Membedah Relief Girindra Prasada (Candi Arimbi) Part 1: Relief Binatang Penjaga Hutan, Wonodyakso

Relief Wonodyakso di Candi Arimbi, Dusun Pulo, Desa Ngrimbi, Bareng. (Foto: Istimewa)

JOMBANGASLI.COM — Candi Arimbi di Dusun Pulo, Desa Ngrimbi, Bareng, selama ini dilabeli sebagai pendharmaan Majapahit abad ke-14. Label itu datang dari penanggalan relatif—bukan dari prasasti di candi itu sendiri. Dan ketika kita melihat langsung relief-relief di kakinya, label itu mulai goyah.

Di sepanjang kaki Candi Arimbi, relief cerita fabel (Tantri) dipisahkan oleh puluhan panil pilar penyekat (pilaster). Panil-panil ini diukir dengan sosok makhluk mitologi hibrida, dan justru keanehan itulah yang membuatnya penting.

Wonodyakso: Katalog Fauna Anjasmoro

Sosok dalam panil-panil itu oleh sebagian kalangan disebut Wonodyakso (Wana Yaksha)—daya spiritual penjaga hutan liar. Tapi lihatlah organ-organnya satu per satu. Ini bukan makhluk acak. Ini gabungan dari satwa-satwa yang benar-benar hidup di lereng Anjasmoro:

Wajah: raut muka anjing hutan atau kikik. Telinga: panjang, seperti kelinci atau srigala. Kepala: memiliki cula sekaligus tanduk—kombinasi yang tidak dimiliki satu binatang pun di dunia nyata. Kaki dan badan: kekar seperti kerbau atau banteng. Ekor: bulu panjang melengkung memutar ke atas, khas ayam alas atau ayam jago, dengan tebal di ujung-ujungnya yang menyerupai siluet mendung.

Fauna Nyata di Panil Lain

Di luar panil Wonodyakso, terdapat panil-panil terpisah yang menggambarkan fauna nyata secara utuh. Yang paling jelas: gajah dan sapi. Namun jika kita membaca konteks permukiman dan hutan di sekitar Anjasmoro, kemungkinan besar relief itu juga merekam hewan-hewan lain yang hidup di dua alam berbeda: kambing, sebagai fauna domestik yang akrab dengan pemukiman dan ladang warga; serta beruk atau sejenis monyet, sebagai penghuni hutan yang hidup di pepohonan lereng gunung.

Jika benar, maka relief Arimbi bukan sekadar mitologi. Ia adalah inventarisasi satwa—sebuah katalog ekologis yang memetakan dunia manusia (kambing, sapi), dunia liar (gajah, beruk, anjing hutan, ayam alas), dan entitas spiritual yang menjembatani keduanya (Wonodyakso).

Bingkai Dedaunan: Penanda Ruang Hutan

Ada satu detail yang sering luput: hampir semua panil relief dibingkai oleh motif dedaunan (framed foliate patterns). Dalam bahasa visual Jawa Kuno, bingkai semacam ini bukan hiasan pinggiran. Ia adalah penanda ruang—penanda bahwa cerita yang dipahat terjadi di alam terbuka, di dalam hutan, bukan di istana atau kahyangan.

Jika relief ini hendak menceritakan kehidupan istana atau pendharmaan seorang ratu, bingkai yang dipilih biasanya adalah motif geometris, awan, atau arsitektur. Di Arimbi, yang dipilih justru dedaunan.

Bukan Penjaga Istana, Tapi Penjaga Hutan

Kehadiran Wonodyakso sebagai penyekat narasi relief—bukan sebagai tokoh utama—menunjukkan bahwa Candi Arimbi dipahat sebagai bentuk penghormatan terhadap hutan Anjasmoro. Relief Tantri yang menceritakan fabel binatang, dipisahkan oleh penjaga hutan mitologis, dan dibingkai oleh dedaunan, membentuk satu pesan utuh: cerita ini adalah kehidupan di alas Anjasmoro.

Ini tidak lazim. Candi-candi yang dibangun sebagai propaganda dinasti biasanya menampilkan dewa, raja, atau adegan epik. Di Arimbi, yang tampil justru makhluk hutan, binatang, dan sulur-suluran. Bahasa visualnya bukan bahasa istana. Bahasa visualnya adalah bahasa pegunungan.

Pertanyaan yang Belum Dijawab

Jika Candi Arimbi memang dibangun pada abad ke-14 sebagai pendharmaan seorang ratu Majapahit, mengapa ikonografinya didominasi oleh makhluk penjaga hutan, bukan oleh simbol-simbol kerajaan? Mengapa relief Tantri—yang lebih tua dan lebih populer di era sebelumnya—menjadi narasi utama? Dan mengapa bingkainya dedaunan, bukan simbol istana?

Ini pertanyaan yang menuntut pembacaan ulang terhadap situs itu sendiri.

Bersambung ke Part 2: Fondasi Bata Merah di Bawah Andesit.

Penulis: Ananta Prabhavasta

Informasi dan berita terkini seputar Jombang dan sekitarnya : jombangasli.com

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

📰 ARSIP ARTIKEL

JOMBANGASLI.COM — Media Asli Jombang Mencerahkan

    DIrgahayu Korem
    Logo PT INews Global Indonesia