk, kopi, durian. Jombang utara punya ngarai kapur yang pernah memikat. Yang kurang: kemauan berhenti membangun demi viral dan mulai mengelola demi keberlanjutan. Sepuluh destinasi mati suri—ditambah Kedung Cinet dan Tirta Wisata—cukup jadi pelajaran.
Ironinya, anggaran untuk merawat yang sudah ada sering dianggap beban, sementara anggaran untuk membangun yang baru selalu dicari. Padahal satu destinasi yang dikelola serius bisa bertahan puluhan tahun, sementara sepuluh destinasi yang dibiarkan akan habis dalam hitungan musim. Pemerintah daerah perlu berhenti mengukur keberhasilan dari jumlah peresmian, dan mulai mengukurnya dari jumlah kunjungan ulang.
Selama pola lama dipertahankan, daftar ini terus bertambah. Destinasi berikutnya mungkin sedang viral hari ini, menunggu giliran mangkrak. Namun jika warga dan pemerintah mulai serius merawat yang ada, bukan tidak mungkin Jombang berhenti kehilangan destinasi—dan mulai membangun yang bertahan.
Reporter: Om Bin
Sumber: Observasi Lapangan & Data Disporapar Jombang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar